Langsung ke konten utama

Si Kaya Versus Si Pintar



Setiap orang memiliki tujuan dengan apa yang
telah, sedang, dan akan dilakukannya. Apapun itu. Banyak yang berorientasi pada
dunia. Dan  tak sedikit yang tujuan
akhirnya adalah akhirat. Semua itu tergantung pada pemahaman dan pengalaman orang
tersebut.




Tujuan ini pula yang menjadikan orang itu
semangat dalam bekerja. Tanpa tujuan—terlepas apakah tujuannya baik atau
buruk—orang akan bekerja dengan giat dan pantang menyerah. Ya, tujuanlah yang
akan membuat orang itu kuat dan rajin.


Dalam tulisan ini, saya mengambil contoh tujuan
orang kaya dan orang pintar.


Orang rela bekerja sehari semalam dan tanpa
mengenal lelah untuk mendapatkan uang. Saya kira tidak ada orang yang tidak
butuh uang. Apalagi kebutuhan saat ini yang sangat banyak membuat uang menjadi
tujuan utama. Dan tak jarang, orang akan menghalalkan segala  cara agar bisa mendapat pundi-pundi uang yang
banyak.


Dengan memilki uang yang banyak atau harta yang
melimpah, apapun bisa dibelinya. Segala kebutuhannya akan dengan sangat mudah
bisa terpenuhi. Ia akan menjadi “raja” terhadap orang banyak. Misal dengan
mendirikan pabrik atau perusahaan, ia akan menjadi bos di lembaga bisnis yang
dipimpinnya itu.


Harta yang banyak itu akan membuatnya menjadi
orang penting yang akan dihormati banyak orang. Meski kehormatan karena harta
bukan kehormatan yang sesungguhnya. Saya kira, di sini bukan tempatnya untuk
membicarakan hal itu.


Pula, dengan harta yang miliki, ia bisa membeli
apa saja. Ia ingin mpbil, ia bisa beli. Ia butuh rumah, akan dengan mudah ia
mendapatkannya. Bahkan ketika ia ingin belajar apa saja, ia akan dengan mudah
bisa mengundang orang yang ahli di bidangnya untuk mengajarinya.


Nah, di sinilah titik tekan pembahasan saya.
Orang pintar menjadi “kacung” orang kaya. Atau sebaliknya, orang kaya akan
menjadi tuan bagi orang pintar.


Orang yang belajar giat, pasti tujuannya agar
menjadi pintar. Dengan ilmu yang ia miliki, ia akan menjadi orang yang mudah dan
bahagia hidupnya. Semua orang akan membutuhkannya. Ilmu yang ada dalam otaknya
akan mengantarkan ia menjadi orang sukses.


Permasalahannya adalah bagaimana jika orang
kaya dan orang pintar saling merasa berjasa. Orang kaya akan merasa bisa
membeli apa saja, bahkan ilmunya orang pintar sekalipun. Dan begitu juga
sebaliknya. Orang pintar akan merasa bisa membodohi orang kaya dan di saat yang
sama bisa mendapatkan hartanya orang kaya dengan mudah.


Lantas siapa yang benar-benar berjasa? Si kaya
atau si pintarkah? Entah.


(Tangerang Selatan, 12 November 2017)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...