Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2016

Matrealistik, Agama, dan Budaya Kota

“Bukan kesitu, Mas, tujuannya. Di kota, memang riilnya seperti itu.” -Sang Pembangun Peradaban- Ada yang saya fikirkan ini mungkin agak berbeda dengan apa yang difikrkan oleh orang kebanyakan. Meskipun begitu, juga tak menutup kemungkinan ada yang berfikir sama seperti saya, namun tak banyak. Perihal apa? Yups, perihal menjual ayat-ayat Tuhan. Di kota.

Memahami Perbedaan

“Apa yang dalam pandangan orang lain benar, bisa jadi salah dalam pandangan saya. Dan apa yang menurut saya benar, bisa jadi salah dalam pandangan orang lain.” Apa yang kita anggap salah saat ini, mugkin bisa dianggap benar oleh orang lain. Begitu pula sebaliknya. Ketika kesalahan itu terlanjur kita lakukan, sikap terpenting yang harus kita segerakan adalah mendengar kritikan orang lain dan mengakui kesalahan. Jelas, kan?.

Belajar dari Kesalahan

Saya mempunyai seorang guru yang sangat bijaksana. Ketika menjelang boyong (lulus dari pesantren), sang guru berpesan kepada saya, “Tolong apa yang kurang dari pesantren ini kamu utarakan. Untuk bahan koreksi. Tak perlu kamu katakan tentang apapun kelebihan pesantren kita ini.” Begitulah kurang lebihnnya.

Tantangan Berbuah Sate

Menerima tantangan? Siapa takut. Tantangan tadi malam berasal dari Bos Amri. Sederhana sih. Cuma push up. Jumlahnya? Rahasia, dong. Sengaja sih dirahasiakan. Karena kalau sedikit, ntar dikira nggak kuat alias cemen. Kalau kebetulan menurut pajenengan banyak, sayanya yang nggak enak. Takut dikira Superman. Padahal kan Superman Is Dead. Wkwkw.