Al-Qur’an terdiri dari 114 surat. Surat-surat itu memiliki nama-nama yang berbeda satu dengan yang lainnya. Nama dari surat-surat ini, menurut sebagian ulama, mencerminkan makna dan intisari dari surat yang berkaitan.
Berikut ini adalah uraian ringkas terkait makna kandungan dari masing-masing surat dalam Al-Qur’an. Tulisan ini saya ambil dari Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab. Ada kalanya saya memahami isinya dan menuliskannya dengan Bahasa saya sendiri dan ada kalanya pula saya hanya “copy paste“.
1. Al-Fatihah
Al-Fatihah, secara Bahasa, bermakna pembuka. Ia adalah
pembuka bagi surat-surat dalam Al-Qur’an. Surat ini berisi tentang rangkuman
dari keseluruhan isi Al-Qur’an yang berkaitan dengan lima hal, yaitu:
a.
Tauhid
b.
Janji dan ancaman
c.
Ibadah yang menghidupkan tauhid,
d.
Penjelasan tentang jalan kebahagiaan di dunia dan di
akhirat dan cara mencapainya
e.
Pemberitaan atau kisah generasi terdahulu.
Dengan kata lain, surat ini berisi tentang gambaran umum dari keseluruhan isi kandungan Al-Qur’an. Dengan memahami hal ini, kita akan memiliki bayangan tentang Al-Qur’an dan isinya.
2. Al-Baqarah.
Arti dari Al-Baqarah adalah sapi. Dalam surat ini,
pada beberapa ayatnya, diceritakan tentang kisah pembunuhan yang terjadi di
masa Nabi Musa as. Masyarakat saat itu tidak mengetahui siapa pembunuhnya dan
terjadi saling tuduh-menuduh.
Hingga akhirnya, mereka mendapatkan informasi dari Nabi Musa as. untuk menyembelih sapi. Salah satu bagian tubuh sapi itu kemudian dipukulkan ke jenazah orang orang meninggal. Seketika, dengan izin Allah, orang tersebut hidup Kembali dan mengabarkan siapa gerangan yang membunuh dirinya. Intisari dari surat ini adalah menjelaskan tentang kebenaran petunjuk kitab suci untuk kemudian diamalkan isinya. Detal ajaran kitab suci, salah satunya, dijelaskan dalam surat ini.
3. Ali Imran
Ali Imran bermakna keluarga Imran. Imran adalah ibu
dari Maryam, ibu Nabi Isa as. sehingga, Imran adalah kakek dari Isa as.
Surat ini berisi tentang kehebatan Allah Swt. yang Dia
tampakkan lewat hamba-hambaNya. Beberapa di antaranya adalah Maryam yang hamil
tanpa melakukan hubungan badan, Zakariya yang memiliki anak padahal ia adalah
orang yang mandul, dan Isa as. adalah bayi ajaib yang memiliki banyak
kelebihan.
Oleh karenanya, dapat dikatakan bahwa intisari dari
surat ini tentang mengesakan Allah Swt (tauhid). Hal ini karena beberapa
kehebatan yang dimiliki manusia-manusia di atas adalah mutlak karena pemberian
dari Allah Swt.
4. An-Nisa’
Arti dari An-Nisa’ adalah perempuan. Beberapa masalah
perempuan dibahas dalam surat ini. Intisari surat ini adalah permasalahan
tauhid yang telah dibahas dalam surat Ali Imran.
Selain itu, dalam surat ini juga dibahas tentang
ketentuan-ketentuan agama yang telah dibahas dalam surat Al-Baqarah. Kesemuanya
itu dilakukan dalam rangka melaksanakan ajaran agama, sebagaimana dibahas pada
surat Al-Fatihah. Hal lainnya yang tak kalah penting adalah peringatan untuk
umat muslim agar tidak terpecah belah.
5. Al-Maidah (Jamuan)
Al-Maidah berarti hidangan. Tujuan utama uraian surah ini adalah mengajak untuk memenuhi
tuntunan Ilahi yang termaktub dalam kitab suci dan didukung oleh perjanjian
yang dikukuhkan oleh nalar, yakni berkaitan dengan keesaan Allah Pencipta,
serta yang berkaitan dengan limpahan rahmat terhadap makhluk, sebagai tanda
syukur atas nikmat-Nya, dan permohonan menolak murka-Nya.
6. Al-An’am (Hewan Ternak)
Tujuan utama surah ini adalah memantapkan tauhid dan ushûluddîn/prinsip-prinsip ajaran agama. Ajaran
tauhid menggambarkan keesaan Allah dan kekuasaan-Nya. Allah swt. yang
mewujudkan dan mematikan, dan Dia juga yang membangkitan dari kematian.
