“Biarlah
sejarah yang membuktikan”
(Abdurrahman Wahid)
Beberapa hari ini, Indonesia, khususnya dunia maya ramai
membicarakan sosok ketua DPR RI, Setya Novanto (SN) yang menjadi buronan KPK
karena terlibat kasus korupsi E-KTP. Keberadaan SN itu menjadi public yang
tidak habis diperdebatkan. Apalagi kemarin, ia mengalami kecelakaan, setelah
sebelumnya mangkir dari panggilan KPK.
Banyak spekulasi yang muncul. Mulai yang menolak sampai
yang membenarkan. Semua memaparkan alas an dan bukti yang meyakinkan,
setidaknya bagi mereka dan kelompoknya masing-masing.
Yang menjadi titik pembahasan kali ini, adalah apakah
pantas wakil rakyat yang meski pun dia merasa tidak bersalah mangkir dari
panggilan itu?. Bukankah apa yang dilakukan itu justru akan menimbulkan resah
masyarakat? Atau paling tidak hal itu justru memberikan contoh kepada khalayak luas dengan mempertontonkan
keburukan diri sendiri?.
Wakil rakyat dipilih oleh rakyat. Begitu juga dengan
pejabat yang lain. Gaji yang mereka terima adalah dari pajak rakyat. Seharusnya
mereka memberikan teladan yang baik kepada masyarakat.
Jika merasa tidak bersalah, buktikan dengan gagah bahwa
memang tidak bersalah, nanti di pengadilan. Jika mangkir seperti itu, bukanlah
akan menimbulkan opini yang negatif?.
Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa hukum di negeri ini
masih kurang adil. Pemilik kekuasaan dan uang bisa saja membelinya. Yang punya
“jalan” ke sana (untuk lobi-lobi) tentunya itu banyak. Tidak hanya satu orang.
Dengan lobi-lobi atau bermain di belakang layar, yang salah bisa jadi benar.
Yang benar bisa jadi salah. Yang hitam bisa jadi putih. Dan seterusnya. Hukum
seperti pisau. Tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Itu kenyataan yang selama ini
kita lihat dan rasakan. Namun, sikap lari dari panggilan penegak hukum adalah
juga tindakan yang kurang terpuji apalagi dilakukan oleh orang sekelas ketua
DPR.
Ini adalah Negara Indonesia. Negara hokum. Semua harus
menaatinya. Jika, memang yakin kebenaran pendapatnya, buktikan di pengadilan.
Namun, jika Anda merasa benar dan memang tidak terlibat itu, tapi kok nantinya,
Anda tetap terciduk dan menjadi terpidana, biarlah anak cucu Anda yang akan
memanen hasilnya. Mereka akan melihat sejarah membela Anda. Sering, Gus Dur
berkata, “Biarlah sejarah yang membuktikan”.
Ditulis pada tanggal 17 November 2017
Komentar
Posting Komentar