“Bukan kesitu, Mas, tujuannya.
Di kota, memang riilnya seperti itu.”
-Sang Pembangun
Peradaban-
Ada yang saya fikirkan ini
mungkin agak berbeda dengan apa yang difikrkan oleh orang kebanyakan. Meskipun begitu,
juga tak menutup kemungkinan ada yang berfikir sama seperti saya, namun tak
banyak. Perihal apa? Yups, perihal menjual ayat-ayat Tuhan. Di kota.
Dulu, pas saya belum terlalu
mengenal budaya kota, saya mengira orang kota itu matre. Sukanya hanya harta. Semua
dijualbelikan dengan uang, temasuk agama. Itu pandangan saya dulu. Dulu. Iya,
dulu. Sekarang?
Setelah saya amati, ya memang seperti
itu.
Ya, orang kota memang seperti
itu. Namun, pandangan saya sekarang terkait hal ini berbeda dengan pandangan
saya dulu. Saya menganggap ini karena perbedaan cara pandang, tuntutan dan
budaya yang memang tak sama antara desa dan kota. Dulu masih sempit wawasan
saya. Sekarang? Ya lumayan lah. Sudah sedikit terbuka.
Begini.
Hidup di kota, bagi saya, memang sangat
keras. Ketat. Tak sama dengan di desa.
Di desa, toleransi dan tolong
menolong masih sangat murni dan utuh. Di kota? Oh, jangan harap. Pada tulisan
ini, saya akan mencoba menjelaskan sedikit-sedikit.
Ini hanya perkiraan saya, lho. Bukan
suatu fakta yang harus diamini oleh semua orang. Saya bukan penngamat.
Budaya yang serba matrealistik
ini diawali oleh satu dua orang saja. Tidak semua. Sedikit demi sedikit, budaya
matre ini mulai membudaya dan menular sampai ke pelosok kota pinggiran
sekalipun.
Karena sudah menjadi budaya, mau
tak mau, agama pun turut terbawa arus metropolis ini. Bagaiamana tidak coba?. Jika
kita hidup di kota, apa yang kita inginkan harus ditukar dan dibayar dengan uang.
Tidak bisa tidak.
Di samping itu, yang hidup di
kota itu bukan orang yang mempunyai gelar (maaf) keduniaan saja, yang otomatis
mereka berhak menjualbelikan ijazahnya. Namun lebih dari itu, orang-orang “suci”
juga hidup di sana.
Karena kehidupan kota yang memang
super ketat, yang setiap hari orang selalu disibukkan oleh uang, maka semua
orang pun harus mau terjun ke lembah metropolis ini.
Hal ini, secara tidak langsung, telah
memaksa orang-orang yang faham agama (baca: ustaz) untuk ikut-ikutan menjual
apa yang ia miliki. Apa itu? Maaf, agama.
Lha, sekarang sudah jelas,
mengapa para ustaz itu juga mempunyai jiwa matre. Ya, karena tuntutan ekonomi
dan budaya yang mendukung.
Jika hal ini difahami oleh mereka
yang tak pernah hidup atau mengetahui yang beginian, niscaya mereka akan menganggap
hal ini tabu. Termasuk saya, dulu.
Namun, hal ini memang wajar adanya
jika dilihat dari kacamata budaya dan keadaan yang memang mengharuskan seperti
ini.
Ketika saya hendak memutuskan
untuk belajar ke kota, seorang guru pernah menasehati saya. Ketika itu saya
disuruh untuk mandiri pas hidup di kota-tentunya dengan apa yang saya miliki
saat itu (ngaji dan agama)-saya menganggap “hidup dengan mejual agama” di kota
itu adalah hal yang tabu. “Bukan kesitu mas tujuannya. Di kota, memang riilnya
seperti itu.”
Tabukah “menjual agama” di kota? Bisa
tidak. Bisa iya.
Untuk kajian yang sama terkait
hal ini, insyaallah akan saya bahas di tulisan berikutnya.
Ini hanya uneg-uneg saya saja. Bisa
saja pandangan saya ini salah.
Bagaimana menurut anda?
Jakarta Selatan, 29 Maret 2016.
Komentar
Posting Komentar