Saya memang bukan pemain bola,
tapi apa yang akan saya sampaikan ini berkaitan dengan bola. Saya bukan sok
tahu, tapi semoga apa yang saya sampaikan lewat tulisan ini bisa sedikiti
memberi pencerahan bagi kita semua. Khususnya bagi dunia per-sepakbola-an
negeri ini.
Saya tak akan membicarakan
masalah bola dan lapagan. Karena memang saya tak faham masalah bola. Saya hanya
ingin mengkritisi masalah naturalisasi dalam tubuh tim bola milik pemerintah,
semisal Timnas.
Setahu saya, kalau yang namanya tim
sepakbola Indonesia, maka pemainnya harus asli orang Indonesia. Bukan oranng
asing. Lebih tepatnya, orang asing yang tinggal di Indonesia.
Pemain timnas, harus lahir dari “rahim”
orang Indonesia. Harus berakte kelahiran Indonesia. Harus pernah menghirup
udara Indonesia sejak ia lahir. Bukan orang asing yang ke Indonesia ketika ia
dewasa. Itu bukan orang Indonesia. Tapi orang yang tiba-tiba berada di Indonesia.
Mereka tak penah dididik ala Indonesia.
Memang tubuh mereka bagus. Gaya mereka bermain bola keren. Keahlian mereka
dalam menggiring bola tak diragukan lagi. Tapi-sekali lagi-mereka bukan Indonesia.
Tubuh mereka bukan tubuh orang Indonesia.
Meskipun sekarang mereka telah berjiwa Indonesia. Tapi mereka bukan asli orang Indonesia.
Tapi, penulis juga tak menggunakan
jurus “pukul rata”. Bukan semua klub bola yang penulis kritisi. Hanya klub bola
yang milik pemerintah. Bukan yang swasta. Tulisan ini terinspirasi dair berita
di harian Jawa Pos tapi pagi, bahwa Gubernur Jakarta, Ahok, mengkalim bahwa Persija
Jakarta itu asalnya milik pemerintah DKI, tapi sekarang sudah menjadi perusahaan
swasta.
Mengapa penulis tak pukul rata? Kok
hanya Timnas saja? Begini alasannya.
Kita ambil contoh tim yang paling
besar, Timnas. Timnas adalah tim nasional. Milik negara. Ketika Timnas bagus,
maka negara Indonesia juga bagus. Begitu pula sebaliknya.
Ketika ia tanding, semisal dengan
negara lain, secara otomastid ia mewakili Indonesia. Ia membawa nama baik
negeri ini. Ketika mereka menang, bahagialah Indonesia. Ketika kalah, maka malulah
Indonesia.
Tapi apakah kita bangga jika Timnas
menang, namun orang-orang yang main di Timnas adalah orang asing yang
dinaturalisasi? Mereka kan bukan orang Indonesia.
Apa yang penulis bahas ini adalah
murni pendapat penulis pribadi. Kalau penulis terlalu “membabi buta” dalam
mengkiritisi, ini karena ketidaktahuan penulis tentang bola. Mengapa penulis berani membahas ini padahal
penulis kurang menguasai tema tulisan? Penulis hanya mencoba menuangkan apa
yang penulis tahu dan penulis bingungkan?
Jika ada yang kurang setuuju
dengan tulisan ini, penulis mohon maaf. Penulis sadar bahwa penulis kurang
menguasai masalah ini.
Tangerang Selatan, Selasa, 16
Desember 2014.
Pukul 20.55 WIB
Komentar
Posting Komentar