Namun, menjadi penulis bukan hal yang
mudah. Diperlukan skill dan konsistensi yang kuat. Menulis, bagi saya, memang
bukan masalah bakat, namun kemauan. Setiap orang, saat ini, kayaknya hampir tak
ada yang tak bisa menulis. Dalam skala kecil, kita terbiasa menulis pesan di
hape kita, setidaknya untuk dikirim kepada saudara.
Memang harus diakui tidak semua orang
pandai cendekia piawai dalam menulis. Ada sebagian dari mereka yang tak bisa
mengolah kata. Padahal kalau masalah ceramah dan orasi, bisa jadi dia jagonya.
Namun, begitulah kehidupan. Ada yang lebih dan ada yang kurang.
Yang demikian itu memang tidak bisa
dipaksakan. Biarkan mereka menekuni apa yang menjadi hobi dan kemampuan mereka
saja. Tidak perlu dipaksakan.
Dikarenakan mereka tidak bisa menulis,
maka mereka harusnya ditulis. Saran saya, ceramah atau buah pikiran mereka
direkam dan selanjutnya ditulis. Biarkan orang lain yang menulis. Tokoh
tersebut biarlah menjadi dirinya sendiri. Adalah tugas orang lain, baik murid
atau bukan, untuk mengabadikannya menjadi tulisan.
Yang kedua ini (menulis pikran orang
lain) memang masih memiliki kekurangan. Yakni, bisa jadi yang ditulis tidak
sama dengan yang aslinya. Boleh jadi yang menulis kurang bisa memahami isi
pikiran obyek yang ditulis atau alasan lain. Namun, daripada tidak ditulis kan
mubazir, bukan?
Ya, pilihannya hanya dua: ditulis atau menulis.
Jika mampu menulis, menulislah. Jika tak mampu, berusahalah agar pikiranmu
layak ditulis orang lain.

Komentar
Posting Komentar