Langsung ke konten utama

MENULIS VS DITULIS

Menulis memiliki banyak manfaat. Selain sebagai sarana untuk mengekspresikan isi pikiran, menulis juga berguna sebagai wahana untuk mengajak dan mempengaruhi orang lain. Bayanngkan saja, bagaimana jika para cendekiawan terdahulu tidak menulis? Bagaimana mungkin kita bisa menikmati buah pikiran mereka yang sangat cemerlang itu.

Namun, menjadi penulis bukan hal yang mudah. Diperlukan skill dan konsistensi yang kuat. Menulis, bagi saya, memang bukan masalah bakat, namun kemauan. Setiap orang, saat ini, kayaknya hampir tak ada yang tak bisa menulis. Dalam skala kecil, kita terbiasa menulis pesan di hape kita, setidaknya untuk dikirim kepada saudara.

Memang harus diakui tidak semua orang pandai cendekia piawai dalam menulis. Ada sebagian dari mereka yang tak bisa mengolah kata. Padahal kalau masalah ceramah dan orasi, bisa jadi dia jagonya. Namun, begitulah kehidupan. Ada yang lebih dan ada yang kurang.

Yang demikian itu memang tidak bisa dipaksakan. Biarkan mereka menekuni apa yang menjadi hobi dan kemampuan mereka saja. Tidak perlu dipaksakan.

Dikarenakan mereka tidak bisa menulis, maka mereka harusnya ditulis. Saran saya, ceramah atau buah pikiran mereka direkam dan selanjutnya ditulis. Biarkan orang lain yang menulis. Tokoh tersebut biarlah menjadi dirinya sendiri. Adalah tugas orang lain, baik murid atau bukan, untuk mengabadikannya menjadi tulisan.

Yang kedua ini (menulis pikran orang lain) memang masih memiliki kekurangan. Yakni, bisa jadi yang ditulis tidak sama dengan yang aslinya. Boleh jadi yang menulis kurang bisa memahami isi pikiran obyek yang ditulis atau alasan lain. Namun, daripada tidak ditulis kan mubazir, bukan?

Ya, pilihannya hanya dua: ditulis atau menulis. Jika mampu menulis, menulislah. Jika tak mampu, berusahalah agar pikiranmu layak ditulis orang lain.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...