Di era
sekarang, di mana banyak orang yang makan micin, menjadi terkenal dan terdepan
adalah impian bagi sebagian orang. Sebagian besar, deng. Tak terkecuali saya,
mereka, dan kamu. Iya, kamu.
Perihal ini
jangan dikaitkan dengan tasawuf ala risalah qusyairiyyah, ya?. Tak mungkin bisa
klop. Ini beda pembahasan, Mblo.
Karena ini (untuk
menjadi yang terdepan) sudah menjadi keinginan dan hasrat sosial, sehingga
sudah tak heran jika banyak orang yang rela melakukan segala macam cara dan
upaya agar tujuan yang (kelihatannya) mulia ini bisa terwujud. Mengapa? Karena cara
yang biasa-biasa saja sudah tak mempan. Itu sudah mainstream. Harus dengan cara
yang berbeda. Ada yang dengan cara yang wajar. Ada yang tak wajar. Bahkan ada
yang haram.
Saya tak bisa
menghindar jika ada yang bilang, “Ah, itu kan pendapat Anda pribadi?” “Iya,”
saya jawab dengan sepenuh hati dan kejujuran yang begitu mendalam yang dalamnya
tak bisa diukur dengan meteran apapun. Namun, saya katakan begini sesuai hasil
penelitian saya selama beberapa menit. Hehe.
Ketika keinginan
menjadi terkenal ini menemui jalan buntu atau bahkan gagal, mereka yang ngebet
banget ingin terkenal akan mengalami galau tingkat RT. Serasa dunia mau kiamat.
Setau saya,
menjadi terkenal adalah penyakit hati yang sangat bahaya.
Hati-hati!.
Insyaallah,
bersambung.
Jakarta Selatan,
29 April 2016

Komentar
Posting Komentar