Langsung ke konten utama

Makna Surat Al-Qur’an (11-20)

11. Hud

Surat ini banyak berbicara tentang kisah Nabi Huda as. Meski di surat-surat lain juga disebutkan kisah tentang Nabi Hud as., tapi tidak sebanyak yang dikisahkan dalam surat ini. Tema utama surah ini, menurut al-Biqâ‘i, adalah menjelaskan tentang betapa al-Qur’an merupakan kitab yang sangat teliti serta rapi susunannya juga terperinci dalam peringatan dan berita gembiranya.

Allah swt. yang menurunkannya telah menempatkan segala sesuatu pada tempat yang sebaikbaiknya serta menetapkan pelaksanaannya sesuai kebesaran dan kekuasaan-Nya. Yang paling tepat untuk menunjuk tema itu adalah kisah Hûd yang mengandung ketetapan tentang berita gembira dan peringatan duniawi dan ukhrawi.

12. Yusuf

Kisah Nabi Yusuf as. dijelaskan dengan sangat lengkap dalam surat ini. Bahkan, hanya kisah ini yang dijelaskan secara utuh dalam Al-Qur’an. Setiap episodenya memberikan pengetahuan danp Pelajaran bagi pembacanya.

Tujuan utama surah ini, menurut al-Biqâ‘i, adalah untuk membuktikan bahwa kitab suci al-Qur’an benar-benar adalah penjelasan menyangkut segala sesuatu yang mengantar kepada petunjuk, berdasar pengetahuan dan kekuasaan Allah swt. secara menyeluruh—baik terhadap yang nyata maupun yang gaib. Nah, kisah surah ini adalah yang paling tepat untuk menunjukkan tujuan yang dimaksud.

13. Ar-Ra’d (Guruh)

Tujuan utama surah ini adalah uraian tentang sifat al- Qur’an yang penuh dengan kebenaran dan yang dapat memberi pengaruh positif yang lahir dari kalimat-kalimatnya yang sangat jelas dan, dengan “suaranya” yang gamblang, ia dapat melahirkan rasa takut dan gentar bagi siapa yang mau melihat, walau terkadang juga tidak memberi pengaruh bahkan menjadi sebab kesesatan dan kebutaan—bagi yang enggan.

Nama yang paling tepat untuk tujuan itu adalah Guruh karena guruh merupakan suatu kenyataan dan hak yang didengar oleh yang buta dan yang melek serta oleh siapa pun yang menampakkan diri atau yang bersembunyi. Ia juga dapat disertai oleh kilat dan hujan dan dapat juga tidak. Hujan pun kalau turun dapat memberi manfaat jika tanah yang dihujaninya subur dan bisa juga tidak bermanfaat jika yang disiraminya adalah tanah yang gersang. Demikian al-Biqâ‘i mengemukakan tema surah dari kata guruh yang merupakan satu-satunya nama yang disandangnya.

14. Ibrahim

Tema utama uraian surah ini adalah Tauhid serta uraian tentang kesempurnaan kitab suci al-Qur’an yang mampu mengantar ke hadirat Ilahi melalui penjelasan-Nya tentang ash-shirâth, yakni jalan luas dan lebar yang mengantar ke sana.

15. al-Hijr (Gunung al-Hijr)

Tidak ditemukan nama lain dari surah ini kecuali al-Hijr yaitu wilayah pemukiman kaum Tsamûd yang dikenal juga dengan Madâ’in Shâlih yang terletak pada jalur Khaibar menuju Tabûk di Saudi Arabia. Penamaan lokasi itu dengan al-Hijr yang antara lain berarti larangan, boleh jadi disebabkan ia terlarang dihuni oleh siapa pun selain kaum Tsamûd.

Tema utama dan tujuan uraian surah ini menggambarkan ketinggian kandungan kitab suci al-Qur’an yang dengan gamblang menjelaskan kebenaran. Makna ini sejalan dengan nama al-Hijr yang kisahnya demikian jelas apalagi bagi yang mendengar atau melihat peninggalan mereka, lebih-lebih bagi suku Quraisy. Demikian al-Biqâ‘i menghubungkan tema utama surah ini dengan namanya.

16. an-Nahl (Lebah)

Tujuan pokok dan tema utama surah an-Nahl adalah membuktikan kesempurnaan kuasa Allah dan keluasan ilmu-Nya, dan bahwa Dia bebas bertindak sesuai kehendak-Nya lagi tidak disentuh oleh sedikit kekurangan pun. Yang paling dapat menunjukkan makna ini adalah sifat dan keadaan an-Nahl, yakni “lebah” yang sungguh menunjukkan pemahaman yang dalam serta keserasian yang mengagumkan antara lain dalam membuat sarangnya. Demikian juga dengan pemeliharaannya dan banyak lagi yang lain seperti keanekaragaman warna madu yang dihasilkannya serta khasiat madu itu sebagai obat padahal sumber makanan lebah adalah kembang dan buah-buahan yang bermanfaat dan juga yang berbahaya.

17. Al-Isra (Perjalanan Malam)

Tema utama surah ini adalah ajakan menuju ke hadirat Allah swt., dan meninggalkan selain-Nya, karena hanya Allah Pemilik perincian segala sesuatu dan Dia juga yang mengutamakan sesuatu atas lainnya. Itulah yang dinamai taqwa yang batas minimalnya adalah pengakuan akan Tauhid/Keesaan Allah swt. yang juga menjadi pembuka surah yang lalu (an-Nahl) dan puncaknya adalah ihsân yang merupakan penutup uraian surah an-Nahl. Ihsân mengandung makna fanâ’, yakni peleburan diri kepada Allah swt.

18. al-Kahf (Gua)

Tema utama surah ini adalah menggambarkan betapa al-Qur’an adalah satu kitab yang sangat agung karena al-Qur’an mencegah manusia mempersekutukan Allah.

19. Maryam

Tema utama surah ini adalah penjelasan tentang cakupan rahmat dan limpahan karunia Allah swt. atas semua makhluk-Nya, yang pada gilirannya membuktikan bahwa Allah swt. menyandang semua sifat sempurna serta berkuasa menciptakan hal-hal yang ajaib sehingga terbukti pula kekuasaan-Nya membangkitkan manusia setelah kematian mereka. Di samping itu, terbukti pula kemahasucian-Nya dari anak dan sekutu karena siapa yang telah terbukti keluasan kekuasaan-Nya dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya, pasti Dia tidak membutuhkan anak.

20. Thaha

Tujuan utama surah ini adalah penyampaian tentang penangguhan jatuhnya ancaman terhadap masyarakat Mekkah yang diajak beriman oleh Nabi Muhammad saw. Ini sebagai tambahan penghormatan kepada beliau guna menunjukkan betapa kasih Allah bagi siapa saja yang bertakwa sejalan dengan apa yang diisyaratkan oleh uraian akhir surah yang lalu yang berbicara tentang janji Allah melimpahkan dan menanamkan kasih sayang kepada siapa yang bertakwa. Nama-nama surah ini menggambarkan dan mengisyaratkan tujuan itu.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...