Langsung ke konten utama

Hari yang Melelahkan

Tak seperti biasanya, hari ini aku kurang enak badan. Pasalnya, kemarin pagi aku ikut kerja bakti di rumah seorang ustadku yang sedang memasang keramik. Ustadku bernama ustad Imam. Sebenarnya yang pasangi keramik bukan rumah beliau, namun mushola yang ada diatas rumah beliau yang setiap hari aku tempati mengaji bersama teman-teman.

Walaupun sebenarnya kerjaanku yang kalau menurutku nggak terlalu berat sih, hanya ngenat, yaitu memberi cairan yang agak kental yang berwarna (seperti semen) di tengah-tengah keramik. Hanya itu, nggak lebih. Namun, itulah aku, nggak biasa kerja, ya…kerja sekali langsung lelah. Hehe…-)

Mulai dari tadi malam, setelah kegiatan takror (kegiatan yang ada di pesantrenku yang dilakukan setiap selesai sholat isyak (sekitar pukul 22.00 WIB), seperti kegiatan tambahan, ekstra kurikuler) aku langsung tidur (hanya sekedar informasi, biasanya permulaan tidur di pesantrenku pukul 00.30 WIB). Padahal aku masih punya kegiatan yang harus aku ikuti, yaitu pendalaman bahasa arab, karena memang aku sekarang pindah dan menempat di asrama bahasa arab, asrama Al Azhar.

“Ya akh….istaiqithni bakda sholatillail” (teman….bangunkan aku ya, ntar setelah sholat malam), itu kataku kepada teman-temanku yang sedang berkumpul untuk mulai kegiatan.

Tapi ternyata, aku nggak bangun, nggak tau kenapa, apa aku yang nggak bisa dibangunkan, apa temanku yang nggak bangunkan aku. Aku bangun keika matahari hampir menampakkan wajahnya. Karena masih lelah, aku nggak setoran hafalan Al Quran ke ustad Imam seperti biasanya.

Setelah sholat shubuh, aku tidur lagi, ya…karena masih lelah. Di permulaanku tidur, aku dibangunkan oleh bang Je, salah seorang temanku asal Riau, Sumtera. “Eh, bangun-bangun…ayo ngepel” aku katakan ke dia kalau aku kurang enak badan. Bang Je ngajak aku untuk ngepel mushola yang kemarin aku ikut bantu-bantu disana itu.

Tidur mulai pukul 05.30 WIB sampai 09.30 WIB, sungguh lama menurutku tidur jam segitu, kalau melihat malamnya aku sudah tidur cukup puas. Setelah bangun, aku langsung untuk menunaikan sholat dhuha, ibadah yang ada di agama islam yang waktunya mulai sekitar pukul 06.00 WIB sampai pukul 11.30 WIB. Tak cukup sampai disitu, setelah dhuhur, yang biasanya kegiatanku sekolah diniyyah, aku nggak berangkat.

Sungguh hari yang melelahkan.

*Tulisan kecilku untuk mengabadikan aktifitasku hari ini.

(Blokagung, kala pujian sholi-sholi, pertanda ajakan untuk mendekatkan diri kepada yang Maha Esa. 20 Pebruari 2011 Sekitar pukul 23.30 WIB (coz, di kantor MKD nggak ada jam))

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...