Saya mempunyai seorang guru yang
sangat bijaksana. Ketika menjelang boyong (lulus dari pesantren), sang guru
berpesan kepada saya, “Tolong apa yang kurang dari pesantren ini kamu utarakan.
Untuk bahan koreksi. Tak perlu kamu katakan tentang apapun kelebihan pesantren
kita ini.” Begitulah kurang lebihnnya.
Dari kejadian itu saya mulai
berfikir dan akhirnya menghasilkan satu kesimpulan: belajarlah dari kesalahan. Iya,
belajar dari kesalahan.
Ada ungkapan yang mengatakan
bahwa “belajar bisa dari mana saja”. Berarti termasuk juga dari kesalahan. Entah
itu kesalahan yang kita lakukan sendiri atau yang dilakukan orang lain.
Dari kesalahan-kesalahan itu kita
dituntut untuk lebih berfikir dan intropeksi diri. Dimana letak kegalalannya
dan apa penyebabnya. Itu saja sebenarnya. Simple.
Lantas bagaimana dengan kebaikan-kebaikan
yang kita telah kerjakan? Ada dua jawaban dari saya, (1) bisa ditiru untuk
dilakukan pada kesempatan yang lain atau (2) dilupakan saja dan anggap tak
pernah mengerjakannya.
Jawaban yang pertama dan kedua
memang sangat berbeda. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya.
Kalau kita melihat dari sudut
pandang bahwa pembelajaran (agar menjadi bahan acuan), okelah, itu benar dan
memang harus dilakukan untuk meraih kesuksesan yang lain. Namun, jika dalam melihatnya
kita menggunakan kacamata “agar tidak sombong”, maka semua kebaikan yang pernah
kita kerjakan haruslah dilupakan.
Jakarta Selatan, 19 Maret 2016
cocok ..
BalasHapusdi tunggu opini yang lainnya...