Langsung ke konten utama

Membaca & Mengkualitaskan Diri

Buku sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan yang mudah di dapatkan

Manusia tak pernah bisa tanpa hidup ilmu, ia akan mengalami kesulitan dalam menjalani hidupnya karena memang setiap pekerjaan yang ia jalani selalu membutuhkan cara, dan cara inilah yang dinamakan ilmu.
Seorang dokter akan mudah dalam mengobati pasiennya jika ia memiliki ilmu yang mumpuni. Seorang pedagang akan mendapatkan hasil yang melimpah dengan barang dagangannya jika ia mengtahui ilmu tantang perdagangannya. Apalagi saat ini hampir mendekati pasar global, seorang pedagang dituntut untuk lebih meningkatkan kredibilitasnya agar bisa mengimbangi lawan dagangannya dan memenuhi kebutuhan konsumen. Sebaliknya, seorang santri akan merasa kesulitan ketika ia membaca kita kuning apabila tak memiliki ilmu tantang bagaimana cara membaca kitab kuning dengan baik dan benar (nahwu, shorof, dll). Berawal dari sinilah santri di tuntut untuk selalu istifadah (mengambil faifdah; belajar) dalam setiap harinya. Baik istifadah dengan membaca buku, belajar dari lingkungan, ataupun yang lainnya. Yang penting dalam setiap harinya harus ada ilmu yang masuk dalam diri kita. Dengan kata lain, kita harus senantiasa mengkualitaskan diri. Karena kalau kita mau merenung, umur kita semakin lama semakin bertambah, selalu ada asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh kita, selalu ada pengeluaran berupa financial, dan seamabrek pengeluaran lain yang mungkin tidak dapat kita hitung lagi berapa jumlahnya.
Mengenai bagaimana cara ilmu masuk dalam otak dan hati kita, pasti setiap orang berbeda. Apalagi di pesantren itu seperti misteri, yang pintar di pesantren belum tentu menjadi orang yang berguna ketika sudah berbaur dengan masyarakat. Ada yang sepertinya ketika sedang tholab di pesantren, kelihatannya biasa biasa saja, namun malah di masayarakat ia dijadikan tokoh. Malah ada santri yang dulu ketika belajar di pesantren, secara kasab mata memang tidak pernah belajar, tapi ketika pulang ke rumah, berbagai macam ilmu telah kita ketahui. Itulah di pesantren, penuh misteri.
Namun yang ingin penulis torehkan dalam catatan perdana ini yaitu bagaimana otak kita menyerap pelajaran secara lumrah nya orang umum, tanpa melihat sudut pandang spiritualitas.
Otak kita dijadikan oleh Allah SWT sebagai ciptaan yang sebenarnya tidak ada tandingannya jika kita mau melatih dan menggunakannya dengan baik. Ia (otak) memiliki daya tampung yang sangat kuat apabila dibandingkan dengan memori card nya handphone ataupun alat elektronik yang lainnya. Namun yang perlu kita perhatikan yaitu bagaimana melatihnya agar dapat memiliki fungsi maksimal sebagaimana yang telah menjadi takdir Allah ‘azza wa jalla. Kalau boleh saya gambarkan, otak manusia itu seperti pisau yang akan semakin tajam apabila kita rajin mengasahnya. Sebaliknya pisau akan menjadi tumpul jika kita jarang menggunakannya, bahkan tidak pernah sama sekali. Begitu juga otak kita, akan menjadi semakin brilliant jika rajin melatihnya. Demikian juga otak kita akan menjadi lemot jika jarang kita gunakan. Itulah otak kita …….
Ada banyak cara untuk melatih kinerja otak kita, salah satunya yaitu dengan cara membaca. Baik membaca buku, kitab, majalah, koran ataupun yang lainnya yang memang bisa dijadikan sebagai bahan pelajaran bagi otak kita. Dengan membaca, sedikit demi sedikit otak kita akan terlatih untuk selalu mengingat-ingat apa yang telah kita baca. Memang secara kebiasan, apa yang telah kita baca tidaklah semuanya bisa terekam dengan baik di dalam memory otak kita. Mungkin hanya berapa persennya saja. Namun segala sesuatu yang kita baca akan kita ingat dan menjadi ingatan yang kuat seakan akan terukir di dinding otak kita apabila kita menemukan dan menjumpai suatu hal yang ada kaitannya dengan apa yang telah kita baca barusan atau beberapa hari yang lalu. Semisal, kita beberapa hari yang lalu telah mebaca buku bagaimana mengoperasionalkan program photoshop, dan hari ini anda mempraktekannya. Ketika anda menjumpai kesulitan, otak anda secara otomatis akan mengingat apa yang telah anda baca tempo hari, walaupun itu jumlahnya hanya beberapa persen saja. Tapi itu kan lebih baik dari pada kita tidak pernah membaca buku panduan photoshop sama sekali.
Keuntungan lain dari kegiatan membaca adalah anda akan dikenalkan dengan berbagai macam kosakata. Apalagi yang anda baca adalah buku buku yang memang di tulis oleh ilmuan zaman sekarang yang menggunakan kata-kata ilmiah. Paling tidak, anda akan mengerti bagaimana membahasaindonesiakan kata atau kalimat yang akan anda ucapkan. Dengan membaca secara rutin, tak terasa kualitas keilmuan anda akan berkembang sedikit demi sedikit.
Tak perlu kita membaca berpuluh-puluh lembar buku dalam satu hari tapi keesokan harinya malah tidak sama sekali. Yang lebih baik itu, walaupun sedikit tapi istiqomah. Betul ngga’?
Yang terpenting, setiap harinya kita harus membaca, baik buku, kitab kuning, koran ataupun yang lainnya. Mari kita contoh ulama’ terdahulu yang dalam setiap harinya selalu muthola’ah kitab. Malah saya pernah membaca suatu cerita, ada seorang ‘alim yang ‘abid (ahli ibadah) yang meninggalnya disebabkan karena di seruduk keledai lantaran ketika berjalan beliau sedang membaca kitab dan tidak melihat ada seekor keledai yang akan menabraknya. Subhanallah…..
Walhasil, kita harus senantiasa istifadah setiap hari agar tidak termasuk orang yang merugi, (apapun itu bentuknya)
Mungkin hanya ini yang dapat kami tulis dalam kesempatan kali ini, semoga bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...