Langsung ke konten utama

HARI YANG LANGKA

Asrama Al Ghozali sebagai salah satu asrama di PP. Darussalam Blokagung Bwi

Hari ini termasuk hari yang istimewa bagi saya, karena di hari ini ayah saya menyempatkan untuk sambang (ngirim) saya ke pesantren. Saya berani mengatakan seperti itu karena memang ayah saya ke pesantren yang saya tempati (pondok pesantren Darussalam blokagung banyuwangi) hanya dua kali ini -mudah-mudahan bisa ke tiga dan ke sekian kali lagi, amin-, pertama, dulu ketika masih baru-baru saya di pesantren, kalau tidak salah saat itu saya baru setahun di pesantren, kira-kira tahun 2004 (saya mulai menginjakkan kaki di pesantren tahun 2003), dan kedua hari ini.
Saya tak menduga kalau ayah saya akan ke sini (pesantren, red). Ini bermula dari jatuh sakitnya ibu saya yang mengakibatkan beliau tidak bisa ngirim saya, karena memang biasanya ibu saya yang ke pesantren.
Tadi malam, adik saya bilang kalau dia kapan hari SMS ke ibu, mau minta uang. Kata ibu, beliau akan mencari orang yang akan ke pesantren. Tapi kata ayah saya tidak usah, karena beliau sendiri yang akan mengantarkan uangnya.
Dan tadi pagi, ayah saya benar-benar datang ke pesantren. Saya mengetahui kalau ayah saya pergi ke pesantren dari ibu saya, itu bermula saat saya mengirim SMS ke ibu,
“Buk, lek njenengan tasek saket, mboten sah teng pondok mawon”, tanya saya.
“Le, bapak enjang niki teng pondok, sampean adang”, jawab ibu saya.
Tapi saya tidak langsung bisa ketemu dengan ayah saya. Karena ketika saya SMS, saya sedang Istima’ul Qur’an teman saya yan bertempat di ndalem (rumah) guru al qur’an saya, namanya ustad Imam. Saya keget, keyika ada teman saya mengakatan kepada saya kalau ayah saya sudah datang. Saya langsung bergegas ke kampus pondok untuk menemui beliau. Tapi ketika saya tanya ke teman saya yang berada di asrama, dia mengatakan kalau ayah saya ternyata sudah datang dari tadi. Dalam hati terlintas, “Berarti ayah saya sudah tiba di pesantren ketika saya SMS ibu saya tadi”.
Bersambung...
*Sebuah catatan kecil tanggal 12 Oktober 2010, untuk mengabadikan kedatangan ayah saya di pesantren, karena menurut saya ini merupakan suatu kejadian yang langka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...