Saya sedang berusaha untuk merutinkan membaca. Bukan membaca apa saja. Tapi khusus membaca teks. Lebih tepatnya: buku.
Saya sangat bersyukur diberi anugerah oleh Allah swt. bisa senang terhadap buku. Jujur saja, saya jarang sekali beli baju. Tapi kalau urusan buku, jangan ditanya.
Buku saya banyak banget. Itu bukunya saja, lho, ya. Tidak ada urusan dengan apakah buku itu sudah dibaca atau hanya menjadi hiasan
almari.
Setelah buku-buku saya berjajar
di almari begitu banyak, saya mulai berpikir terhadap kegunaan lebaran-lembaran
buku itu. Saya mulai merasa bahwa berjejernya buku-buku itu akan menjadi hal
mubadzir jika tidak dibaca. Terlebih dibaca oleh saya sendiri.
FYI, buku saya yang terbesar
adalah tafsir Al-Misbah karya Prof. Dr. Quraisy Shihab, MA. Buku itu saya beli
pada bulan juni 2015 sebagai hadiah dari orang tua saya karena saya telah
menghafalkan Alqur’an 30 juz.
Suatu hari ibu saya bertanya, “Lha
buku-buku itu apa sudah dibaca, Nak?”, kata beliau sambul menunjuk tafsir
Al-Misbah di almari. Saya menjawab bahwa buku itu sudah saya baca tapi tidak
semuanya. Memang pada kenyataannya, saya sudah membacanya meski hanya beberapa
lembar saja.
Kembali ke pambahasan awal. Saya
sangat setuju dengan ungkapan yang berbunyi,
“Buku adalah jendela dunia”.
Persinggungan saya dengan buku sudah
berlangsung sejak beberapa tahun yang lalu, sejak saya duduk di bangku SLTP.
Sekedar bernostalgia. Bahkan
karena seringnya saya berkunjung ke perpustakaan, saya pernah ditawari untuk
menjadi penjaga perpus. Awalnya saya menolak dengan suatu alasan. Namun beberapa tahun kemudian, tawaran itu ada
lagi dan saya pun menerimanya.
Buku yang saya gemari untuk
dibaca hari-hari ini adalah buku-buku karya Prof. Dr. Quraisy Shihab, MA..
Entah mengapa saya suka banget buku-buku karya profesor tafsir tu.
Menurut saya, beliau adalah sosok
ilmuan yang sangat realistis dan obyektif. Saya tak mempermasalahkan apakah
beliau benar-benar berkaidah Syiah atau tidak. Saya tetap yakin beliau adalah ahlussunah
wal jamaah.
Karena banyaknya karya beliaiu,
saya kadang berpikir, “Saya saja membaca buku beliau, dalam beberapa bulan
hanya menyelesaikan satu dua buku saja. Terus bagaiamna dengan beliau, ya?.
Beliau mampu menulis buku yangs sedemikian banyak. Saya tambah yakin dan mantap
bahwa ilmu beliau pasti luas banget. Pasti banyak ilmu beliau yang belum atau
tidak berbentuk teks. Saya sangat yakin itu”.
Beliau menulis begitu banyak buku
dengan berbahagi hal. Saya bisa memahaminya. Seorang ahli tafisr memang dituntut
dan wajib mengetahui berbagai disiplin ilmu.
Pondok Labu, 04 September 2016. 22.42
WIB.
Komentar
Posting Komentar