Langsung ke konten utama

Mari Belajar dari Sopir Angkot yang Satu Ini!









Menjelang maghrib Jumat kemarin,
seorang teman meminta saya untuk datang ke tempat tinggalnya di daerah Pondok
Cabe. Karena posisi saya di Pondok Labu, sehingga untuk ke sana via angkot
hanya bisa dilalui dengan 2 (dua) cara: (1) angkot yang laungsung Pondok Labu-Pondok
Cabe atau (2) Pondok Labu-PDK kemudaian naik angkot PDK-Pondok Cabe.




Durasi waktu yang paling cepat
yang dibutuhkan untuk sampai ke Pondok Cabe sebenarnya angkot pertama. Tapi
saya tidak memilih angkpt ini karena armadanya yanga sangat sedikit. Sehingga
untuk menunggu angkot ini, saya harus menghabiskan waktu yang lumayan panjang. Bahkan
dulu, saya pernah menunggu hampir satu jam lamanya. Juga, saat kemarin itu
sudah malam, otomatis sangat langka lagi angkot yang beroperasi.


Satu-satunya cara yang bisa
ditempuh adalah angkot nomer dua, yaitu transit ke PDK. Kebetulan kameran ada
seorang teman yang sedang main di tempat saya di Pondok Labu yang saat itu juga
ia akan pulang dengan melewati PDK, akhirnya saya berinisiatif untuk numpang
saja. Hitung-hitung menghemat keuanganan. Hehe. 







 Sumber Gambar: https://transportinfo.files.wordpress.com




Karena malam, saya tidak
mengenakan helm. Maaf, ini jangan ditiru. Tidak baik. FYI, baik siang atau
malam, jalur jalur Pondok Labu-Lebak Bulus, aman-aman saja. Tak ada polisi yang
razia. Dan jika ada pun hanya polisi lalu lintas.


Setelah sampai di PDK, saya
menunggu angkot yang akan melewati Pondok Cabe. Jika dari arah Lebak Bulus (yang
otomatis akan juga melewati Pondok Cabe), ada dua angkot yang bisa ditumpangi. Pertama,
angkot jurusan Pamulang, warna putih biasanya. Dan kedua, angkot jurusan
Parung, biasanya warna biru. Alhmdulillah malam kemarin itu saya dapat angkot
yang biru.


Dengan menenteang tas, dan
berpaiakan kaos dan sarung, saya masuk angkot. Malam itu, angkot tak begitu
banyak penumpangnya. Lumayan longgar. Hanya ada beberapa saja. Mungkin ini
karena banyak orang di Jakarta dan sekitarnya yang menggunakan kendaraan
pribadi, baik mobil maupun motor. Dan karena inilah, Jakarta macetnya minta
ampun. Apalagi jam segitu, macet sedang dalam puncak-puncaknya. Hal ini karena
memang sedang banyak-banyaknya orang pulang kerja.


Karena berangkat agak buru-buru,
barang-barang yang saya masukkan di tas tak begitu rapi penataannya. Cas hp dan
headset saya masukkan di saku tas yang paling kecil. Padahal di situ tempat saya
menaruh pulpen dan barang-barang kecil lainnya. Sehingga dalam angkpt pun, saya
“terpaksa” memindahkan dua barang itu ke tempatnya yang layak seperti biasanya.


Sekitar setengah jam setelahnya,
saya bilang ke Pak Sopir, “Pak, depan kiri, ya!”. Sejurus kemudia angkot
berhenti, saya turun dan memberikan uang pecayan lima ribuan cetakan baru
sebagai biaya transportasinya. Alhamdulillah saya telah sampai di Pondok Cabe
dengan selamat.


***


Ada hal berbeda yang saya rasakan
dalam angkot malam itu. Saya merasa ada yang aneh. Pasalnya tak biasanya saya
merasakannya jika di dalam angkot. Satu rasa yang membuat saya nyaman. Apa itu?
Wangi. Iya, sopir itu memasang pengharum ruangan di atap angkotnya. Sebagai penumpang
saya sangat bahagia. Saya yakin penumpang lain pun merasakan hal yang sama.


***


Dari angkot malam itu saya mendapat
pelajaran bereharga. Suatu pelajaran yang bisa diterapkan dalam kehidupan
sehar-hari, yakni tentang tatacara dan adab berkompetisi.


Sopir angkot malam itu
mengejarakan bahwa dalam berkompetisi harusnya mengunggulkan potensi,
kelebihan, visi misi antar para peserta kompetisi. Saling menampilkan program
kerja masing-masing. Saling menarik simpati orang lain agar mendukungnya. Bukan
justru saling menjatuhkan satu sama lain.


Jika hal ini (saling menjatuhkan)
dianggap legal, maka akan terjadi gonjang-ganjing di tengah-tengah kita. Dan kesemuanya
itu akan menimbulkan rasa tidak nyaman, bukan hanya pada psikologi antar
perserta kompetisi, bahkan kepada para penonton.


Bekompetisilah secara sehat,
Kawan!


Jakarta Selatan, 26 Maret 2017


























Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...