Langsung ke konten utama

Terimakasih, Inul!




Artis yang terkenal dengan goyang
ngebornya, Inul Daratista, baru-baru ini menyatakan ketidaksetujuannya terhadap
sosok ulama orang yang ia sebut pakai sorban dan mojok main skype seks dengan
seorang perempuan. Entah siapa yang sebenarnya ia maksud dengan sosok bersorban
itu. Yang jelas, dapat dipastikan ia sedang menyindir oknum ulama yang ia nilai
telah melanggar norma-nomra agama sehingga ia tak pantas dijadikan panutan.


Beberapa hari lalu memang ada berita
terkait oknum ulama yang melakukan chat seks dengan seorang perempuan. Entah berita
itu asli atau hoax. Yang jelas, saya tak mengetahui apakah sosok yang
disebutkan Inul itu ada atau hanya fiktif.


Pernyataan yang dilontarkan artis
dari Jawa Timur itu menuai banyak protes dari berbagai kalangan. Ada yang menyatakan
bahwa Inul telah mengina ulama sehingga ia layak untuk diprotes atau diboikot. Ini
saya lihat dari status beberapa teman media sosial Facebook.


Di awal saya jelaskan bahwa berita
tentang adanya chat seks itu masih simpang siur kebenarannya. Jadi, jika ada
orang tersinggung dengan pernyataan Inul, berati secara otomatis ia mengakui bahwa
oknum ulama itu melakukan pelanggaran itu benar-benar ada. Jurtru inilah yang menjadi jebakannya, meskipun tak
disengaja bagi Inul. Inul tak menjelaskan siapa oknum ulama yang ia maksud,
namun banyak orang yang kebakaran jenggot.


Kalau memang orang-orang itu tak mengakui bahwa sosok ulama
yang ia hormati itu tak pernah melakukan pelanggaran, maka tak pernlu ia
menggugat dan memprotes Inul. Yang perlu ia lakukan ialah menyatakan bahwa Inul
telah berbicara tanpa bukti. Atau bahasa kasarnya, Inul ngaco. Atau harusnya ia
diam saja karena memang tak oknum ulama yang melakukan pelanggaran.


Dan jikapun sosok ulama bersorban yang dimaksud Inul itu
benar-benar ada, maka ini juga pantas kita sesalkan. Mengapa sosok ulama yang
seharusnya menjadi panutan umat justru melakukan pelanggaran, yang dengan ini
bisa merusak wibawa sosok tersebut dan mengurangi kepercayaan masyarakat kepadanya.


Juga, kita harusnya berterima kasih kepada Inul. Jika memang
ada sosok ulama itu, Inul tak salah juga mengatakan hal itu. Ia hanya
menyatakan fakta yang telah diamini oleh banyak orang. Sebelum Inul, pasti
banyak media yang telah memberitakannya. Media-media inilah yang harusnya sejak
awal diprotes. Sekali lagi, jika memang ada sosok ulama yang telah melakukan pelanggran.
Namun yang harus kita akui bahwa suatu media yang kredibel akan melakukan
penelusuran ke lapangan sebelum memberitakan. Lain halnya dengan media
abal-abal.


Kita harus bertimakasih kepadanya karena telah mengingatkan
kepada kita bahwa tidak sepatutnya ulama melakukan hal seperti itu.


Jika ada orang yang menghujat dan menggugat Inul lantaran ia
telah menghina ulama atau berkata kotor, justru kita harus mengaca kepada
kenyataan di lapangan, apakah saat ini memang ada ulama yang sering melontarkan
kalimat-kalimat provokatif dan kotor ketika bicara di depan pulik? Kalau memang
ada, seharusnya ini juga harus menjadi bahan evaluasi kita.


Mari belajar dan berterimakasih kepada Inul!.


Jakarta Selatan, 27 Maret 2017


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...