Langsung ke konten utama

Catatan di Tahun Baru HIjriyah 1436 H

Malam ini, setahun yang lalu, saya memberikan ceramah agama kepada teman-teman dan adik-adik saya di Pondok Pesantren Al-Juhar (PPAJ) Tlepok Semin Semin Gunungkidul Yogyakarta, sebuah pesantren yang merupakan cabang dari Pondok Pesantren Sunan Padanaran (PPSPA) Sleman Yogyakarta.
Saat itu santrinya masih sekitar 250 orang.
Saat ini-dengar-dengar-sudah berjumlah dua kali lipatnnya. Sudah sekitar 500 santri yang belajar di sana.
Malam ini, saya tidak lagi berada di Jogja. Saya sedang berada di Tangerang Selatan. Tepatnya di Pondok Cabe. Keberadaan saya di sini untuk menuntut ilmu di Pondok Pesantren Bayt Al-Qur’an, Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ). PSQ adalah sebuah lembaga kajian al-Qur’an yang diketuai oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab.
***
Manusia memang tak akan  tahu apa yang akan terjadi pada dirinya di masa yang akan datang. Saat itu, saya juga tak membayangkan saya akan berada di tempat saya yang sekarang ini. Semua Allahlah yang menngaturnya. Manusia hanya menjalaninya.
Dari sini saya mendapatkan sebuah pelajaran berharga. Bahwa, pertama, apa yang terjadi di atas muka bumi ini, tak ada yang kebetulan. Semua terjadi atas kehendak Allah, Tuhan semesta alam.
Semua. Sekali lagi semua. Tanpa terkecuali.
Kedua, sehebat-hebatnya manusia dalam merencanakan sesuatu, pada akhirnya Allahlah yang menentukan hasil akhirnya. Manusia tak punya kekuatan dan daya apa-apa. Manusia itu lemah.
Lha, kalau ini kita pahami lebih lanjut lagi, maka akan memunculkan sebuah kesimpulan: untuk apa kita sombong? Untuk apa? Toh semua yang kuat di dunia ini, masih ada lagi dzat yang melebihinya. A lebih hebat dari B. B lebih hebat dari C. C lebih dari D. Dan seterusnya. Tapi semua itu meskipun sampai Z, masih akan ada lagi yang bisa melebihinya, yaitu Allah Swt.
Allah adalah tuhan yang tak butuh sesuatu. Dia berbeda dengan makhluk. Karena memang inilah sifat Tuhan: berbeda dengan makhluk-Nya. Malah, makhluk-Nyalah yag butuh kepada-Nya.
Walhasil, melalui momen tahuh baru hijriyah ini, saya bisa mengambil satu kesimpulan bahwa sudah saatnya kita sebagai umat islam berhijrah. Dari kegelapan menuju terang benderang. Dari kebodohan kenuu kepintaran. Dari yang jelek kepada yang bagus. Dan seterusnya dan selanjutnya.
Tangerang Selatan, 24 Oktober 2014.
Jum’at, 21.02 WIB.
Selamat Tahun Baru Hijriyah 1436 H.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...