Langsung ke konten utama

Awalku Menulis



Ayo Nulis Prennn......

Beberapa hari lalu aku pernah menjadi petugas perpustakaan di pesantren yang aku tempati atau dengan istilah populernya “pustakawan” lah. Di perpus aku bisa mengembangkan kebiasaanku menulis. Ini karena di perpustakaan ada komputer yang bisa aku gunakan untuk menyalurkan hobiku itu. Jujur saja, aku memang senang sekali menulis, apapun itu. Entah artikel, puisi, opini, dan lain-lain.
Namun, karena suatu hal, aku diberhentikan dari tugasku menjaga perpustakaan. Secara otomatis, aku harus berhenti menulis menggunakan komputer perpustakaan itu. Sebenarnya aku juga bisa menggunakan komputer sebuah organisasi kepenulisan di pesantrenku, tapi itu hanya kalau pas komputernya nganggur saja.
Untung saja ada temanku yang sudi meminjamkan notebook-nya kepadaku. Aku sangat senang sekali mendengar jawaban temanku yang memperbolehkanku memakai barang mahalnya itu. Agar permintaanku disetujuinya, aku nyanggupi kapanpun waktunya, pasti aku bisa, pagi atau siang, pokoknya aku bisa menulis. Pokoknya aku bisa menulis. Awalnya sih sepertinya dia keberatan, tapi akhirnya luluh juga hatinya. Aku bilang kepadanya, “pokoknya aku make’nya secara istiqomah, terserah jam berpa”. “Jam setengah satu sampai setengah dua dini hari kang, gimana??” “oke” jawabku mantab.
Awalnya aku dulu nggak terlalu suka dengan dunia tulis menulis. Kebiasaanku menulis ini tumbuh ketika dulu waktu aku masih sekolah di SMA. Saat itu guru bidang studi kesenian di kelasku selalu memotivasiku untuk selalu aktif menulis. Dia perempuan. Aku ngga’ tau pasti siapa nama lengkapnya, tapi biasanya ia kerap dipanggil “Bu Latif”. Sejak saat itu aku mulai menemukan suatu hal yang sangat mengasyikkan bagiku, yaitu menulis.
Alhamdulillah, aku mulai saat ini telah bergabung dengan teman-teman penulis di pesantrenku, sebuah pesantren terbesar di kabupaten Banyuwangi Jawa Timur. Diantara sekian banyak teman-temanku itu, ada yang sudah memiliki karya sebuah novel yang sekarang masih dalam proses percetakan oleh sebuah penerbit ternama di Yogyakarta. Ada juga yang suka sekali menghayal. Suka nulis cerpen, puisi, dan novel. Dia saat ini sedang menyelesaikan novel pertamanya. Rencananya, bulan pebruari esok karyanya akan ia kirimkan ke sebuah penerbit untuk dicetak. “Muadah-mudahan saja, diterima. Amin.....” Doaku dalam hati.
Ini hanya sebuah tulisan kecil untuk meyakinkan langkahku dalam dunia tulis menulis. Ayo menulis.....
(Blokagung, kala jiwa ini sangat ingin sekali istiqoamah dalam menulis. Ahad legi, 23 Pebruari 2011. 01.55 WIS Dini Hari).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...