Dari sekian banyak teman di akun
FB saya, ada salah seorang yang sangat aktif menanggapi segala apa yang terjadi
di negeri ini lewat tulisan-tulisan yang diposting di akun FB-nya.
Sedari awal, sebelum ada
gonjang-ganjing penistaan agama ini, sejauh pengamatan saya, ia juga selalu
aktif mengkrtitik kebijakan pemerintah. Ormas-ormas keislaman juga tak luput
dari kritikannya. Bahkan ia juga tak segan-segan mengkritik ormas yang ia ikuti sendiri: NU.
Namun,
beberapa dari tulisannya, ia kadang juga memberikan apresiasi terhadap
kebijakan ormas-ormas yang ia nilai baik dan sesuai dengan kehendak hatinya.
Tapi untuk apresiasi kepada pemerintah, saya belum pernah menemukannya.
Bahkan jauh sebelum terpilihnya
presiden RI periode ini, Joko Widodo (Jokowi), ia kelihatan sekali kekurangsetujuannya
dengan Jokowi. Sedari awal memang bergitu. Jadi, sangatlah wajar jika sampai
saat ini ia sangat tidak suka dengan kebijakan- kebijakan yang dikeluarkan
pemeintah saat iini.
Teman saya yang satu ini memang
seroang yang aktif di bidang jurnalistik. Banyak buku yang ia sudah hasilkan,
baik berupa buku terjemahan, maupun buku yang ditulis sendiri. Beberapa website
juga dikelolanya. Saya juga tak meragukan keilmuan yang ia miliki. Ia lulusan
pesantren. Dalam dunia akademik, ia adalah seorang doktor, entah di bidang apa.
Kesehariannya, ia mengajar di sebuah universitas negeri Islam.
Terkait kasus penistaan agama
ini, akhir-akhir ini, saya menemukan hal yang janggal terhadap pola pikirnya.
Baru-baru ini, ia mengkritik Gus
Ishom, salah seorang rais syuriah PBNU yang menjadi saksi ahli kubu penista. Memang
akhir-akhir ini Gus Ishom sedang dibully habis-habisan di jagad maya karena
ikut mendukung si penista. Gus Ishom juga sudah menuliskan apa yang sebenarnya
terjadi di akun FB miliknya. Ia menyatakan bahwa ia sudah siap menerima resiko
apapun atas keputusannya mendukung si penista ini. Juga, setelah menelaah 30 kitab
tafsir, Gus Ishom menyatakan bahwa makna awliya’ dalam surat al-Maidah: 51 tidak
berkaitan dengan masalah pemilihan pemimpin. Jadi, menurut Gus Ishom, si
penista tidak menistakan agama Islam.
Teman saya yang mengkrtitik Gus
Ishom ini, menyatakan bahwa kritikannya itu didasarkan pada ketidaktaatan Gus
Ishom pada pemimpin tertinggi NU, yakni syuriah KH. Ma’ruf Amin dan KH.
Mifathul Akhyar. FYI, kedua kiai besar di NU ini memang menyatakan bahwa umat
islam harus memilih pemimpin muslim.
Nah, di sinilah kejanggalan ini
saya temukan.
Dulu, jauh sebelum Gus Ishom
menjadi saksi, teman saya ini sangat tidak setuju dengan si penista agama. Yang
secara otomastis-dalam pandangan saya-ia berpendapat bahwa makna awliya’ adalah
pemimpin. Karenanya, dengan ucapan “dibohongi pakai surat al-Maidah” itu
sudah termasuk menista agama Islam. Dengan kata lain, ia hanya mengakui bahwa makan
awliya’ hanya satu, yakni pemimpin.
Namun, di postingan terbarunya
akhir-akhir ini, ia mengatakan tak keberatan dengan pendapat Gus Ishom yang
menyatakan bahwa memang makna awliya itu tidak satu: bisa pemimpin bisa tidak.
Yang ia kritik adalah perbedaan pendapat Gus Ishom dengan pemimpin tertinggi
NU. Dinilainya, Gus Ishom tidak taat terhadap kiai NU.
Keksimpulan saya, yang dibenci teman
saya ini bukan penista agama, bukan pua Gus Ishom. Yang sesungguhnya ia benci
adalah pemerintah.
Sekian.
Jakarta Selatan, 26 Maret 2017
Komentar
Posting Komentar