Langsung ke konten utama

Menjadi Terkenal













Di era
sekarang, di mana banyak orang yang makan micin, menjadi terkenal dan terdepan
adalah impian bagi sebagian orang. Sebagian besar, deng. Tak terkecuali saya,
mereka, dan kamu. Iya, kamu.


Perihal ini
jangan dikaitkan dengan tasawuf ala risalah qusyairiyyah, ya?. Tak mungkin bisa
klop. Ini beda pembahasan, Mblo.



Karena ini (untuk
menjadi yang terdepan) sudah menjadi keinginan dan hasrat sosial, sehingga
sudah tak heran jika banyak orang yang rela melakukan segala macam cara dan
upaya agar tujuan yang (kelihatannya) mulia ini bisa terwujud. Mengapa? Karena cara
yang biasa-biasa saja sudah tak mempan. Itu sudah mainstream. Harus dengan cara
yang berbeda. Ada yang dengan cara yang wajar. Ada yang tak wajar. Bahkan ada
yang haram. 




 Saya tak bisa
menghindar jika ada yang bilang, “Ah, itu kan pendapat Anda pribadi?” “Iya,”
saya jawab dengan sepenuh hati dan kejujuran yang begitu mendalam yang dalamnya
tak bisa diukur dengan meteran apapun. Namun, saya katakan begini sesuai hasil
penelitian saya selama beberapa menit. Hehe.


Ketika keinginan
menjadi terkenal ini menemui jalan buntu atau bahkan gagal, mereka yang ngebet
banget ingin terkenal akan mengalami galau tingkat RT. Serasa dunia mau kiamat.


Setau saya,
menjadi terkenal adalah penyakit hati yang sangat bahaya.


Hati-hati!.





Insyaallah,
bersambung. 





Jakarta Selatan,
29 April 2016



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...