Di samping persoalan keesaan Allah dan keniscayaan Hari Kiamat, ayat-ayat
surah ini mengandung penegasan tentang hal-hal yang diharamkan-Nya sambil membatalkan apa yang
diharamkan manusia atas dirinya karena hanya Dia sendiri yang berwenang
menetapkan hukum dan membatalkannya, termasuk membatalkan apa yang ditetapkan
manusia, seperti yang dilakukan oleh kaum musyrikin menyangkut binatang dan sebagainya.
Inilah yang diisyaratkan oleh namanya, yakni al-An‘âm.
7. Al-A’raf Ttempat yang Tinggi)
Kandungan surah ini
merupakan perincian dari sekian banyak persoalan yang diuraikan oleh surah
al-An‘âm, khususnya menyangkut kisah beberapa nabi. Al-Biqâ‘i berpendapat bahwa
tujuan utamanya adalah peringatan terhadap yang berpaling dari ajakan yang
disampaikan oleh surah al-An‘âm, yakni ajakan kepada Tauhid, kebajikan dan
kesetiaan pada janji, serta ancaman terhadap siksa duniawi dan ukhrawi.
Bukti yang terkuat menyangkut tujuan tersebut—tulis al-Biqâ‘i—adalah nama
surah ini “al-A‘râf”. Menurut al-Biqâ‘i, al-A‘râf adalah empat yang tinggi di surga. Memercayai
al-A‘râf mengantar seseorang berada di tempat yang tinggi itu, di mana ia dapat
mengamati surga dan neraka dan mengetahui hakikat apa yang terdapat di sana.
8. Al-Anfal (Harta Rampasan Perang)
Tema utama dan tujuan penting dari uraian surah ini adalah untuk menekankan
bahwa manusia tidak memiliki kemampuan mendatangkan manfaat, tidak juga
kekuatan menampik mudharat kecuali berkat dan atas bantuan Allah swt.
Ini untuk mengantar mereka berserah diri kepada Allah, berpegang teguh pada
tali agama-Nya yang pada gilirannya mengantar kepada persatuan dan kemenangan menghadapi musuh-musuh Allah. Ini—lanjut al-Biqâ‘i—dapat terlihat dari pesan
ayat-ayat surah yang lalu yang memerintahkan agar mengikuti perintah Allah
dengan penuh kepatuhan, penyerahan diri, dan kerelaan; serta mengembalikan
semua kekuatan kepada Allah—sebab kalau Dia menghendaki bisa saja Dia
mencabutnya, sebagaimana terlihat dari uraian tentang al-Anfâl pada surah ini.
Ketika itu, mereka berselisih tentang al-Anfâl (harta rampasan perang).
9. At-Taubah (Pengampunan)
Tujuan utama surah ini—menurut al-Biqâ‘i—adalah memusuhi yang berpaling
dari ajakan surah sebelumnya untuk mengikuti siapa yang mengajarkan Tauhid dan
menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Salah satu bukti paling jelas tentang hal ini
adalah kisah al-Mukhallafîn (yang ditinggalkan karena enggan mengikuti Perang Tabuk) dan yang diuraikan
ayat ini. Mereka pada akhirnya sadar dan bertaubat. Karenanya, surah ini
dinamai surah at-Taubah.
10. Yunus (Nabi Yunus as.)
Tema utama surah ini adalah membuktikan bahwa kitab suci al-Qur’an
benar-benar bersumber dari Allah swt., kandungannya penuh hikmah. Tidak satu
makhluk pun yang mampu menyusun dan menghidangkan sesuatu yang dapat mencapai
peringkatnya. Ini juga membuktikan bahwa Yang Mahakuasa itu, Esa dalam
kekuasaan-Nya, tiada sekutu bagi-Nya dalam segala persoalan.
Salah satu bukti tentang hal ini adalah kisah kaum Yûnus as. yang beriman
kepada Allah swt. setelah sebelumnya mereka membangkang dan diancam. Ini
menunjukkan secara pasti bahwa penguasa hakiki adalah Allah swt. yang mereka
percayai itu karena, seandainya bukan Allah swt., maka tentulah keimanan mereka
terhadap-Nya justru mengundang jatuhnya ancaman itu dan bila mereka disiksa
sebagaimana halnya umat yang lain akan ada yang berkata bahwa hal tersebut
adalah peristiwa yang biasa terjadi dan di luar kehendak Allah.
Peristiwa yang dialami oleh kaum Nabi Yûnus as., seperti dikemukakan oleh
ayat 98 nanti, membuktikan dengan amat jelas bahwa siksa yang dialami oleh
umat-umat selain mereka benar-benar bersumber dari Allah swt. akibat kekufuran
mereka.
Bahkan, telah terbukti dari pengalaman umat manusia bahwa setiap terdapat
pendustaan/kekufuran yang telah melampaui batas dan yang pelakunya keras
kepala, jatuh pula siksa Allah atas mereka. Sebaliknya pun demikian, setiap
disadari dan dihindari pendustaan atau kekufuran itu—selama masih dalam batas
waktu yang belum terlambat—ketika itu mereka terhindar juga dari siksa Allah
swt.

Komentar
Posting Komentar