Langsung ke konten utama

Dakwah Lewat Budaya, Kenapa Tidak?



Islam memang bukan agama budaya. Tapi islam juga tidak melarang budaya berlaku d tengah-tengah masyarakat. Dengan catatan, budaya itu tidak bertentangan dengan ajaran islam.
Budaya adalah warisan setiap daerah, desa, ataupun negara. Itu menjadi hak dan ciri khasa masing-masing daerah. Juga, budaya itulah yang akan menunjukkan
kepribadian setiap negara. Budaya yang baik harus dipertahankan dan yang kurang bagus harus ditinggalkan atau kalau tidak, diperbaiki.
Karena setiap orang pasti sesuai budayanya, Alangkah lebih indahnya jikalau islam bisa berdampingan dengan budaya. Islam dan budaya melebur jadi satu. Tapi islam juga tak boleh kehilangan identitasnya sebagai agama. Dan akan menjadi lebih indah kalau budaya bisa kita islamkan dan islam bisa kita budayakan.
Karena budaya biasanya sudah mendarahdaging pada setiap masyarakat, maka tak ada salahnya jika islam kita dakwahkan lewat budaya. Jadi budaya ini menjadi sarana dakwah.
Bisa? Terbukti bisa. Dan malah dengan budaya ini islam bisa diterima di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang begitu plural.
Zaman walisongo, islam begitu diterima karena memang islam melebur dalam budaya (sekali lagi jangan dipahami bahwa islam kehilangan identitasnya sebagai agama).
Islam didakwahkan lewat budaya yang berkembang saat itu. Semisal wayang. Saat itu masyarakat jawa yang notabene menjadi sasarana dakwah walisongo mempunyai kesukaan pada wayang. Dan fenomenea ini dibaca oleh walisongo. Dipahami. Dan kemudian diterapkanlah dakwah lewat wayang. Yang saat itu sangat menguasai dunia pewayangan adalah sunan Kalijaga.
Beliau bisa mennguasai wayang untuk kemudian didakwahkan. Beliau menyisipkan ajaran islam dalam lakon wayangnya. Terbukti, masyarakat bisa menerimanya. Mereka bisa diajari tanpa merasa digurui. Ibarat seorang pemancing, “dapat ikannya tapi tak keruh airnya”.
Di tangan beliau, wayang menjadi begitu santun dan ramah, karena memang islam menyusup di dalamnya.
***
Bagaimana dengan saat ini? Apakah kita juga harus dakwah lewat wayang? Penulis tidak menyalahkan hal itu. Karena memang wayang juga menjadi salah satu warisan budaya. Ini harus kita lestarikan.
Tapi, menurut penulis pribadi, wayang “kurang” begitu laku kalau kita gunakan sebagai media untuk dakwah di zaman sekarang, zaman yang begitu modern ini. Memang sebagian masyarakat akan tetap bisa menerima kehadiran wayang. Tapi-sekali lagi ini menurut pandangan pribadi penulis-itu kurang tepat jika kita gunakan saat ini.
Lantas apa? Jangan kita pahami wayangnya. Tapi yang harus kita ambil adalah dakwah lewat budaya nya. Hal ini karena budaya selalu berkembang dari waktu ke waktu. Dan inilah yang seharusnya kita pahami secara mendasar.
Budaya yang berkembang di masyarakat saat ini bukan hanya wayang (walaupun kita juga tidak bisa menafikan kehadiran wayang sebagai warisan  budaya), tapi masyarakat saat ini juga berbudaya lewat dunia pendidikan dan teknologi. Dan tentunya inilah yang harus kita pahami seperti yang telah dipahami walisongo saat itu.
Masyarakat saat ini sangat mengelu-elukan perkembangan dunia akademisi dan kemajuan teknologi. Mungkin bisa jadi, kedua hal itu sekarang sudah menjadi “tuhan” bagi mereka.
Makanya, kita saat ini juga harus berdakwah lewat kedua hal itu (pendidikan dan tekhnologi). Kita sebagai umat islam harus mulai bertindak dan bergerak.
***
Tanpa kita sadari, sebenarnya kita saat ini juga menjadi sasaran dakwah agama non islam. Dan penulis kira, mereka berhasil. Mengapa? Karena mereka dakwah lewat budaya.
Mereka merubah pola pikir kita lewat tayangan televisi. Lewat internet. Lewat radio. Lewat kajian-kajian ilmiah. Dan lewat jalur lain yang semacamnya.
Pemberitaan di media mereka kuasai. Dan ironisnya, kita menerimanya dengan suka rela. Tanpa ada paksaan. Sekali lagi, mereka berhasil.
***
Kita tidak boleh tinggal diam. Kita harus bertindak. Saat ini kita tak cukup hanya mengetahui ilmu-ilmu agama. Kita juga harus paham dunia pendidikan dan tekhnologi. Karena itulah budaya saat ini.  Walhasil,  mau tidak mau, suka tidak suka kita harus berdakwah lewat budaya.

Tengerang Selatan, 21 Oktober 2014
(Selasa pagi saat mentari mulai menampakkan wajah cantiknya)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...