Langsung ke konten utama

Siapa Makhluk Ini?







Lahir dengan nama lengkap M. Nurul
Huda, makhluk yang satu tidak seperti bayi pada umumnya. Kata ibunya, bayi ini
lahir prematur. Lahir sebelum waktunya. Denger-denger sih, hanya 6 bulan. Mengapa
kata ibunya? Soalnya saat lahir, ia masih kecil.

Namanya juga bayi, belum bisa
mengingat dengan jelas. Bentuk fisiknya pun pas lahir, hanya kayak botol sirup Marjan
(Plis, jangan ketawa). Sekarang bagaimana? Untuk lebih jelasnya, silakan lihat
di galeri atau video call langsung aja, Guys. Yang jelas, pasti beda lah.




Masa kecilnya, ia sekolah di kampung
halamannya. Entah, halaman berapa. Yang jelas sekolah formal
. Ia tidak pernah mengenyam bangku sekolah.
Karena tau sendiri kan
, bangku sekolah itu terbuat dari kayu.


Setelah itu ia pergi
berkelana
“ke barat” mengahabiskan masa mudanya ke
dua pesantren besar, Darussalam, Blokagung di Banyuwangi dan Sunan Pandanaran, Jogja.
Ingat, ya, Guys, yang besar pesantrennya. Bodi
makhluk yang satu ini tetep saja: kecil.


Namun, selain mondok, untuk menambah
pelajaran-pelajaran umum (dan mungkin agar tak gaptek-gaptek nemen) ia sekolah. Khusus yang sekolah,
ia jalani di Banyuwangi. Di Jogja, ia hanya ngaji saja
, sambil jalan-jalan.


Tulisannya pernah nampang di
beberapa media, yaitu di Radar Banyuwangi, Tribun Jogja, dan Republika. Bersama
teman-temannya, ia juga menulis beberapa buku antologi, di antaranya: Sang Da’i
(Kumpulan Khutbah Jum’at PIlihan), Inilah Rahasia Kedamaian Hatiku, dan Cara
Benar Memahami Hadis. Buku solonya, Islam Itu Mudah, akan segera terbit. Jangan
lupa beli, ya!.


Oiya, kalau mau hubungi, di email ini aja: huda.bwi@gmail.com. Sekian.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...