Rasulullah sedang bersama para sahabat. Syahdan, tiba seorang berbaju putih. Rambutnya hitam. Dari kondisinya, tampak ia bukan seorang musafir. Lelaki itu bertanya kepada Nabi tentang lima hal. Tiga di antaranya adalah Islam, Iman, dan Ihsan. Para ulama menilai tiga hal ini sebagai pokok-pokok agama.
Islam adalah merngejakan rukun Islam yang lima itu. Mengucap dua kalimat syahadat, mengerjakan shalat, membayar zakat, melaksanakan puasa, dan menunaikan haji bagi yang mampu.
Iman adalah percaya kepada enam hal yang biasa kita kenal dengan
rukun Iman. Enam obyek iman adalah Allah, malaikat, kitab suci, nabi, hari
akhir, qada’ dan qadar yang baik atau yang buruk.
Sedangkan Ihsan, kata Nabi, adalah engkau menyembah (beribadah
kepada) Allah, seakan engkau melihatNya. Atau kalau engkau tidak melihatNya, maka
pasti Allah melihatmu.
Sekilas dapat kita pahami, rukun Islam adalah ibadah fisik/zahir. Semua
berkaitan dengan suatu yang bisa dilihat. Syahadat, shalat, dan zakat, puasa, dan
haji itu kelihatan. Kita bisa menilai apakah seseorang mengerjakan itu atau
tidak. Puasa? Selama seseorang tidak kelihatan makan/minum di bulan Ramadan,
ya, kita anggap saja dia puasa.
Sedangkan iman itu itu urusan hati. Tidak bisa diindera.
***
Namun, apakah benar, Islam hanya berkaitan lima hal di atas? Jika
melihat hadis di atas, memang iya. Namun, kalau melihat hadis yang lain, akan
kita temukan bahwa muatan Islam lebih luas. Nabi bersabda, “Muslim ialah
orang yang semua orang Islam selamat dari kejahatan lidah -ucapan -dan
kejahatan tangannya-perbuatannya.”
Begitu juga dengan iman. Iman tidak saja berkaitan dengan hati. Dalam
sebuah hadis riwayat Muslim disebutkan, “Iman itu ada tujuh puluh cabang
lebih, atau enam puluh cabang lebih. Yang paling utama yaitu perkataan Lâ ilâha
illallâh, dan yang paling ringan yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan.
Dan malu itu termasuk bagian dari iman.”
Kita paham sekarang, Islam dan Iman adalah bukan ibadah ritual yang
“hanya” berkaitan denganNya, namun ada nilai sosialnya.
Lantas, bagaimana dengan ihsan?
Ihsan adalah pengawasan Allah terhadap segala sesuatu, termasuk
yang kita kerjakan. Bagaimana kalau seorang karyawan ketika bekerja selalu
diawasi petingginya? Ia pasti akan serius dan tidak main-main dalam bekerja. Ibadah
pun sama. Ketika seseorang merasa diawasi Allah, maka ia akan fokus dan selalu memberikan
yang terbaik.
Sehingga jika atas dasar Islam dan Iman seorang yang mau beibadah (dalam
arti luas), maka dengan Ishan, ibadah itu akan dilakukannya sepenuh hati dan
sungguh-sungguh. Dengan kata lain, ihsan adalah kesempuraan dalam beribadah.
Di atas, disebutkan, ihsan adalah engkau menyembah (beribadah
kepada) Allah, seakan engkau melihatNya. Atau kalau engkau tidak melihatNya, maka
pasti Allah melihatmu.
Ada beberapa kata yang perlu diperhatikan, ibadah dan seakan melihat
Allah. Kata “Ibadah” didahulukan daripada “seakan melihat Allah”. Ini artinya,
ibadah dilakukan terlebih dahulu, bagaimana pun kondisinya. Namun bila ingin
sempurna, seseorang harus merasa seakan-akan melihat Allah. Kalau tidak bisa
bagaimana, Allah pasti melihat.
Ditulis oleh: M. Nurul Huda
Banyuwangi, 16 April 2023

Komentar
Posting Komentar