Langsung ke konten utama

Makna Surat Al-Qur’an (1-10)


Al-Qur’an terdiri dari 114 surat. Surat-surat itu memiliki nama-nama yang berbeda satu dengan yang lainnya. Nama dari surat-surat ini, menurut sebagian ulama, mencerminkan makna dan intisari dari surat yang berkaitan.

Berikut ini adalah uraian ringkas terkait makna kandungan dari masing-masing surat dalam Al-Qur’an. Tulisan ini saya ambil dari Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab. Ada kalanya saya memahami isinya dan menuliskannya dengan Bahasa saya sendiri dan ada kalanya pula saya hanya “copy paste“.

1. Al-Fatihah 

Al-Fatihah, secara Bahasa, bermakna pembuka. Ia adalah pembuka bagi surat-surat dalam Al-Qur’an. Surat ini berisi tentang rangkuman dari keseluruhan isi Al-Qur’an yang berkaitan dengan lima hal, yaitu:

a.     Tauhid

b.     Janji dan ancaman

c.     Ibadah yang menghidupkan tauhid,

d.     Penjelasan tentang jalan kebahagiaan di dunia dan di akhirat dan cara mencapainya

e.     Pemberitaan atau kisah generasi terdahulu.

Dengan kata lain, surat ini berisi tentang gambaran umum dari keseluruhan isi kandungan Al-Qur’an. Dengan memahami hal ini, kita akan memiliki bayangan tentang Al-Qur’an dan isinya.

2. Al-Baqarah.

Arti dari Al-Baqarah adalah sapi. Dalam surat ini, pada beberapa ayatnya, diceritakan tentang kisah pembunuhan yang terjadi di masa Nabi Musa as. Masyarakat saat itu tidak mengetahui siapa pembunuhnya dan terjadi saling tuduh-menuduh.

Hingga akhirnya, mereka mendapatkan informasi dari Nabi Musa as. untuk menyembelih sapi. Salah satu bagian tubuh sapi itu kemudian dipukulkan ke jenazah orang orang meninggal. Seketika, dengan izin Allah, orang tersebut hidup Kembali dan mengabarkan siapa gerangan yang membunuh dirinya. Intisari dari surat ini adalah menjelaskan tentang kebenaran petunjuk kitab suci untuk kemudian diamalkan isinya. Detal ajaran kitab suci, salah satunya, dijelaskan dalam surat ini.

3. Ali Imran

Ali Imran bermakna keluarga Imran. Imran adalah ibu dari Maryam, ibu Nabi Isa as. sehingga, Imran adalah kakek dari Isa as.

Surat ini berisi tentang kehebatan Allah Swt. yang Dia tampakkan lewat hamba-hambaNya. Beberapa di antaranya adalah Maryam yang hamil tanpa melakukan hubungan badan, Zakariya yang memiliki anak padahal ia adalah orang yang mandul, dan Isa as. adalah bayi ajaib yang memiliki banyak kelebihan.

Oleh karenanya, dapat dikatakan bahwa intisari dari surat ini tentang mengesakan Allah Swt (tauhid). Hal ini karena beberapa kehebatan yang dimiliki manusia-manusia di atas adalah mutlak karena pemberian dari Allah Swt.

4. An-Nisa’

Arti dari An-Nisa’ adalah perempuan. Beberapa masalah perempuan dibahas dalam surat ini. Intisari surat ini adalah permasalahan tauhid yang telah dibahas dalam surat Ali Imran.

Selain itu, dalam surat ini juga dibahas tentang ketentuan-ketentuan agama yang telah dibahas dalam surat Al-Baqarah. Kesemuanya itu dilakukan dalam rangka melaksanakan ajaran agama, sebagaimana dibahas pada surat Al-Fatihah. Hal lainnya yang tak kalah penting adalah peringatan untuk umat muslim agar tidak terpecah belah.

5. Al-Maidah (Jamuan)

Al-Maidah berarti hidangan. Tujuan utama uraian surah ini adalah mengajak untuk memenuhi tuntunan Ilahi yang termaktub dalam kitab suci dan didukung oleh perjanjian yang dikukuhkan oleh nalar, yakni berkaitan dengan keesaan Allah Pencipta, serta yang berkaitan dengan limpahan rahmat terhadap makhluk, sebagai tanda syukur atas nikmat-Nya, dan permohonan menolak murka-Nya.

6. Al-An’am (Hewan Ternak)

Tujuan utama surah ini adalah memantapkan tauhid dan ushûluddîn/prinsip-prinsip ajaran agama. Ajaran tauhid menggambarkan keesaan Allah dan kekuasaan-Nya. Allah swt. yang mewujudkan dan mematikan, dan Dia juga yang membangkitan dari kematian.

