"Saya Akan Terus Berdakwah"
Saya terlahir dari keluarga yang
biasa-biasa saja. Orang tua saya bukanlah orang kantoran. Ayah saya seorang
petani dan ibu saya seorang pedagang di pasar tradisional. Saya memiliki dua
saudara: kakak dan adik. Semuanya perempuan. Saya nomor dua, di tengah. Saya adalah anak laki-laki satunya.
Hampir seluruh masa muda saya,
saya habiskan di lingkungan yang Islami. Selepas belajar di MI (madrasah
ibtidaiyyah, selevel SD), saya sudah melakukan rihlah ilmiah di beberapa
pesantren di pulau Jawa. Ada yang di Banyuwangi, Yogyakarta, dan Tangerang. Dan saat ini, saya sedang belajar di semester
5, jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, fakultas Ushuluddin PTIQ Jakarta. Alahmdulillah,
seluruh lembaga pendidikan yang pernah saya datangi, semuanya mengajarkan
nilai-nilai Islam yang damai, toleransi, dan penuh dengan kesejukan.
Daerah kelahiran saya,
Banyuwangi, bisa dikatakan termasuk daerah warganya taat beragama dan
menjalankan ajaran Islam. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya pesantren yang ada
di sana. Meski demikian, juga tidak bisa dipungkiri bahwa juga masih ada
beberapa orang non-muslim.
Ketika pulang liburan—baik ketika
dulu di pesantren maupun saat ini—saya sering diminta untuk mengisi ceramah di majelis taklim dan khutbah Jum’at. Juga,
kadang diminta untuk mengajari anak-anak belajar membaca al-Qur’an di Taman
Pendidikan al-Qur’an (TPQ) di masjid dan mushala dekat rumah.
Kegiatan ini (mengajar TPQ,
ceramah di majelis taklim, atau khutbah Jum’at) juga masih saya kerjakan selama
hidup di Jakarta dua tahun ini. Menjelang ramadhan kemaren, saya dipercaya untuk
mengisi kajian tarhib ramadhan di Perbanas Institute, Jakarta Selatan.
Membaca adalah hobi saya. Banyak
buku yang saya koleksi. Baik buku agama, sastra, sejarah, dan yang lainnya.
Kebanyakan buku-buku ini saya beli dulu ketika saya belajar di pesantren
Yogyakarta. Sebagai kota pelajar, wajar jika Yogyakarta sering mengadakan kegiatan
bazar buku.
Kegemaaran membaca ini ternyata membuat
saya menyukai dunia jurnalistik. Informasi yang saya dapat dari kegiatan
membaca itu saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Pada tahun 2012, ketika masih
belajar di sebuah pesantren di Yogyakarta, saya mendapat kepercayaan untuk menjadi
salah satu penerima beasiswa santri berprestasi dalam bidang jurnalistik dari kemenag
RI.
Beberapa tulisan saya pernah
dimuat di Radar Banyuwangi, Tribun Jogja, dan Republika. Bersama beberapa
teman, saya juga menulis beberapa buku antologi. Buku yang saya tulis sendiri,
dengan judul “Islam Itu Mudah”, saat ini sedang dalam proses cetak oleh sebuah
penerbit. Semoga bisa cepat terbit dan dinikmati khalayak umum. Amin.
Sebagai anak laki-laki
satu-satunya, tentu orangtua saya menaruh harapan besar kepada saya. Meskipun
saya tidak mengetahui secara detail apa keinginan orangtua kepada saya (orangtua
saya tidak pernah memaksa saya untuk menjadi apa), namun saya yakin mereka
pasti menginginkan agar saya bisa menjadi orang yang sukses dalam bidang yang saya
tekuni, yang pada akhirnya akan mengarumkan nama mereka.
Juga, dengan pendidikan saya
seperti uraian di atas, saya berkeinginan untuk menyebarkan nilai-nilai agama
Islam yang rahmatan lil ‘alamin dan
dengan cara yang santun dan penuh kedamaian. Karena tidak bisa
dipungkiri, saat ini banyak orang yang mengajak orang lain untuk berbuat baik,
namun justru dengan cara yang kurang
baik. Yang akibatnya, alih-alih, orang akan mengikuti ajakan kita dan memeluk
Islam, bisa jadi mereka justru mereka akan membenci Islam. Na’udzubillah.
Dengan modal ilmu pengetahuan dan
bimbingan dari guru-guru saya, saya akan terus berdakwah dengan cara yang
santun. Saya akan terus mengajak orang lain untuk ber-Islam secara damai dan
penuh kelembutan. Besar harapan saya, dengan dimulai dari setiap individu menjalankan
nilai-nilai Islam, saya yakin Indonesia akan menjadi baldatun thayyibatun wa
rabbun ghafur.
Dakwah—bagi saya—tidak saja
berkaitan dengan ceramah. Dakwah adalah mengajak orang lain, yang bisa
dilakukan dengan berbagai cara: menulis, ceramah, dan yang lainnya. Bahkan apa
yang kita lakukan sekalipun pasti akan membuat orang lain untuk mengikuti kita.
Mereka akan melihat “Islam” ada di dalam diri kita. Dan itulah dakwah yang
paling mulia (dakwah dengan suri tauladan).
Yang tidak kalah penting, saya
berdoa, semoga Allah menjadikan saya seorang yang terus mencintai ilmu
pengetahuan. Yang dengan semakin banyaknya ilmu yang saya miliki, tentu akan
semakin banyak pula yang akan saya bagikan. Wadah akan selalu menumpahkan
isinya.
Dengan Beasiswa Bazma Pertamina
ini, saya yakin langkah dan cita-cita yang telah saya rencanakan akan semakin
ringan. Karena—sebagaimana disebutkan dalam kitab Ta’limul Mut’alim—salah satu
syarat orang mencari ilmu adalah dengan kekuatan ekonomi (harta).
Komentar
Posting Komentar