Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

Menjadi Terkenal

Di era sekarang, di mana banyak orang yang makan micin, menjadi terkenal dan terdepan adalah impian bagi sebagian orang. Sebagian besar, deng. Tak terkecuali saya, mereka, dan kamu. Iya, kamu. Perihal ini jangan dikaitkan dengan tasawuf ala risalah qusyairiyyah, ya?. Tak mungkin bisa klop. Ini beda pembahasan, Mblo. Karena ini (untuk menjadi yang terdepan) sudah menjadi keinginan dan hasrat sosial, sehingga sudah tak heran jika banyak orang yang rela melakukan segala macam cara dan upaya agar tujuan yang (kelihatannya) mulia ini bisa terwujud. Mengapa? Karena cara yang biasa-biasa saja sudah tak mempan. Itu sudah mainstream. Harus dengan cara yang berbeda. Ada yang dengan cara yang wajar. Ada yang tak wajar. Bahkan ada yang haram.   Saya tak bisa menghindar jika ada yang bilang, “Ah, itu kan pendapat Anda pribadi?” “Iya,” saya jawab dengan sepenuh hati dan kejujuran yang begitu mendalam yang dalamnya tak bisa diukur dengan meteran apapun. Namun, saya katakan begini sesuai hasi...

MAKALAH NASIKH MANSUKH DALAM AL-QURAN

PEMBAHASAN Urgensi dan Definisi Nasikh-Mansukh A.   Urgensi Nasikh dan Mansukh Dalam kajian Ulumul Qur’an, nasikh dan mansukh sangatlah perlu dipelajari. Imam Suyuti, dalam al-Itqon, menjelaskan bahwa para Imam berkata, “Seseorang tidak boleh menafsirkan Alqur’an kecuali setelah mengetahui perihal nasikh dan mansukh.” Juga, dalam sebuah riwayat juga disebutkan bahwa Sayyidina Ali pernah bertanya kepada seorang qodli (hakim), “Apakah engkau mengetahui perihal nasikh dan mansukh?.” “Tidak,” jawab sang qodli. Kemudian Sayyidina Ali berkata, “Engkau tersesat dan menyesatkan.” B.   Pengertian Nasakh, Nasikh, dan Mansukh a.        Nasakh Secara bahasa, nasakh bisa diartikan dengan berbagai arti, yakni: (1) Izalah (menghilangkan), (2) Tabdil (mengganti), (3) Tahwil (memalingkan), dan (4) Naql (memindahkan sesuatu dari satu tempat ke tempat yang lain). Namun, sebagian ulama’ menolak makna keempat ini, dengan alasan bahwa si nasikh (orang/ayat yang me- nas...

Fatwa Kiai Muda (2)

"Kalau pas minta jodoh, tapi belum diberi, ya yang sabar. Bisa jadi, kalau diberi jodoh saat ini, ntar malah nggak jadi kuliah." 15 April 2016

Fatwa Kiai Muda (3)

"Kalau ceramahnya pengen laris, ya ditambahi lagi bahan-bahannya. Humor-humornya." 15 April 2016

Fatwa Kiai Muda (1)

"Urutannya itu berusaha. Berdo'a. Dan yang terakhir tawakal. Jangan dibolak-balik." 15 April 2016

Nasihat KH. Mufid Mas’ud Untuk Para Santri

Al-Mukarram KH. Mufid Mas’ud lahir di Solo Jawa Tengah, pada tahun 1928, bertepatan dengan hari Ahad Legi 25 Ramadhan. Di tahun 1942 beliau nyantri di Pesantren   Krapyak, 3 tahun kemudian yaitu tahun 1945 beliau melanjutkan hafalan Al-Qur’an kepada KH. Muntaha di Wonosobo. Pada 1950 beliau kembali ke Krapyak dan menikah dengan putri KH. Munawir (pengasuh Pesantren Krapyak), Hj. Jauharoh.  Dengan modal Al-Qur’an, pengetahuan keislaman, dan jalinan silaturahmi yang erat dengan tokoh-tokoh Islam itu, KH Mufid berketetapan hati mendirikan pesantren yang hingga kini dikenal dengan Pondok Pesantren Sunan Pandananaran (PPSPA). Berikut beberapa nasihat KH. Mufid Mas’ud yang diingat para santrinya. 1. Yen wes khatam Qur’an, kudu riyadhoh diposoni dideres ono jero sholat sampek Al Qur’an bener-bener mendarah daging. (Kalau sudah hatam, Al-Qur’an harus diriyadhohi/tirakati dengan puasa, baca hafalan Al Qur’an di dalam sholat sampai benar-benar mendarah daging). 2. K...