Langsung ke konten utama

Postingan

Makna Surat Al-Qur’an (11-20)

11. Hud Surat ini banyak berbicara tentang kisah Nabi Huda as. Meski di surat-surat lain juga disebutkan kisah tentang Nabi Hud as., tapi tidak sebanyak yang dikisahkan dalam surat ini. Tema utama surah ini, menurut al-Biqâ‘i, adalah menjelaskan tentang betapa al-Qur’an merupakan kitab yang sangat teliti serta rapi susunannya juga terperinci dalam peringatan dan berita gembiranya.
Postingan terbaru

Makna Surat Al-Qur’an (1-10)

Al-Qur’an terdiri dari 114 surat. Surat-surat itu memiliki nama-nama yang berbeda satu dengan yang lainnya. Nama dari surat-surat ini, menurut sebagian ulama, mencerminkan makna dan intisari dari surat yang berkaitan.

Nama-nama Al-Qur’an

Selain nama AL-Qur’an, sejatinya ia memiliki banyak nama. Secara sekilas, memang nama-nama tersebut seakan tak memiliki arti. Namun, jika dipahami lebih dalam, nama-nama menunjukkan bahwa ia juga memiliki fungsi yang sesuai dengan arti artau makna tersebut. Beberapa nama tersebut, antara lain, adalah sebagai berikut: Al-Qur’an Nama ini merupakan nama yang paling banyak dikenal. Setidaknya ada tiga pendapat menyangkut hal ini. Pertama, kata Al-Qur’an berasal dari kata qa-ra-a yang berarti membaca. Kedua, kata ini berasal dari kata qa-ri-nah yang berarti pasangan. Dan ketiga, berasal dari kata qa-ra-na , yang berarti mengumpulkan. Makna pertama (membaca) menunjukkan bahwa Al-Qur’an memang suatu yang hendaknya dibaca, karena ia adalah bacaan. Penekanan dari makna ini, agaknya adalah hendaknya selalu dibaca lengkap dengan segala pernak perniknya (dipelajari dan dipahami isi kandungannya). Sedangkan dari makna kedua (pasangan), kita memahami bahwa ayat-ayat Al-Qur’an memiliki keterk...

Definisi Al-Qur’an

Beragam definisi tentang Al-Qur’an yang dipaparkan para ulama. Salah satunya menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada kepada Nabi Muhammad Saw. dan membacanya dinilai ibadah . Meski ringkas, namun, definisi ini memiliki cakupan makna yang sanagt luas. Dari definisi ini, setidaknya kita akan mengetahui beberapa informasi sebagai berikut:

MENULIS VS DITULIS

Menulis memiliki banyak manfaat. Selain sebagai sarana untuk mengekspresikan isi pikiran, menulis juga berguna sebagai wahana untuk mengajak dan mempengaruhi orang lain. Bayanngkan saja, bagaimana jika para cendekiawan terdahulu tidak menulis? Bagaimana mungkin kita bisa menikmati buah pikiran mereka yang sangat cemerlang itu. Namun, menjadi penulis bukan hal yang mudah. Diperlukan skill dan konsistensi yang kuat. Menulis, bagi saya, memang bukan masalah bakat, namun kemauan. Setiap orang, saat ini, kayaknya hampir tak ada yang tak bisa menulis. Dalam skala kecil, kita terbiasa menulis pesan di hape kita, setidaknya untuk dikirim kepada saudara. Memang harus diakui tidak semua orang pandai cendekia piawai dalam menulis. Ada sebagian dari mereka yang tak bisa mengolah kata. Padahal kalau masalah ceramah dan orasi, bisa jadi dia jagonya. Namun, begitulah kehidupan. Ada yang lebih dan ada yang kurang. Yang demikian itu memang tidak bisa dipaksakan. Biarkan mereka menekuni apa yang m...

Islam, Iman, dan Ihsan

Rasulullah sedang bersama para sahabat. Syahdan, tiba seorang berbaju putih. Rambutnya hitam. Dari kondisinya, tampak ia bukan seorang musafir. Lelaki itu bertanya kepada Nabi tentang lima hal. Tiga di antaranya adalah Islam, Iman, dan Ihsan. Para ulama menilai tiga hal ini sebagai pokok-pokok agama.    Islam adalah merngejakan rukun Islam yang lima itu. Mengucap dua kalimat syahadat, mengerjakan shalat, membayar zakat, melaksanakan puasa, dan menunaikan haji bagi yang mampu.    Iman adalah percaya kepada enam hal yang biasa kita kenal dengan rukun Iman. Enam obyek iman adalah Allah, malaikat, kitab suci, nabi, hari akhir, qada’ dan qadar yang baik atau yang buruk. Sedangkan Ihsan, kata Nabi, adalah engkau menyembah (beribadah kepada) Allah, seakan engkau melihatNya. Atau kalau engkau tidak melihatNya, maka pasti Allah melihatmu. Sekilas dapat kita pahami, rukun Islam adalah ibadah fisik/zahir. Semua berkaitan dengan suatu yang bisa dilihat. Syahadat, shalat, d...

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...