Satu kata untuk meyakinkan diri bahwa sebenarnya kita itu bisa
Keberhasilan adalah sesuatu yang pasti setiap orang mendabakannya, entah itu siapa, dari status social yang bagaimana, berapa umurnya, pokoknya siapa sajalah. Semisal, seorang siswa sangat menginginkan bagaimana ia bisa memahami peajaran yang diajarkan oleh gurunya di sekolah, seorang bupati sangat mengharapkan bagaimana rakyat dalam suatu kabupaten yang ia pimpin bisa sejahtera, makmur, dan hidup dengan baik, dan masih banyak lagi contoh lainnya. Tapi dalam menggapai suatu keberhasilan itu pasti tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pasti ada cobaan, hambatan dan rintangan yang selalu menghadang. Lha, berangkat dari itu semua, kita dituntut untuk selalu belajar menghadapi masalah dengan penuh kedewasaan.Manusia dilahirkan di muka bumi memang di setting untuk selalu menghadapi masalah, mulai ia keluar dari guo garbo ibunya sampai ia dimasukkan ke liang lahat nantinya. Masalah akan selalu datang kapan dan dimana saja. Sekarang tinggal kita bagaimana menghadapinya. Yang sangat perlu diingat yaitu adanya masalah bukan itu dihindari tapi untuk dihadapi, dan pasti kita mampu untuk itu semua (memecahkan masalah, red), karena Allah SWT itu maha adil dan Dia tidak akan memberi masalah kepada hambanya di luar kadar kemampuan hamba itu.
“Ada banyak jalan menuju Roma”, ada banyak cara memecahkan masalah. Kemampuan seseorang mengahadapi masalah bukan dilihat dari hasil akhir usahanya itu, tapi dilihat dari bagaimana ia menyikapinya. Salah satu caranya ialah kita harus senantiasa optimis berhasil dalam usaha kita itu, karena sebagaimana sebuah maqolah “Ana ‘Inda Dhonni Abdi” (Aku (Allah) itu sesuai dengan prasangka hambaku), jadi kita harus Husnuddhon kepada Allah SWT atau dalam bahasa kita biasa kita sebut dengan optimisme.
Saya pernah mendengar sebuah cerita dari seorang guru, ada seoarang yang sedang mengahafal al qur’an yang dalam kurun waktu delapan tahun ia hanya mampu menghafal surat Al Baqoroh dan Ali Imron (kurang lebih 4 juz), hasil yang seperti itu disebabkan karena ia tidak optimis akan keberhasilannya dalam menghafal firman-firman Allah. Namun semua itu berubah 1800 setelah ia mulai mengubah ‘itiqodnya itu, ia mulai sadar bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini kalau Allah berkehendak. Dalam bulan romadlon ia beri’tikaf dalam sebuah masjid untuk selanjutnya menghafal Al Qur’an adan apa yang terjadi……, ia mampu menghafalkan beberapa juz kurangnya itu (sekitar 26 juz) hanya dalam waktu 15 hari, Subhanallah………
Intinya, salah satu cara menghadapi masalah yaitu kita harus selalu husnuddlon kepada Allah SWT bahwa Ia akan memberi jalan keluar pada setiap masalah yang kita hadapi. So, optimislah prenn……
Mungkin cukup sampai disini dulu ya, mudah-mudahan bermanfaat!
Komentar
Posting Komentar