Suatu hari Zaenal (sebut saja begitu) disuruh Kiainya untuk mengantarkannya mengikuti sebuah acara di suatu daerah, sebut saja daerah A. Kebetulan Zaenal ini tipe santri yang mempunyai kemampuan bisa menyetir mobil. Zaenal dan sang Kiai pun berangkat. Dan akhirnya sampai juga di tempat acara. Setelah sang Kiai menyelesaikan urusannya, beliau pun mengajak Zaenal pulang. Namun dari sini ada yang sesuatu yang aneh. Ketika keduanya sudah memasuki mobil dan mulai berangkat, tiba-tiba, di tengah jalan sang Kiai berkata, “nanti jalannya ikut saya saja ya?”. Jika diperluas, maksudnya begini, “Tidak usah lewat jalan yang tadi kita lewati saat berangkat. Lewat jalan versi saya saja ya”. Sebagai seorang abdi ndalem , Zaenal hanya bisa mengiyakan saja. Setelah mendengar dawuh seperti itu, awalnya Zaenal tak merasakan apa-apa. Namun, setelah beberapa saat, ia mulai merasakan sebuah keanehan. Jalan yang sedang ia lalui sepi sekali. Banyak pepohonan di kanan kirinya. Seperti layaknya hutan. Ja...
Sering Serius, Kadang Tidak