Langsung ke konten utama

Apa Yang Ditanam, Itu Yang Dituai











Balasan
tak pernah salah alamat. Ia akan selalu datang kepada orang yang tepat dan di
saat yang tepat pula. Ia bagai rasa seorang dewasa yang ingin memiliki pasangan
hidup.
Jika belum saatnya, tak bisa dipaksa. Serta jika telah datang masanya, tak pisah ditunda. Jika dipaksakan,

akan terjadi kerepotan di belakang hari nanti. Dalam sebuah kaidah fiqh
dijelaskan, “Terburu-buru mengerjakan sesuatu yang belum saatnya, maka tidak
akan berhasil”.


Orang yang telah berusaha keras, pasti
akan berhasil. Ada yang mengatakan bahwa hasil adalah hak preogatif Allah.
Ketika manusia telah menjalankan tugasnya untuk berusaha, sudah. Selanjutnya,
serahkan saja kepada-Nya. Biarlah usaha dan doa beradu di langit.


Apa yang ditanam itulah yang akan
dituai. Hanya mereka yang telah menanam padi saja yang akan memanen padi.
Mereka yang telah bersusah payah menanam dan merawat buah jeruk saja yang akan
memanen jeruk. Gusti orang sare, Allah tidak tidur.


Dalam al-Qur’an, balasan yang akan
didapat orang yang bertakwa dan orang yang muhsin
(berbuat baik kepada orang lain) berbeda. Orang yang berbuat takwa (saja), akan
mendapat balasan hudan (petunjuk).
Sebagaimana Firman Allah: al-Qur’an menjadi petunjuk kepada orang-orang yang
bertakwa (QS. Al-Baqarah [2]: 2).


Lain halnya dengan orang yang mushin. Orang muhsin adalah orang yang berbuat baik kepada orang lain. Mereka,
oleh Allah, akan diberi balasan dua. Selian hudan
(petunjuk) juga rahmah (kasih
sayang).  Al-Qur’an akan menjadi hudan dan rahmah kepada orang yang mushin (QS. Lukman [31]: 2).


Mengapa berbeda? Usaha yang dilakukan itulah
penyebabnya.


Orang yang hanya bertakwa saja, ia hanya
memikirkan dirinya sendiri. Dan seringkali alpha kepada kebutuhan orang banyak.
Apa yang mereka lakukan hanya agar apa yang mereka butuhkan terpenuhi. Tak
peduli apa dan bagaimana dengan orang di sekitarnya. Sejatinya, orang seperti
itu tak salah. Toh, juga mereka tidak
menyakiti orang lain. Hanya saja, oleh Al-Qur’an, orang seeperti itu dianggap
kurang. Oleh karenanya, yang akan mendapat dua balasan anya orang yang muhsin.


Alasan mengapa orang yang muhsin mendapat
rahmat dari Allah adalah karena mereka telah mencurahkan segala rahmatnya
ketika di dunia kepada orang-orang di sekitarnya. Dalam sebuah hadis
dijelaskan, kita disuruh untuk selalu menyayangi siapa saja yang ada di muka
bumi ini. Dan sebagai balasannya, semua yang ada di langit akan menyayangi
kita. Orang yang menyayangi akan mendapat kasih sayang pula. Apa yang ditanam,
itulah yang dituai. Sekian.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...