Langsung ke konten utama

Nasihat KH. Mufid Mas’ud Untuk Para Santri







Al-Mukarram KH. Mufid Mas’ud lahir
di Solo Jawa Tengah, pada tahun 1928, bertepatan dengan hari Ahad Legi 25
Ramadhan. Di tahun 1942 beliau nyantri di Pesantren  Krapyak, 3 tahun kemudian yaitu tahun
1945 beliau melanjutkan hafalan Al-Qur’an kepada KH. Muntaha di Wonosobo. Pada
1950 beliau kembali ke Krapyak dan menikah dengan putri KH. Munawir
(pengasuh Pesantren Krapyak), Hj. Jauharoh. 

Dengan modal Al-Qur’an,
pengetahuan keislaman, dan jalinan silaturahmi yang erat dengan tokoh-tokoh
Islam itu, KH Mufid berketetapan hati mendirikan pesantren yang hingga kini
dikenal dengan Pondok Pesantren Sunan Pandananaran (PPSPA).









Berikut beberapa nasihat KH. Mufid Mas’ud yang
diingat para santrinya.





1. Yen wes khatam Qur’an, kudu riyadhoh
diposoni dideres ono jero sholat sampek Al Qur’an bener-bener mendarah daging.


(Kalau sudah hatam, Al-Qur’an harus
diriyadhohi/tirakati dengan puasa, baca hafalan Al Qur’an di dalam sholat
sampai benar-benar mendarah daging).





2. Kowe yen wes khatam Qur’an ojo kemaki wes
lancar, tur ora sregep nderes. Aku iki wes hatam puluhan tahun ngroso durung
lancar isih kudu nderes.


(Kalian itu jika sudah hatam jangan sombong
merasa sudah lancar, terus tidak rajin tadarrus. Saya ini sudah hatam puluhan
tahun tetap merasa belum lancar sampai sekarang masih harus terus tadarus)





3. Al Qur’an saiki dideres ibarat koyo ngumbe
jamu rasane pahit, ning awak sehat. Mengko-mengko nek wes istiqomah nderes rasane
manis koyo madu.


(Al-Qur’an sekarang dibaca ibarat minum jamu rasanya pahit, tapi menyehatkan
badan. Nanti kalo sudah istiqomah dibaca rasanya manis seperti madu)





4. Kabeh santriku ojo sampek wayoh. Duwe siji
sing gemati diagem sampek mati. Nek ono santri sing wayoh engko tak keplaki. 


(Semua santri saya jangan sampai poligami. Punya
satu yang cinta sampai mati. Kalau ada yang poligami saya tempeleng)





5. Aku ora ngaramke rokok, kerono akeh kyai
sing podo ngerokok. Aku nderek Kyai Munawwir sing ora ngerokok. Dadi kowe kabeh
santriku yo ojo ngerokok. Cangkem gawe deres Qur’an kok di obong. 


(Saya tidak mengharamkan rokok, karena banyak
kyai yang merokok. Tapi saya mengikuti Kyai Munawwir yang tidak merokok. Jadi
kalian kalau jadi santri saya ya jangan merokok. Mulut untuk baca Al Qur’an kok
dibakar)





6. Nek gawe omah diniyati gawe hurmat tamu
insya Allah barokah lan gampang rizkine.


(Kalau bikin rumah diniatkan untuk menghormati
tamu, insya Allah barokah dan banyak rizkinya)





7. Ananda semua kalo mau bikin pondok jangan
bergantung kepada makhluk. Jaluk tenenan nang Gusti Allah liwat Al Qur’an lan
Sholawat kanjeng Nabi.


(Anakku semua kalau ingin mendirikan pesantren
jangan bergantung kepada makhluk. Mintalah dengan bersungguh-sungguh kepada
Allah melalui Al Qur’an dan sholawat kepada baginda Nabi)





8. Aku ora pingin duwe santri sing dadi
muballigh ceramah-ceramah ning subuhe karipan. Kaburo maqtan ‘indallooh.


(Saya tidak ingin punya santri yang jadi
muballigh rajin ceramah, tapi subuhnya kesiangan. “Amat besar kebencian di sisi
Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
QS. Al-baqoroh: 44)





9. Ahli Qur’an iku wong kang wedi karo Gusti
Alloh, dudu karo makhluk.


(Ahli Qur’an adalah orang yang takut kepada Allah,
bukan kepada makhluk)





10. Santriku ojo pengin dadi PNS dadi bature
negoro. Hidmah nang Qur’an sing tenanan insya Allah mulyo dunyo akhirat.


(Santri saya jangan kepingin jadi PNS (Pegawai
Negeri Sipil), jadi abdi negara. Hidmah kepada Al Qur’an dengan sungguh-sungguh,
insya Allah mulia dunia akhirat)





11. Ahli Qur’an iku ojo seneng omong kosong,
bengi melek ora nderes iku dudu huffadz tapi huffasy (lowo/codot).


(Ahli Qur’an itu jangan senang bicara tidak
berfaedah, malam bangun tidak tadarrus itu bukan huffadz tapi huffasy
 atau kelelawar)





Dan masih banyak nasehat yang lain yang diterima
para santrinya yang belum dicatatkan. Semoga para santri bisa mengamalkan
dan menteladani beliau.





Sumber: http://www.fiqhmenjawab.net/2016/03/2937/


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...