Langsung ke konten utama

Acara Tahunan Blokagung Bag. 01

Salah Satu Asrama di PP. Darussalam Blokagung

Pagi ini tak seperti hari-hari biasanya, banyak sepeda motor terparkir di selatan asrama assalafiyyah, sebuah asrama yang berada di depan kantor keamanan Pondok Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi, padahal jam baru menunjukkan 05.51 WIB. Suara lantunan sholawat habsyi sedang mengguncang bumi Darussalam. Suara merdu para habaib dan beberapa kang santri ikut memeriahkan acara pembacaan sholawat habsyi dalam rangka memperingati haul Almarhum Almaghfurlah KH. Mukhtar Syafa’at Abdul Ghofur, pendiri sekaligus pengasuh pertama Pondok Pesantren Darussalam. Acara semakin meriah dengan iringan organisasi rebana dan sholawat Liwa’ul Muridin, sebuah organisasi sholawat dibawah asuhan PP. Darussakam. Sesekali terdengar juga suara pengumuman untuk melaksanakan ro’an (istilah untuk kegiatan kerja bakti) kebersihan total demi untuk menjaga kelancaran acara yang di adakan setiap setahun sekali ini, sekaligus untuk menambah rasa khidmad dalam mempringati haul almarhum. Udah sampek disini dulu prolognya. Yang membuat aku bertanya-tanya (walaupun toh aku juga tahu jawabannya), kok bisa ya mbah yai Syafa’at memperoleh kemulyaan sebesar ini?. Jelasnya jawabannya karena memang beliau sangat dekat dengan sang maha pencipta, Allah swt dengan selalu mengerjakan perintah dan meninggalkan larangannya. Namun, dibalik itu semua, ada amal sirri almarhum yang harus kita tiru. Salah satunya adalah beliau sangat ikhlas dalam memperjuangkan sekaligus ngopeni agama Allah swt. Ini terbukti dengan pendirian pondok pasantren Darussalam yang sampai saat ini masih eksis dalam membantu mendidik putra-putri bangsa baik secara formal ataupun nonformal. Ini terbukti bahwa saat ini pondok pesantren Darussalam memiliki unit pendidikan dari tingkat PAUD sampai perguruan tinggi. Beliau sangat mengikuti dan berpegang teguh dalam mengamalkan ajaran tasawwuf utamanya yang di ajarkan Shekh Abu Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Ghozali atau yang sering kita sebut dengan Imam Ghozali dan tertera dalam kitab Ihya’ Ulumiddin. Mamang dalam berpegang teguh pada ajaran agama islam, rosulullah pernal mensinyalir dalam sebuah hadistnya, “akan datang suatu masa dimana orang yang berpegang teguh pada agama itu seperti orang yang memegang bara api” dapat kita bayangkan bagaimana keadaan orang yang sedang memegang bara api, yang jelas bara api itu di pegang terasa panas, tapi kalau dibiarkan begitu saja, pasti ia akan padam. Sepertinya masa yang nabi Muhammad katakan itu sedah tiba, yaitu saat ini. Di tambah lagi, kecanggihan tekhnologi yang tidak terbendung lagi dan kemudahan mendapatkan informasi yang hampir semua lapisan masyarakat bisa menikmatinya. Namun dibalik itu semua, terdapat bahaya yang sangat besar jika kita tidak dapat menfilternya dengan berbekal dengan baik. Lha mungkin ini yang menjadi bukti bahwa berpegang teguh pada ajaran agama sangatlah sulit dan besar cobaannya.
Saat ini suara lantunan sholawat habsyi telah usai, banyak para santri yang sedang sibuk dengan penggaweyane dewe-dewe. Ada yang sibuk ngurus akomodasi, yang jadi peladen sibuk dengan nasi dan lauk pauknya, terdengar juga suara sebagian santri putri di pawon ndalem kyai mayskuri yang sedang ngirisi brambang, malah ada juga yang sibuk mempersiapkan dirinya sendiri guna untuk untuk mendengarkan taushiyah dari Dr. KH. Said ‘Aqil Sirajd, ketua umum PBNU yang baru, yang menggantikan KH. Hasyim Muzadi. Namun itu semua, aku yakin mereka hanyalah ingin mendapatkan barokah dari KH. Mukhtar syafaat abdul ghofur, amin ya robbal ‘alamin.

Blokagung, 01 Juli2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...