Langsung ke konten utama

Egypt, Wait Me (Part 1)

Masjid Al Azhar dengan segala kemegahannya

 “Akhirnya, apa yang ku cita-citakan tercapai, rasa ingin belajar di negeri piramida, negeri nabi yusuf itu terpenuhi” itu yang selalu terlintas dalam hatiku hari ini. Bahagia, senang, bangga selalu menyelimuti perasaanku. Perjalanan menuju penginapan selalu aku ingat. Bangunan yang besar berjejer di pinggir jalan, gedung-gedung pencakar langit berderet menghiasi indahnya panorama siang hari di negeri spinx ini.  Dengan mengendarai mobil pick up ku lihat pemandangan yang berbeda dengan di indonesia. Namun setelah beberapa saat ku menyusuri jala-jalan bear itu, ternyata ada yang aneh dengan keadaan di negara itu. Ku lihat  sesuatu yang sama dengan di tanah air indonesia, ku lihat ada warung nasi yang bertuliskan “Warung Bu Fatimah”, langsung ku ambil kesimpulan bahwa itu waarung milik orang indonesia, satu lagi,  ku lihat ada toko besar, tpi aku tak tau pasti toko apa itu, toko material bangunan atau dealer motor, toko itu bertuiliskan “PONOROGO”, juga langsung terlintas dalam pikiranku, “ow, berarti itu toko miliknya orang ponorogo”. Seketika aku ingat perkataan salah satu temanku waktu masih di tanah air, “mesir itu sama kok dengan indonesia”, ada temanku yang lain yang berkata “di mesir itu kebanyakan mahasiswanya dari indonesia”. Setelah beberapa aku menjalani perjalanan yang lumayan jauh, akhirnyaaku sampai juga di penginapan yang aku tuju, penginapan yang telah di siapkan oleh orang yang membantu keberangkatanku ke mesir.
Besambung......


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...