Langsung ke konten utama

Egypt, Wait Me (Part 2)


 Kampus Al Azhar sebagai pusat pembelajaran

Alhamdulillah, teryata aku sepenginapan dengan Bisri Ihwan, temanku dari Indonesia yang menjadi insipiratorku dalam segala bidang selama ini. Ku berpelukan dengannya, pelukan rindu seorang sahabat. Aku juga bertemu dengan teman-temanku dari indonesia yang lain. Rumhnya tak terlalu besar, juga tak terlalu mewah, kalau aku boleh berpendapat, rumah itu seperti rumah orang desa.
Mendengar kedatanganku, teman-temanku yang lain, yang tempat kosnya berdekatan dengan tempat kosnya cak bis (panggilan bisri ihwan saat di pesantren dulu)..
Salah satu teman berkata kepadaku, “nginep di rumah(kis-kosan)ku aja”. Setelah ku pikir-pikir, akhirnya ku menjawab pertanyaan itu, “ngga’ kang”. “Ku ingin selalu bersama cak bis, karena ku yakin dia bisa membimbingku dan aku berharap bisa meniru kebiasaan baiknya, terutam dalam hal  tulis menulis, karena dia sangat suka menulis”. Pikirku saat itu.
Tiba-tiba ada satu hal yang spertinya mengganjal benakku. Aku terkejut ketika aku tahu bahwa aku hanya membawa unag 300 ribu rupiah, aku cari terus uang disaku baju dan di tas, berharap ada uang terselip di sana. Tenyata, usahaku sia-sia, aku hanya menemukan tumpukan uang kecil yang kira-kira jumlahnya sekitar 50 ribu. Langsung terlantas dalam fikirku, “apa cukup uang 350 ribu ini untuk ku buat bekal hidup di negeri mesir ini, toh aku belum tahu jelas berapa harga kebutuhan pokoknya, yang jelas mahal” kata-kata yang aku fikirkan.
Langsung, terpikir olehku satu jalan keluar untuk menghubungi keluargaku di indonesia. Inginku ambil handpone, eh ternyata HP ku tertinggal di kantor keamanan sebuah pesantren tempat ku menuntut ilmu dulu. Bingung, cemas jadi satu.
Kemudian aku terbangun dari tidurku, ku lihat jam dinding yang terpampang di tembok kamar R 03, jam sudah menunjukkan pikil 13.50 WIS. Eh, ternyata kejadian yang aku alami tadi hanya sebuah mimpi.

Hikmah 
Astaghfirullah, Alhamdulillah, Subhanallah.......
Astaghfirullah : karena aku sangat terkejut dengan masalah dalam mimpiku tadi, masak ke mesir hanya bawa uang 350 ribu, nggak bawa HP lagi.....
Alhamdulillah : karena kejadian itu hanya mimpi, bukan kejadian nyata.
Subhanallah : itu semua adalah kebesaran Allah SWT yang bis amenjadikan segala sesuatu, termasuk mimpiku tadi.
Seolah-olah itu adalah kenyataan yang aku alami. Menimba ilmu di mesir adalah keinginanku, cita-cita untuk menelusuri negeri nabi yusuf itu sudah teranam dalam hatiku sejak dulu.
Ya Allah, jika mesir merupakan tempat yang pantas bagiku tuk ku mencari ilmu, mudahkanlah ya robb. Tapi jika tidak, tunjukkan bagiku mana yang terbaik, ku ingin menimba ilmu di luar negeri. 
Egypt, Wait Me.....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...