Langsung ke konten utama

10 Muharram: Who Are You?



Sepuluh Muharram pasti menjadi event bermakna bagi seluruh santri PP. Darussalam Banyuwangi. Pada malam tanggal itu, seluruh santri putri mengunjungi asrama santri putra. Kegiatan ini biasanya menjadi event bagi seluruh asrama putra untuk berbenah. Menata kembali kelengkapan administrasi di asrama masing-masing. Juga, tentunya keindahan dan kerapian kamar dan asrmanya masing-masing. Dinding-dinding dicat ulang, struktur personalia diketik ulang, foto-foto yang terpampang di dinding diganti dengan yang terbaru, dan lain sebagainya.  
Agar semangat, biasanya oleh pengurus pesantren, acara ini dilombakan. Apik-apikan. Sedang yang menjadi juri, biasanya dari pengrurus putri, biar obyektif.
Ini benar-benar event tahunan yang “wah” banget bagi seluruh santri. Karena pada hari itu, semua santri melakukan “unjuk kebolehan” dalam mendesain asramanya masing-masing.
***
Sedikit bercerita, saat acara kunjungan santri putri ke kampus putra dulu, tanpa sepengetahuanku, ada salah seorang santri putri yang diam-diam mengambil (lebih tepatnya: meminjam) bukuku. Entah buku yang berjudul apa, aku lupa.
Aku mulai sadar kalau buku telah dipinjam oleh “orang asing” karena beberapa hari setelah acara itu ada santri putra yang (menjadi abdi ndalem) datang ke kamarku. Dia menyerahkan sebuah bungkusan yang isinya buku dan surat. Surat itu intinya si santri putri minta maaf karena telah lancang telah meminjam bukuku tanpa izin. Sampai saat ini pun aku tak mengetahui siapa dia, dimana dia, dan yang paling aku tak tau, dia cantik apa tidak. Who are you?
***
Lha terus kalau santri putri ke asrama putra, apakah santri putra juga di asrama? Tentunya tidak. Sekali lagi saya katakan: tidak. Santri putra untuk sementara waktu “dikeluarkan” dari gerbang pesantren putra. Asrama siapa ya yang menjadi pemenang? Mujahidin bagaimana kabarnya?
Jakarta Selatan, 11 Muharram 1437 H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...