Langsung ke konten utama

Asal Mula Valentine



Suatu ketika paman Si Silvi baru pulang dari kota. Di kota, ia menjadi seorang distributor sebuah prabrik roti di daerah bekasi.
Mendengar pamannya akan pulang, Silvi senang bukan kepalang. Sebenarnya senangnya Si Silvi juga bukan alasan. Ada satu hal yang diharapkan Silvi dari pamannya itu. Oiya, saya lupa mengatakan bahwa nama paman Silvi ini adalah Entin.  

Kala pamannya sudah sampai rumahnya, Si Silvi kebetulah masih sekolah. Jadi, Silvi tak mendapati pamannya menginjakkan kaki di halaman rumahnya untuk pertama kali. Kebetulan rumah paman Silvi hanya berjarak beberapa meter dari rumah Silvi.
Namun, gayung tak bersambut, ketika Silvi pulang sekolah, sang paman sedang istirahat.
Hingga pada malam harinya, Si Silvi datang ke rumah pamanya dengan satu misi: meminta oleh-oleh. Namun, apa boleh dikata, pamaanya ternyata lupa untuk membelikannya. Jadilah Si Silvi ngambek tingkat dewa. Bagaimana tidak, oleh-oleh sang paman yang didam-idamkan sejak lama, ternyata tak ada.
Si Silvi pulang dengan tangan kosong. Mukanya merah. Bentuk mulutnya tak beraturan. Cemberut. Cara berjalannya pun sudah ogal-ogalan. Agak lunglai, namun juga agak cepat. Pokoknya, keadaan Silvi saat itu tidak stabil.
Keesokan harinya, pamannya datang ke rumah Si Silvi untuk meminta maaf. Sang paman juga berjanji untuk membelikan oleh-oleh penggantinya. Namun , tak sekarang. Sang paman mengatakan bahwa oleh-oleh yang akan dibelikan ini sangat mahal dan begitu berharga.
Si Silvi menerima kesepatakan itu. Dia bersedia menunggu kapanpun waktunya.
Hingga dua bulan kemudian, sang paman menepati janjinya. Dia membelikan suatu boneka yang sangat besar. Hampir seukuran badan Si Silvi. Boneka itu dibungkus kardus dan ditaruh di atas almari kamar orangtua Silvi.
Namun, meskipun oleh-oleh pengganti itu sudah dibelikan, sang paman tak memberikannya kepada Si Silvi. Boneka itu diberikan kepada ibunya silvi dan akan diberikan kepada Silvi pada hari ulang tahunnya. Itung-iitung sebagai kado.
Hingga, tibalah waktu itu.
Oleh sang ibu, hadiah itu ditaruhnya di kamar Si Silvi tatkala ia masih tidur.
Pas bangun, Si Silvi sangat kaget melihat ada boneka besar di  kamarnya. Ia berteriak, “Ibu, ini dari mana?,” “Itu dari PAK LEK ENTIN.”
Sekian dan terima kasih.
#diedit.seperlunya.subtansi.tetap.sama
#minggu.14.pebruari.2016
#jakarta.selatan.06.39.wib

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...