Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham.
Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang
sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke
pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2
yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman.
Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam.
Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu
yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun
lalu, ia mengajar pelajaran nahwu.
Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab.
Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang
sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab
salaf (kutubut turots).
''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya.
Dalam pelajaran nahwu, i'rab adalah segala-galanya. Bagian yang paling
penting. Tidak bisa tidak, mau tak mau, suka tak suka, jika kita bicara
nahwu, pati juga bicara i'rab. Jadi, bisa disimpulkan bahwa nahwu itu
adalah i'rab. Kalau dalam bab i'rab saja tidak faham, percuma diteruskan
bab selanjutnya. Percuma. Sekali lagi saya katakan: percuma!.
***
Dalam dunia pendidikan, modifikasi sistem itu sah2 saja. Boleh. Dan
bahkan-menurut saya-wajib. Karena dengan itu, pelajaran yang disampaikan
sang guru bisa dengan mudah difahami murid2.
Salah satu tujuan pendidikan adalah faham. Dan faham itu ibarat negeri
Roma. Banyak jalan menuju ke sana. Tapi tidak untuk jadi presiden lho.
Kalau itu beda lagi urusannya.
Senin siang. 9-12-13. 13.22 WIB.
Komentar
Posting Komentar