Artis yang terkenal dengan goyang
ngebornya, Inul Daratista, baru-baru ini menyatakan ketidaksetujuannya terhadap
sosok ulama orang yang ia sebut pakai sorban dan mojok main skype seks dengan
seorang perempuan. Entah siapa yang sebenarnya ia maksud dengan sosok bersorban
itu. Yang jelas, dapat dipastikan ia sedang menyindir oknum ulama yang ia nilai
telah melanggar norma-nomra agama sehingga ia tak pantas dijadikan panutan.
Beberapa hari lalu memang ada berita
terkait oknum ulama yang melakukan chat seks dengan seorang perempuan. Entah berita
itu asli atau hoax. Yang jelas, saya tak mengetahui apakah sosok yang
disebutkan Inul itu ada atau hanya fiktif.
Pernyataan yang dilontarkan artis
dari Jawa Timur itu menuai banyak protes dari berbagai kalangan. Ada yang menyatakan
bahwa Inul telah mengina ulama sehingga ia layak untuk diprotes atau diboikot. Ini
saya lihat dari status beberapa teman media sosial Facebook.
Di awal saya jelaskan bahwa berita
tentang adanya chat seks itu masih simpang siur kebenarannya. Jadi, jika ada
orang tersinggung dengan pernyataan Inul, berati secara otomatis ia mengakui bahwa
oknum ulama itu melakukan pelanggaran itu benar-benar ada. Jurtru inilah yang menjadi jebakannya, meskipun tak
disengaja bagi Inul. Inul tak menjelaskan siapa oknum ulama yang ia maksud,
namun banyak orang yang kebakaran jenggot.
Kalau memang orang-orang itu tak mengakui bahwa sosok ulama
yang ia hormati itu tak pernah melakukan pelanggaran, maka tak pernlu ia
menggugat dan memprotes Inul. Yang perlu ia lakukan ialah menyatakan bahwa Inul
telah berbicara tanpa bukti. Atau bahasa kasarnya, Inul ngaco. Atau harusnya ia
diam saja karena memang tak oknum ulama yang melakukan pelanggaran.
Dan jikapun sosok ulama bersorban yang dimaksud Inul itu
benar-benar ada, maka ini juga pantas kita sesalkan. Mengapa sosok ulama yang
seharusnya menjadi panutan umat justru melakukan pelanggaran, yang dengan ini
bisa merusak wibawa sosok tersebut dan mengurangi kepercayaan masyarakat kepadanya.
Juga, kita harusnya berterima kasih kepada Inul. Jika memang
ada sosok ulama itu, Inul tak salah juga mengatakan hal itu. Ia hanya
menyatakan fakta yang telah diamini oleh banyak orang. Sebelum Inul, pasti
banyak media yang telah memberitakannya. Media-media inilah yang harusnya sejak
awal diprotes. Sekali lagi, jika memang ada sosok ulama yang telah melakukan pelanggran.
Namun yang harus kita akui bahwa suatu media yang kredibel akan melakukan
penelusuran ke lapangan sebelum memberitakan. Lain halnya dengan media
abal-abal.
Kita harus bertimakasih kepadanya karena telah mengingatkan
kepada kita bahwa tidak sepatutnya ulama melakukan hal seperti itu.
Jika ada orang yang menghujat dan menggugat Inul lantaran ia
telah menghina ulama atau berkata kotor, justru kita harus mengaca kepada
kenyataan di lapangan, apakah saat ini memang ada ulama yang sering melontarkan
kalimat-kalimat provokatif dan kotor ketika bicara di depan pulik? Kalau memang
ada, seharusnya ini juga harus menjadi bahan evaluasi kita.
Mari belajar dan berterimakasih kepada Inul!.
Jakarta Selatan, 27 Maret 2017
Komentar
Posting Komentar