Langsung ke konten utama

Beberapa Istilah Tasawuf dalam Kitab Risalah Qusyairiyyah















Maqom adalah strata seorang
salik (orang yang sedang menapaki jalan menuju Allah) sesuai dengan apa yang ia
usahakan dengan cara yang berbeda-beda.





Hal adalah perasaan dari Allah
yang dialami seorang salik tanpa adanya usaha. Hal ini bersifat temporer
(berjangka waktu, kadang datang dan hilang. Tidak menentu.




Raja’ adalah pengharapan
seorang hamba terhadap pahala yang diberikan Allah kepadanya.


Khauf adalah rasa takut kepada
siksa Allah.





Qabdlu adalah semangat seorang
hamba dalam meninggalkan kemaksiatan. Semangat ini didasari atas kesadarannya
sendiri. Bukan karena takut terhadap siksa Allah. Qobdlu ini lebih tinggi dari
khauf.





Basthu adalah kesadaran hamba
dalam beribadah kepada Allah yang didasari kesadaran bahwa ibadah adalah
kewajiban yang harus ia lakukan. Bukan karena keinginan ingin mendapat pahala
dan surga dari Allah. Ini lebih tinggi dari raja’.





Haibah adalah tingkatan di
atas qobdlu. Yakni kesadaran seseorang hamba dalam meninggalkan maksiat karena
didasari oleh kenikmatan yang ia rasakan. Bukan karena takut siksa. Bukan pula
karena kewajiban. Ia akan merasa cemas dan tidak nyaman jika melakukan maksiat.


Unsu adalah tingkatan di atas Basthu.
Unsu adalah keadaan seorang hamba dalam menjalankan perintah Allah yang
didasari oleh rasa nikmat yang ia rasakan ketika melakukannya. Ibadahnya bukan
lagi karena pahala dan surga; bukan pula karena kewajiban.





Farqu adalah kesadaran seorang hamba dalam
beribadah ia disertai perasaan bahwa semua itu dapat ia lakukan atas usahanya
sendiri dan pertolongan Allah.





Jam’u adalah kesadaran
seorang hamba dalam beribadah ia disertai perasaan bahwa semua itu dapat ia
lakukan atas pertolongan Allah semata.





Ia sudah tak merasa bahwa
ibadah yang dilakukannya itu atas peran serta dirinya. Semua yang ia lakukan ia
nisbatkan kepada Allah.


Ketika sudah seperti ini, ia
akan benar-benar pasrah. Tak ada rasa sombong sedikitpun dalam dirinya.





Fana' adalah hilangnya sifat-sifat tercela dalam diri seorang hamba.


Baqa' adalah munculnya sifat-sifat terpuji dalam diri seorang hamba. Fana'
dan baqa' selalu berbanding lurus dalam diri seseorang.







Ghaibah adalah hilangnya rasa terhadap hal-hal yang bersifat keduniaan
dalam hati seorang hamba.





Khudlur adalah kesibukan hati seorang hamba terhadap Allah. Ghaibah dan
khudlur ini satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.





Shahwu adalah kembalinya rasa setelah mengalami ghaibah.


Sakru adalah rasa mabuk seorang hamba disebabkan oleh rasa cintanya yang
sangat mendalam terhadap Allah.





Dzauq adalah keadaan yang dialami
salik ketika mulai “dekat” dengan Tuhan. Dalam keadaan ini biasanya seorang
salik mengalami guncangan pada dirinya. Sehingga kadang, ia melakukan sesuatu
yang tidak wajar menurut syariat.





Syurbu adalah adalah tingkatan di atas
Dzauq. Pada keadaan ini, seorang salik sudah mulai menjadi-jadi dalam melakukan
hal-hal yang tidak wajar.





Mahwu adalah menghilangkan sifat-sifat
kebiasaan yang jelek.


Isbat adalah menetapkan hukum-hukum
ibadah. Pada keadaan ini semakin rajin





Sitru adalah ada ketertutupan. Sitrunya
orang awam dengan orang khusus berbeda. Orang awam, sitrunya ada menutupi
kesendiriannya. Ia harus selalu ingin terkenal.


Sedang sitrunya orang khusus adalah
menutupi kemasyhurannya.





Tajalliy adalah keterbukaan atau
kemasyhuran. Kemasyhuran di sini adalah kemasyhuran diri sang salik di hadapan
Tuhannya.  





Muhadarah adalah hadirnya Allah dalam
hati.





Seorang hamba yang telah mengalami
muhadarah akan merasakan kehadiran Allah dalam hatinya. Ini tak bisa dipahami
dengan pemahaman lahir. Harus dengan pemahaman batin. Maksudnya, Allah bukan
hadir dengan wujud nyatanya. Ini hanya bahasa kiasan tentang perasaan seorang
hamba yang dekat dengan Sang Khaliq.





Mukasyafah adalah tingkatan setelah
muhadarah. Yakni tersingkapnya hati dari penutup-penutup yang menghalanginya.





Ketika seorang hamba sedang mengalami
mukasyafah, ia akan merasa bahwa ia seakan mendapat “bocoran-bocoran” atas rahasia-rahasia
Tuhan. Makanya tak heran ketika seseorang sedang mengalami mukasyafah, ia bisa
menebak apa yang akan terjadi di masa mendatang. Sebenarnya ia bukan bisa
dengan sendirnya, hanya saja ia mendapat wawasan tentang itu semua dari Allah.





Musyahadah adalah tingkatan setalah
mukasyafah. Yakti keadaan seorang hamba merasa bahwa Tuhan hadir dalam jiwanya.





Ini juga bahasa kiasan. Musyahadah
adalah ketika seseorang sudah bisa melihat Allah dengan mata batinya. Sehingga
tak ada lagi penghalang antara ia dengan Tuhannya.





Bawadih adalah firasat yang datang secara
tiba-tiba pada hati sang salik. Bisa jadi firasat ini membuatnya bahagia dan
bisa jadi justru membuat susah.





Hujum adalah firasat yang datang
secara tiba-tiba pada diri sang salik di waktu-waktu tertentu tanpa bisa
diusahakan.





Komentar saya:


Ini bersifat mendadak. meskipun demikian,
hujum berbeda dengan Bawadih. Bawadih lebih umum daripada Hujum.





Talwin adalah sifat-sifat salik yang
sedang menapaki proses menuju Tuhan.





Tamkin adalah keadaan salik yang sudah
mencapai Tuhan.





Komentar saya:


Talwin itu perjalanannya. Sedang Tamkin
itu keadaan salik ketika ia sudah sampai pada Tuhan.







Jakarta Selatan, 21 Mei 2016



Komentar

  1. Mantaap,,,Baarokallaah,,, Semoga Bermanfaat,, Aamiin

    BalasHapus
  2. بارك الله فيك

    BalasHapus
  3. Ajjiiib.. syukron lah.. jd ga ribet buat nyari bahan tasawwuf..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...