Bismillahirrahmanirrahim...
Di awal bulan
agustus ini, saya mempunyai komitmen untuk bisa menulis setiap hari. Minimal
satu tulisan sehari. Panjangnya relatif. Kalau pas ada waktu atau pas pikiran
fresh, bisa dua sampai tiga halaman. Tapi, kalau lagi galau, ya mungkin hanya satu
halaman, atau malah juga bisa setengah halaman. Semoga Allah merestui.
Bagi saya, menulis
adalah sesuatu yang
menyenangkan. Karena menurut saya, jika pekerjaan dilakukan atas dasar senang, maka saya yakin seyakinnya, tak akan berat. Tapi sebaliknya, jika tak suka, apapun itu, walaupun terlihat ringan, ya pasti akan terasa berat. Itu menurut saya.
menyenangkan. Karena menurut saya, jika pekerjaan dilakukan atas dasar senang, maka saya yakin seyakinnya, tak akan berat. Tapi sebaliknya, jika tak suka, apapun itu, walaupun terlihat ringan, ya pasti akan terasa berat. Itu menurut saya.
Sehari semalam kok cuma
satu halaman atau pertanyaan dibalik, wah banyak amat, kok bisa satu halaman
sehari semalam? Kalau masalah banyak atau sedikit, itu kan juga relatif.
Tergantung orangnya.
Yang menjadi
masalah bukan kuantitasnya. Tapi bagaimana sesuatu hal atau pekerjaan yang kita
kerjakakan, bisa kita rutinkan. Atau dalam bahasa agama islam disebut
istiqomah.
Dalam sebuah
kerterangan-entah hadis atau apa, saya kurang faham-disebutkan, “sebaik-baiknya
pekerjaan adalah yang dikerjakan secara rutin, walaupun itu sedikit. Ada yang
tau itu hadis atau apa?
Jika saya
istilahkan, menulis adalah menuangkan sesutau ide , gagasan, uneg-uneg atau
apalah namannya, dalam sebuah tulisan.
Memang bagi pemula
(termasuk saya), menulis itu yang sulit pada awalnya. Kalau sudah biasa,
“katanya” mudah.
Menulis
Dalam sebuah seminar
tentang menulis yang pernah saya ikuti 2011 lalu, menulis itu pokoknya “tulis dulu
apa yang ada diotak. Jangan hiraukan ejaan. Yang penting tullis”.
Juga, jangan pernah
membaca tulisan yang sedang kita tulis dari atas sampai bawah. Yang penting
tulis dulu.
Ada satu lagi yang
juga penting: jadilah diri anda sendiri. Yang penting tulis. Bagus atau jelek
itu bukan urusan Anda. Tulis, tulis, dan tulis.
Dalam seminar itu
juga ada yang unik. Kan di akhir-akhir acara, ada lomba menulis. Dan dalam
lomba itu yang diambil sebagai juara hanya tiga orang. Padahal yang mengikuti
seminar sekitar 40 orang (kalau nggak salah sih).
Salah satu yang
menjadi juaranya adalah siswa sebuah SMK di Malang. Mengapa dia menang? Tuisannya
apa memang baik? Menurut saya tidak juga. Nggak bagus. Lha terus mengapa kok
bisa menang?
Jawabannya adalah:
dia menjadi dirinya sendiri dalam menulis.
Kan sudah menjadi
rahasia bersama (dan memang pada umumnya) setiap anak yang masih setingkat
sekolah kan biasanya masih labil. Belum stabil. Masih alay. Pengen gaul. Dan lain
sebagainya.
Dia menulis sebuah
cerita/artikel/apalah, dengan
menggunakan bahasanya sendiri. Contohnya: “q g mw mkn”. Faham? Maksudnya,
“ aku nggak mau makan”. Disingkat-singkat.
Dalam ejaan yang
disepurnakan (EYD), itu jelas-jelas salah. Tapi anak itu menulis dengan tidak
dibuat-buat. Apa adanya. Dia menjadi dirinya sendiri. Dan inilah yang sulit
dimiliki oleh seorang penulis. Apalagi yang masih pemula seperti saya.
Istilahnya “kemerdekaan dalam menulis”.
Sudah dulu ya tulisan
saya kali ini. Kapan-kapan disambung lagi.
Tambahan
Dan ada yang unik
ketika saya menulis tulisan ini. Kali ini saya bisa menulis dengan mendengarkan
musik. Biasanya saya nggak bisa. Biasanya kegannggu. Nggak bisa konsentrasi.
Tapi sekarang kok bias ya? Saya nggak tau.
Yang sedang saya
dengarkan saat ini adalah lagu yang berjudul “secawan madu” yang dibuat koplo.
Entah mengapa jika saya mendengarakan lagu koplo fikiran saya fresh banget.
Seperti mendapat nikmat yang begitu banyak. Dalam bahasa mubalaghoh (bahasa
yang mendramatisir. Bahasa yang memebesar-besarkan sesuatu yang aslnya kecil), mendengarkan
koplo sama halnya dengan ejakulasi. Hehe.. itu hanya bahasa yang
membesar-besarkan.
Kayaknya tanggung,
ini kalau nggak diselesaikan sampai dua halaman. Mumpung semangat nulis.
Padahal saya juga nggak tahu apa yang saya tulis ini. Nyambung nggak nyambunng,
faham nggak faham, saya nggak perduli. Yang oentinng saya nulis.
Saya juga yakin,
dalam tulisan saya kali ini banyak EYD yang nggak nyambung. Tapi ya nggak papa.
Yang penting kan nulis.
Saya juga nggak tau
kapan ngeditnya. Ya yang jelas nggak sekarang. Sekarang kan masih nulis.
Menuangkan apa yanng ada di kepala.
Nulis apa lagi ya?
Saya bingung. Saya teringat seorang mentor
seminar mengatakan, “nggak ada ide itu bisa menjadi ide”.
Benar. Memang benar.
Sekarang saya sedang mempraktekannya. Saya mencoba menuangkan ketidakadaan ide
saya menajdi sebuah ide tulisan. Ya, alhmdulillah jadi tulisan yang sekarang
ini. Mungkin bahasa ini terkesan lucu. Tapi ya inilah, tulisan “sokor njeplak”.
Pokoknjya nulis.
Hahay.. baru saja
saya menurunkan scrool laptop saya, ternyata tulisannya hampir sampai dua halaman.
Alhmadulillah. Akhirnya bisa melebihi batas minimal standar. Lha memang apa ada
batas minimal yang tidak standar? Lha, diatas kan sudah saya katakan, minimalnya
bisa sampai setengah lembar.
Tapi ya inilah
menulis. Sulit-sulit gampang. Kata siapa? Ya kata saya lah, masak kata anda. La
wong yang nulis saya kok. Yang jelas saat ini saya bingung.
Bingung kenapa?
Bingung mau nulis apa lagi. Mana tulisannya kurang beberapa baris lagi untuk
sampai dua halaman. Akhirnya sampai juga dua halaman. Sudah dulu ya. Saya mau
kencing. Ngeditnya nggak tau kapan.
Wassalam...
Banyuwangi, 1 Agustus
2014. Pukul 21.47 WIB
Ngedit: 2 Agustus
2014. Pukul 20.55 WIB
Komentar
Posting Komentar