Langsung ke konten utama

Mahasiswa Tak Kenal Dosen, Salah Siapa?

Beberapa hari yang lalu aku mengikuti sebuah seminar internasional di kampus tempatku belajar.
Acara itu diadakan oleh program pasca sarjana di kampusku. Namun yanng tidak pasca sarjana juga  boleh ikut. Banyak teman-temanku yang ikut. Acara itu diadakan dalam rangka memperingati maulid nabi Muhammad Saw.
Meskipun tak terlambat, tapi pas aku tiba, sudah banyak perserta yang memenuhi ruangan. Aku mencari tempat duduk ditengah. Namun, setelah berfikir, aku memutuskan untuk duduk di depan.
Belum genap 5 menit aku duduk di depan, aku berubah fikiran lagi. Aku putuskan untuk duduk di belakang lagi.
Sambil menunggu acaranya dimulai, seluruh peserta mendengarkan pembacaan shalawat yang ditampilkan oleh grup rebana kampusku.
Sembari mendengarkan, aku main hape. Memperhatikan peserta lain yang hadir. Hingga akhirnya, acara pun dimulai.
Meski acara telah dimulai, masih ada peserta yang lalu lalang masuk ruangan acara. Acara berjalan seperti seminar pada umumnya.  
Hingga pada menit yang keberapa (aku lupa), duduklah disampingku, seorang lekaki yang usianya sekitar umur 40 tahun.
Aku diam saja. Begitu pula dia. Kami asyik dengan kegiatan kami masing-masing. Tak ada percakapan di antara kita.
Ketika acara hampir selesai, pemandu seminar menanyakan apakah ada peserta yang ingin bertanya. Panitia hanya membatasi 3 peserta.
Yang bertanya pertama kali adalah teman sekelasku. Terus ada lagi peserta dari LIPIA. Sudah dua.
Tanpa aku sangka-sangka, lelaki paruh baya yang duduk di sampuingku ikut bertanya. Dia maju ke depan, dan bertanya menggunakan mic.
Aku tak berani bertanya. Mengapa? Karena acaranya memakai bahasa Inggris dan Arab. Hanya sesekali yang menggunakan bahasa Indonesia. Oiya, lupa aku katakan di awal. Yang mengisi seminar ada 3 orang. Yang dua dari luar negeri, Iran dan satunya entah negara mana, aku pula. Satunnya lagi pak Rektor kampusku.
Kembali lagi ke cerita awal.
Setelah bertanya, lelaki itu duduk lagi di kursi sampingku. Dia memulai percakapan denganku.
“Semester berapa dek?,”
Aku jawab, “Semester satu, Pak.”
Setelah ngobrol ngalor ngidul, aku memberanikan diri bertanya kepada beliau, “Bapak siapa namanya?,”
“Saya?,” tanyanya kepadaku seakan tak percaya masak ada mahasiswa yang tak kenal beliau.
“Iya,” jawabku ringan.
“Saya di di sini (sambil menyebutkan sebuah nama fakultas di kampusku) dek,” jawabnya ringan.
“Kan dulu pernah kenalan pas Ospek,” dia melanjutkan kata-kataya.
Aku tambah bingung. Aku mulai berfikir keras. Malu mulai memenuhi isi kepalaku sambil bergumam dalam hati, “Ini pasti orang besar di kampus ini.” Awalnya aku hanya mengira mungkin bapak ini mahasiswa pasca sarjana.
Setelah berfikir agak lama, aku menjawab, “ow, bapak ini bapak ... (aku sebutkkan namanya),”
“Iya, dek,”
Sambil malu-malu, aku sampaikan kepada beliau, “Ow, ya pak, saya memang kurang mengenal orang-orang di kampus ini.”
Panas dingin. Malu. Memenuhi sekujur tubuhku.
***
Ya inilah contoh mahasiswa yang tak kenal dengan dosennya sendiri. Wkwkw.
Tapi jujur saja, aku memang hanya sekali bertemu denngan bapak itu. Itupun pas Ospek dulu.
Kalau ada mahasiwa tak kenal dosennya, entah salaha siapa. Yang jelas, orang bersalah adalah mereka yang ada di penjara, biasanya sih. Hehe.
Jakarta Selatan, 26 Desember 2015. 09.55 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...