Langsung ke konten utama

Sekilas Tentang Pesantren

Inilah Lambang PP. Darussalam Blokagung Banyuwangi


“Inilah peantren, satu lembaga pendidikan yang menurutku sangat unik dan sarat akan misteri” kata-kata itu yang terbesit di benakku sejak aku mengenal pesantren. Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua yang ada di dunia. Dahulu, pada zaman nabi Muhammad, ia (pesantren) merupakan tempat belajar para shahabat kepada nabi. Tidak seperti sekarang, pesantren pada zaman nabi bertempat di serambi masjid. Di situ beliau mengajarkan syari’at-syari’at agama islam kepada para shabatnya. Oleh karenanya, khalaqoh nabi dan para shahabat itu dinamakan “Ashabushuffah” (pemilik serambi). Kemudian lambat laun, tempat itu berkembang dan membuat setiap murid-murid nabi mendirikannya di setiap daerahnya masing-masing. Yang pada akhirnya, model pendidikan seperti itu, pada zaman sekarang di sebut dengan istilah “PESANTREN”.
Di indonesia, hampir di setiap daerah ada lembaga pesantren sebagai sarana untuk belajar agama islam. Menjamurnya pesantren di setiap sudut kota/desa tentunya tidak lepas dari peran walisongo yang sangat teguh dalam menyebarkan ajaran islam, khususnya di pulau jawa. Pasantren berbeda dengan lembaga pendidikan lainyya. Kalau dalam sekolah, ada kepala sekolah sebagai ketuanya, tapi tidak dengan pesantren yang di asuh oleh seorang kiai. Jika kepala sekolah diangkat berdasarkan surat keputusan (SK) dari menteri pendidikan, tapi kalau pengangkatan pengasuh pesantren atas dasar kepercayaan masyarakat. Itu salah satu contohnya.
Dalam dunia pesantren, di kenal satu istilah yang mungkin kita jarang mendengarkannya, yaitu “Barokah”. Barokah merupakan hal mistis yang mungkin bagi seseorang sulit dipercaya. Malah ada yang mengatakan kalau barokah itu tidak ada. Tapi itu ada. Inilah keunikan pesantren. Dalam sejarah para jebolan pesantren, keberhasilan mereka ada yang didapatnya bukan karena mereka pintar atau cerdas, tapi karena mungkin ada sirri tersendiri yang ia lakukan ketiak masih tholab di pesantren. Semisal karena ketawadlu’annya kepada seorang guru/kiai, ia mampu menjadi seorang panutan masyarakat. Tentunya bagi sebagian orang, khususnya yang bukan dari kalangan pasantren hal ini sulit dipercaya.
Sekali lagi, inilah pasantren dengan segala keunikannya. Terbukti saat ini banyak alumni pasantren yang sudah menjadi orang gedhe, baik di tingkat organisasi kemasyarakatan, keagamaan, atau dalam lingkup pemerintahan, antara lain Gus Dur dari pesantren Tebuireng Jombang, SBY dari pasantren Pacitan, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Ini hanya sebuah tulisan yang aku sendiri tak bisa menamainya apa, artikel, opini, esai atau apa aku tak tahu. Yang penting aku nulis, nulis, dan nulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...