Langsung ke konten utama

“ATM” dan Hobi



Setelah sekian lama saya nggak nulis, kali ini saya ingin nulis lagi. Nggak tau mengapa, kok bisa ingin lagi. Memang sifat menusia itu mudah bosan.
 Sebenarnya saya juga nggak  tau apa yang akan saya tulis kali ini. Yang ada dibenakku adalah “hanya” saya pokoknya harus nulis.
Walaupun pada dasarnya, keberadaanku disini juga tak bisa lepas dari yang namanya tulis-menulis. Namun saya kurang bisa menikmati (dalam hal tujlis menulisnya tentunya). Karena apa yang saya tulis adalah tulisan dalam bentuk makalah. Pasti anda juga tau sendiri kan, makalah itu bahasannya kaku, harus resmi, dan penuh dengan aturan. Dan itu, bagiku, kurang baik bagi orang yang baru bersemangat untuk menulis. Seperti saya.
***
Sudah jamak diketahui bahwa dalam dunia kekreatifitasan kita mengenal singkatan ATM (Ambil, Tiru, dasn Modifikasi). Dan ini berlaku untuk semua bidang.

Pertama, ambil. Saya tidak akan membahas apa itu hobi atau kesenangan. Langsung saja, ambil di sini berarti kita harus mau mengambil apa saja yang ada disekitar kita. Tentunya dalam pengertian yang positif. Yag sesuai dengan hobi kita. Ini agar  kita tak mudah bosan. Ambil. Ambil. Dan ambil.
Karena tentunya, apa yang kita tekuni adalah sesuatu yang harus kita cintai. Inilah yang nanti akan menjadi hobi kita. Kalau sudah hobi, semua akan teras ringan. Akan teras menyenanngkan.
Dan dalam mengembangkan sebuah hobi, kita harus punya idola.
Kedua, tiru. Pada tahapan ini kita “hanya” disuruh untuk meniru apa pun yang dilakukan  oleh seorang idoal kita. Tiru pokoknya. Apapun itu. Karena kalau kita sudah bisa meniru semua apa yang idola kita kerjakan, kita akan merasakan bagaimana cara dan triknya dalam menekuti sebuah bidang.
Tapi kedua rumus di atas belumlah cukup. Kita harus beranjak ke rumus yang ketiga, rumus yang terakhir. Apa itu?
Ketiga adalah modifikasi. Lah, pada tahapan inillah sesunggguhnya kita berhadapan dengan tahap yang paling penting. Kenapa? Karena pada tahapan ini kita benar-benar mendayagunakan kemampuan kreatifitas kita. Ini bertujuan, agar dalam mengembangkan sebauh perkerjaan atau hobi itu kita bisa memiliki ciri khas. Dan inilah yang paling penting
Karena, kalau kita hanya berada pada tahapan yang pertama dan kedua, kita belum bisa dinamakan seseorang yang kreatif.
Pada akhir tulisan ini saya ingin memberikan sebuah ilustrasi.
Semisal kita ingin bisa bertaushiyah dengan baik, maka kita harus punya idola. Siapalah dia tak begitu penting. Yang penting idola itu cocok dengan minat kita. Sangat banyak penceramah tekenal di negeri ini. Semisal almarhum KH. Zainuddin MZ.
Proses pertama adalah kita harus mengambil apapun yang beliau praktekkan dalam berceramah. Mulai dari gerak, mimik, ataupun gaya bercandanya. Pokoknya semuanyalah. Harus kia ambil dan awasi (sebenarnya huruf A, dalam ATM, juga bisa diartikan sebagai “Awasi”).
Setelah itu, kita harus bisa meniru semua itu. Kalau kita sudah bisa meniru, berarti kita sudah bisa seperti apa yang kita idolakan. Sudah sama. Mirip.
Nah, pada tahapan yang terakhir, kita harus bisa memodifikasinya. Karena inilah yang akan menjadikan kita beda dari penceramah idola kita itu. Atau dalam arti yang lebih luas: dari penceramah-penceramah yang lain. Kita harus menambah dan mengurangi sana siini. Hias sana hias sini. Dan seterusnya dan selanjutnya. Walhasil, kita akan mejadi “duplikat” KH. Zainuddin MZ namun dengan rasa yang berbeda.
Sekian dulu ya, kapan-kapan di sambung lagi.
Pondok Pesantren Bayt al-Qur’an, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten.
Sabtu, 04 Oktober 2014. 06.07 WIB. (Sambil mendengarkan sima’an al-Qur’an)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...