Langsung ke konten utama

Menulislah dengan Hal Termudah




Saya punya banyak hal untuk
ditulis malam ini. Ada tiga hal yang menurut saya menarik. Pertama, tujuan
belajar ilmu tasfir. Kedua, akhlak dan ilmu. Dan ketiga adalah cara menjadi
penulis bagi pemula.




Dari ketiga hal itu, saya memlih
yang ketiga. Alasannya apa? Ya, urusan mud saja, sih. Nggak ada yang lain. Ya begitulah
penulis. Selalu menulis apa saja yang iya gemari dan sukai.




Saya teringat dosen saya pagi
tadi. Namanya bapak Ansor Bahari.


Dalam menulis, beliau selalu mengikuti
hatinya. Selalu urusan internal dirinya. Bukan eksternal. Prinsipnya adalah
yanng penting menulis. Menulis dengan cara yang menurutnya baik dan benar. Menulis
yang membuatnya nyaman. Ia tak peduli apakah tulisannya akan “laku” di pasaran
atau tidak.


Beliau menambahkan, kalau tulisanya
diapresiasi orang lain, itu bonus. Kalaupun tidak, ia tak mempermasalahkannya.
Yang benting baginya adalah menulis.


Yups, hasil tak pernah
menghianati usaha. Proposal disertasinya diterima penerbit Mizan sebagai penerima
beasiswa. Beliau berhak mendapat bimbingan dari beberapa profesor pengujinya
dalam menyelesaikan penulisan tugas akhir program doktoralnya.


Selain itu, belaiu juga
mendapatkan uang sebesar Rp.2.200.000,- tiap bulan dalam dua tahun. Juga, tiga
buah buku selalu juga ia peroleh tiap bulannya. Alhamdulillah.  


Itulah beliau. Menulis dengan
hati. Menulis untuk kesenangan pribadi. Tak peduli apakah dinilai baik oleh
orang lain atau tidak. Memang begitulah seharusnya penulis. Apalagi penulis
pemula.


Saya sering dicurhati teman-teman
yang ingin mulai menulis.


Mereka selalu bertanya bagaimana
menjadi penulis yang baik dan benar. Jawaban saya simpel, “Tulislah apa yang
ada di otak. Apapun itu. Buruk atau baik tulislah!”.


“Lha entar kalau dinilai buruk
gimana?”.


Ya, saran saya adalah tulislah.
Udah itu saja. Bukan publikasikanlah. Saya rasa kedua kata itu berbeda. Menulis
adalah usaha memindahkan ide menjadi tulisan. Sedang publikasi adalah usaha
ntuk memperlihatkan tulisan hasil karya kita kepada khalayak ramai.


Tugas kita adalah menulis.
Setelah jadi tulisan utuh, beda lagi urusannya. Terserah kita. Apakah tulisan
itu akan kita share ke publik atau hanya akan menjadi tumpukan kertas di almari
atau file di folder laptop saja. Sekali lagi, urusan publikasi adalah urusan
yang berbeda dengan menulis.


Lha, dari situ, kalau kita sudah
terbiasa menuliskan segala apa yang terlintas dalam otak menjadi bentuk
tulisan, saat itulah saatnya kita mulai menulis hal-hal yang serius.


Logikanya begini: menulis hal
yang mudah saja kita tak bisa dan masih kesulitan, apalagi menulis hal-hal
dengan tema serius. Oleh karenanya, mulai menulis dengan hal yang termudah.


Pondok Labu, 5 September 2016.
23.05 WIB.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...