Meskipun tak bisa dijadikan
pijakan utama dalam menentukan pilihan, setidaknya logika harus juga kita
pertimbangkan keberadaannya. Saya katakan demikian, karena, pertama, manusia
mempunyai hati. Terkadang, hati ini tak sesuai dengan logika. Karena memang wilayah
hati iti berbeda dengan wilayah logika. Wilayah hati itu rasa. Intusisi.
Sudah. Kita kembali ke
pembicaraan awal, logika.
Logika, jika jarang digunakan
akan berdampak pada matinya logika itu sendiri. Ibarat pisau, jika lama tak
digunakan, maka ia akan tumpul.
Di sisi lain, menggunakan logika
untuk berfikir, bukan hanya bertujuan agar ia tak mati. Namun, juga agar kita
tak termasuk orang yang mengingkari nikmat Tuhan. Tau sendiri kan apa akibat
jika ingkar?
Logika sesorang berbanding lurus
dengan apa yang ia alami dan ketahui. Bukan usainnya. Terkadang ada orang yang masih
muda, namun ia jago dalam berlogika. Begitu juga sebaliknya.
Penggunaan logika adalah mutlak
adannya. Terlepas logika yang digunakan itu sudah benar atau belum. Ini urusan
lain.
Aku berlogika maka aku ada.
Jakarta Selatan, Rabu, 17
Pebruari 2016. 07.43 WIB

Komentar
Posting Komentar