Di samping persoalan keesaan Allah dan keniscayaan Hari Kiamat, ayat-ayat surah ini mengandung penegasan tentang hal-hal yang diharamkan-Nya sambil membatalkan apa yang diharamkan manusia atas dirinya karena hanya Dia sendiri yang berwenang menetapkan hukum dan membatalkannya, termasuk membatalkan apa yang ditetapkan manusia, seperti yang dilakukan oleh kaum musyrikin menyangkut binatang dan sebagainya. Inilah yang diisyaratkan oleh namanya, yakni al-An‘âm.

7. Al-A’raf Ttempat yang Tinggi)

Kandungan surah ini merupakan perincian dari sekian banyak persoalan yang diuraikan oleh surah al-An‘âm, khususnya menyangkut kisah beberapa nabi. Al-Biqâ‘i berpendapat bahwa tujuan utamanya adalah peringatan terhadap yang berpaling dari ajakan yang disampaikan oleh surah al-An‘âm, yakni ajakan kepada Tauhid, kebajikan dan kesetiaan pada janji, serta ancaman terhadap siksa duniawi dan ukhrawi.

Bukti yang terkuat menyangkut tujuan tersebut—tulis al-Biqâ‘i—adalah nama surah ini “al-Arâf”. Menurut al-Biqâ‘i, al-Arâf adalah empat yang tinggi di surga. Memercayai al-A‘râf mengantar seseorang berada di tempat yang tinggi itu, di mana ia dapat mengamati surga dan neraka dan mengetahui hakikat apa yang terdapat di sana.

8. Al-Anfal (Harta Rampasan Perang)

Tema utama dan tujuan penting dari uraian surah ini adalah untuk menekankan bahwa manusia tidak memiliki kemampuan mendatangkan manfaat, tidak juga kekuatan menampik mudharat kecuali berkat dan atas bantuan Allah swt.

Ini untuk mengantar mereka berserah diri kepada Allah, berpegang teguh pada tali agama-Nya yang pada gilirannya mengantar kepada persatuan dan kemenangan menghadapi musuh-musuh Allah. Ini—lanjut al-Biqâ‘i—dapat terlihat dari pesan ayat-ayat surah yang lalu yang memerintahkan agar mengikuti perintah Allah dengan penuh kepatuhan, penyerahan diri, dan kerelaan; serta mengembalikan semua kekuatan kepada Allah—sebab kalau Dia menghendaki bisa saja Dia mencabutnya, sebagaimana terlihat dari uraian tentang al-Anfâl pada surah ini. Ketika itu, mereka berselisih tentang al-Anfâl (harta rampasan perang).

9. At-Taubah (Pengampunan)

Tujuan utama surah ini—menurut al-Biqâ‘i—adalah memusuhi yang berpaling dari ajakan surah sebelumnya untuk mengikuti siapa yang mengajarkan Tauhid dan menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Salah satu bukti paling jelas tentang hal ini adalah kisah al-Mukhallafîn (yang ditinggalkan karena enggan mengikuti Perang Tabuk) dan yang diuraikan ayat ini. Mereka pada akhirnya sadar dan bertaubat. Karenanya, surah ini dinamai surah at-Taubah.

10. Yunus (Nabi Yunus as.)

Tema utama surah ini adalah membuktikan bahwa kitab suci al-Qur’an benar-benar bersumber dari Allah swt., kandungannya penuh hikmah. Tidak satu makhluk pun yang mampu menyusun dan menghidangkan sesuatu yang dapat mencapai peringkatnya. Ini juga membuktikan bahwa Yang Mahakuasa itu, Esa dalam kekuasaan-Nya, tiada sekutu bagi-Nya dalam segala persoalan.

Salah satu bukti tentang hal ini adalah kisah kaum Yûnus as. yang beriman kepada Allah swt. setelah sebelumnya mereka membangkang dan diancam. Ini menunjukkan secara pasti bahwa penguasa hakiki adalah Allah swt. yang mereka percayai itu karena, seandainya bukan Allah swt., maka tentulah keimanan mereka terhadap-Nya justru mengundang jatuhnya ancaman itu dan bila mereka disiksa sebagaimana halnya umat yang lain akan ada yang berkata bahwa hal tersebut adalah peristiwa yang biasa terjadi dan di luar kehendak Allah.

Peristiwa yang dialami oleh kaum Nabi Yûnus as., seperti dikemukakan oleh ayat 98 nanti, membuktikan dengan amat jelas bahwa siksa yang dialami oleh umat-umat selain mereka benar-benar bersumber dari Allah swt. akibat kekufuran mereka.

Bahkan, telah terbukti dari pengalaman umat manusia bahwa setiap terdapat pendustaan/kekufuran yang telah melampaui batas dan yang pelakunya keras kepala, jatuh pula siksa Allah atas mereka. Sebaliknya pun demikian, setiap disadari dan dihindari pendustaan atau kekufuran itu—selama masih dalam batas waktu yang belum terlambat—ketika itu mereka terhindar juga dari siksa Allah swt.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...