Nggak tau harus menulis apa. Saya bingung. Karena memang tak ada sesuatu
yang harus ditulis. Namun, saya tetap ingin menulis. Ya, menulis. Aneh kan ya? Gimana kalau diiyain
aja? Biar cepet (Khas banget kata-katanya tetangga sebelah itu. Kayaknya hanya
aku dan Tuhan yang tau. Hehe).
Nggak tau mengapa. Saya ingin sekali menulis tapi tak tau apa yang harus
ditulis. Ya akhirnya gini deh, nulisnya asal-asalan. Yang penting jadi tulisan.
Entah bagus atau jelek itu mah urusan belakang.
Oiya ketemu. Saya ingat dulu pas ngajar adik-adik santri Pondok
Pesantren Al-Jauhar, Semin Gunungkidul, DIY. Kala itu saya setiap jumat selalu
memotivasi mereka agar konsisten dalam menulis. “Lha apa, Kang, yang ditulis?,”
Tanya salah satu dari mereka. Oiya, perlu saya sampaikan bahwa saat itu
santri-santri yang saya ajari nulis sekitar 9 untuk putri dan 5 untuk putra.
Seingat saya seperti itu jumlahnya.
Lalu apa jawaban saya? “Ya pokoknya tulis apa saja yang ada di otak
kalian. Boleh curhat. Boleh marah. Boleh gembira. Pokoknya semua boleh. Yang penting
jadi tulisan.” Jawab saya kala itu. “Lha entar kalau jelek bagaimana?,” sahut
mereka sepertinya ketakutan. Mendengar itu, saya menjawab, “Lha memang siapa
yang mau baca tulisan sampean? Saya kan nyuruhnya nulis. Itu saja. Nggak saya
lihat kok. Yang penting sampean nulis. Semakin banyak semakin bagus. Kriteria
bagus untuk tingkatan kalian adalah yang penting banyak. Itu aja.”
Akhirnya mereka menulis. Mengeluarkan apa saja yang ada di otak. Dalam
satu pertemuan, kadang saya suruh mereka menulis seluruh aktifitas yang mereka
lakukan dari kemarin pagi sampai pagi hari ini. Kadang pula saya menceritakan
sesuatu dan mereka saya suruh untuk menulis ulang dengan gaya bahasa mereka
sendiri.
Pas sudah selesai di satu pertemuan, sesekali saya cek tulisan mereka.
Siapa yang tulisannya paling banya, itulah yang terbaik. Kadang mereka malu
untuk memperlihatkan tulisannya kepada saya. Tapi saya tegaskan bahwa saya tak
akan membaca tulisannya. Saya hanya akan melihat berapa halaman mereka menulis.
Ada yang satu halaman, satu setengah, bahkan ada dua halaman.
***
Oke, sudah dulu curhatnya. Hehe.
Memang yang paling sulit dalam proses menulis adalah mencari ide.
Namuanya manusia, kadang ada ide kadang juga tidak. Itu hal biasa dan lumrah.
Bahkan bagi yang sudah terbiasa menulis pun masih saja terjangkiti penyakit
“susah” menulis. Apa itu? Yaitu mempertahankan kualitas menulisnya. Bisa nggak
tetap menghasilkan tulisan yang berkulitas. Tulisan yang berbobot.
Satu hal yang biasa terjadi adalah si penulis-dalam satu waktu-bisa
membuat tulisan yang sangat berbobot, ilmiah, dan kualitasnya tinggi. Namun di lain
waktu, kadang hal itu tak bisa dikerjakan. Bahkan parahnya lagi, untuk
mennghasilkan selembar tulisanpun ia tak mampu. Kalau yang terkahir ini khusus “saya”
ya. Hehe.
Saya pernah membaca sebuah status Facebook seorang pemilik sebuah
penerbitan buku di Jogja. Di statusnya itu, ia mangatakan bahwa sebenarnya
sudah banyak media cetak yang menawarinya untuk menjadi penulis tetap di media
cetak tersebut. Namun beliau menolak. Alasannya adalah beliau tak yakin akan
bisa menghasilkan tulisan yang berkulaitas setaip waktu. Padahal menurut saya,
ia adalah penulis yang sangat sanga produktif. Apalagi saya. Masih jauh dari
kata produktif.
Tak terasa sudah satu halaman tulisan saya. Sudah dulu ya. Kapan-kapan
lagi.
Asrama PTIQ Jakarta Selatan. Kamar 406. 22 Agusutus 2015. 09.53 WIB.
Komentar
Posting Komentar