Langsung ke konten utama

PD Aja Lagi...!!!

Satu kata untuk meyakinkan diri bahwa sebenarnya kita itu bisa
Keberhasilan adalah sesuatu yang pasti setiap orang mendabakannya, entah itu siapa, dari status social yang bagaimana, berapa umurnya, pokoknya siapa sajalah. Semisal, seorang siswa sangat menginginkan bagaimana ia bisa memahami peajaran yang diajarkan oleh gurunya di sekolah, seorang bupati sangat mengharapkan bagaimana rakyat dalam suatu kabupaten yang ia pimpin bisa sejahtera, makmur, dan hidup dengan baik, dan masih banyak lagi contoh lainnya. Tapi dalam menggapai suatu keberhasilan itu pasti tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pasti ada cobaan, hambatan dan rintangan yang selalu menghadang. Lha,  berangkat dari itu semua, kita dituntut untuk selalu belajar menghadapi masalah dengan penuh kedewasaan.
Manusia dilahirkan di muka bumi memang di setting untuk selalu menghadapi masalah, mulai ia keluar dari guo garbo ibunya sampai ia dimasukkan ke liang lahat nantinya. Masalah akan selalu datang kapan dan dimana saja. Sekarang tinggal kita bagaimana menghadapinya. Yang sangat perlu diingat yaitu adanya masalah bukan itu dihindari tapi untuk dihadapi, dan pasti kita mampu untuk itu semua (memecahkan masalah, red), karena Allah SWT itu maha adil dan Dia tidak akan memberi masalah kepada hambanya di luar kadar kemampuan hamba itu.
“Ada banyak jalan menuju Roma”, ada banyak cara memecahkan masalah. Kemampuan seseorang mengahadapi masalah bukan dilihat dari hasil akhir usahanya itu, tapi dilihat dari bagaimana ia menyikapinya. Salah satu caranya ialah kita harus senantiasa optimis berhasil dalam usaha kita itu, karena sebagaimana sebuah maqolah “Ana ‘Inda Dhonni Abdi” (Aku (Allah) itu sesuai dengan prasangka hambaku), jadi kita harus Husnuddhon kepada Allah SWT atau dalam bahasa kita biasa kita sebut dengan optimisme.
Saya pernah mendengar sebuah cerita dari seorang guru, ada seoarang yang sedang mengahafal al qur’an yang dalam kurun waktu delapan tahun ia hanya mampu menghafal surat Al Baqoroh dan Ali Imron (kurang lebih 4 juz), hasil yang seperti itu disebabkan karena ia tidak optimis akan keberhasilannya dalam menghafal firman-firman Allah. Namun semua itu berubah 1800 setelah ia mulai mengubah ‘itiqodnya itu, ia mulai sadar bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini kalau Allah berkehendak. Dalam bulan romadlon ia beri’tikaf dalam sebuah masjid untuk selanjutnya menghafal Al Qur’an adan apa yang terjadi……, ia mampu menghafalkan beberapa juz kurangnya itu (sekitar 26 juz) hanya dalam waktu 15 hari, Subhanallah………
Intinya, salah satu cara menghadapi masalah yaitu kita harus selalu husnuddlon kepada Allah SWT bahwa Ia akan memberi jalan keluar pada setiap masalah yang kita hadapi. So, optimislah prenn……
Mungkin cukup sampai disini dulu ya, mudah-mudahan bermanfaat!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...