Suatu hari Zaenal (sebut saja
begitu) disuruh Kiainya untuk mengantarkannya mengikuti sebuah acara di suatu
daerah, sebut saja daerah A. Kebetulan Zaenal ini tipe santri yang mempunyai kemampuan
bisa menyetir mobil.
Zaenal dan sang Kiai pun
berangkat. Dan akhirnya sampai juga di tempat acara. Setelah sang Kiai
menyelesaikan urusannya, beliau pun mengajak Zaenal pulang. Namun dari sini ada
yang sesuatu yang aneh. Ketika keduanya sudah memasuki mobil dan mulai
berangkat, tiba-tiba, di tengah jalan sang Kiai berkata, “nanti jalannya ikut
saya saja ya?”. Jika diperluas, maksudnya begini, “Tidak usah lewat jalan yang
tadi kita lewati saat berangkat. Lewat jalan versi saya saja ya”. Sebagai
seorang abdi ndalem, Zaenal hanya bisa mengiyakan saja.
Setelah mendengar dawuh seperti
itu, awalnya Zaenal tak merasakan apa-apa. Namun, setelah beberapa saat, ia mulai
merasakan sebuah keanehan. Jalan yang sedang ia lalui sepi sekali. Banyak
pepohonan di kanan kirinya. Seperti layaknya hutan. Jalannya lurus. Dan hanya
mobil yang ditumpanginya bersama sang Kiai lah yang melaluinya. Tak ada
kendaraan lain. Akhirnya, karena menjadi satu-satunya pengguna jalan, Zaenal pun
bebas mengekspresikan gaya mengemudinya. Ia tancap gas secepat-cepatnya.
Hingga akhirnya, secara
mengejutkan sang Kiai mengingatkan Zaenal, “He kang, mau kemana (kok lurus
saja), ini lho sudah sampai pertigaan dekat pesantren”.
“Deg” yang dirasakan Zaenal. Ia
seperti bangun dari mimpi. Linglung. Tadi jalan yang begitu lurus dan sepi,
tiba-tiba ramai seperti jalan-jalan biasanya. Ia mulai menyadarkan diri. Mulai
meyakinkan dirinya apakah itu benar-benar jalan pertigaan dekat pesantrennya. Ya,
memang benar, itu jalan dekat pesantren. Seketika itu pula, ia langsung
membelokkan mobilnya.
Dan suatu keanehan dirasakan Zaenal
lagi ketika ia melihat jam tangan yang ada dipakainya. Mengapa? Karena ia
merasakan waktu yang dilewatinya cepat sekali. Tak seperti biasanya. Bila lewat
jalan biasa, bisa menghabiskan waktu 7 jam, saat itu tidak. Hanya butuh waktu 4
jam. Hampir setengah waktu normalnya.
Hati Zaenal mulai tak tenang.
Bingung. Dan selalu diliputi pertanyaan, “tadi lewat jalan mana ya? Kok sepi
sekali. Tak ada mobil lain selain mobil yang saya dan Kiai tumpangi. Mengapa
bisa datang lebih cepat dari biasanya?” Pertanyaan itulah yang selalu mengganggu
Zaenal. Hingga akhirnya, ia dan sang Kiai pun sampai juga di pesantren.
Mulai kejadian itu, ia tak lagi
bersedia jika dimintai untuk mengantarkan sang Kiai tindakan (bepergian).
Bukan karena tak hormat. Menurutnya, ini bukan masalah hormat atau tidak.
Ta’dlim atau tidak. Ini masalah ketakjupannya pada Kiainya yang ternyata sangat
karismatik. Mempunyai karomah yang besar. Dan mulai saat itu, ia mulai yakin
bahwa Kiainya adalah Kiai yang “hebat”. Kok bisa ya?.
Banyuwangi, 24 Juli 2014. Pukul 08.53
WIB
Komentar
Posting Komentar