Setiap orang memiliki tujuan dengan apa yang
telah, sedang, dan akan dilakukannya. Apapun itu. Banyak yang berorientasi pada
dunia. Dan tak sedikit yang tujuan
akhirnya adalah akhirat. Semua itu tergantung pada pemahaman dan pengalaman orang
tersebut.
Tujuan ini pula yang menjadikan orang itu
semangat dalam bekerja. Tanpa tujuan—terlepas apakah tujuannya baik atau
buruk—orang akan bekerja dengan giat dan pantang menyerah. Ya, tujuanlah yang
akan membuat orang itu kuat dan rajin.
Dalam tulisan ini, saya mengambil contoh tujuan
orang kaya dan orang pintar.
Orang rela bekerja sehari semalam dan tanpa
mengenal lelah untuk mendapatkan uang. Saya kira tidak ada orang yang tidak
butuh uang. Apalagi kebutuhan saat ini yang sangat banyak membuat uang menjadi
tujuan utama. Dan tak jarang, orang akan menghalalkan segala cara agar bisa mendapat pundi-pundi uang yang
banyak.
Dengan memilki uang yang banyak atau harta yang
melimpah, apapun bisa dibelinya. Segala kebutuhannya akan dengan sangat mudah
bisa terpenuhi. Ia akan menjadi “raja” terhadap orang banyak. Misal dengan
mendirikan pabrik atau perusahaan, ia akan menjadi bos di lembaga bisnis yang
dipimpinnya itu.
Harta yang banyak itu akan membuatnya menjadi
orang penting yang akan dihormati banyak orang. Meski kehormatan karena harta
bukan kehormatan yang sesungguhnya. Saya kira, di sini bukan tempatnya untuk
membicarakan hal itu.
Pula, dengan harta yang miliki, ia bisa membeli
apa saja. Ia ingin mpbil, ia bisa beli. Ia butuh rumah, akan dengan mudah ia
mendapatkannya. Bahkan ketika ia ingin belajar apa saja, ia akan dengan mudah
bisa mengundang orang yang ahli di bidangnya untuk mengajarinya.
Nah, di sinilah titik tekan pembahasan saya.
Orang pintar menjadi “kacung” orang kaya. Atau sebaliknya, orang kaya akan
menjadi tuan bagi orang pintar.
Orang yang belajar giat, pasti tujuannya agar
menjadi pintar. Dengan ilmu yang ia miliki, ia akan menjadi orang yang mudah dan
bahagia hidupnya. Semua orang akan membutuhkannya. Ilmu yang ada dalam otaknya
akan mengantarkan ia menjadi orang sukses.
Permasalahannya adalah bagaimana jika orang
kaya dan orang pintar saling merasa berjasa. Orang kaya akan merasa bisa
membeli apa saja, bahkan ilmunya orang pintar sekalipun. Dan begitu juga
sebaliknya. Orang pintar akan merasa bisa membodohi orang kaya dan di saat yang
sama bisa mendapatkan hartanya orang kaya dengan mudah.
Lantas siapa yang benar-benar berjasa? Si kaya
atau si pintarkah? Entah.
(Tangerang Selatan, 12 November 2017)
Komentar
Posting Komentar