Langsung ke konten utama

Siapakah Teman Kita?



Manusia dilahirkan sebagai Zoon Political, yakni sebagai makhluk sosial yang keberadaannya tidak bisa hidup sendiri, selalu membutuhkan orang lain. Bukan dalam satu aktifitas saja, tapi pada seluruh aktifitas kesehariaannya.
Oleh sebab itu, manusia dituntut untuk bisa berinteraksi dengan orang lain, berbuat baik, dan selalu menghormatinya. Tapi yang perlu diingat, kadang perbuatan baik kita tidak selamnya (selalu) di sambut hangat oleh lawan interaksi kita, ya itulah manusia dengan segala keberagamannya. Jadi kita harus senantiasa menerima perlakuan dari mereka, apapun itu bentuknya.
Manusia diciptakan dengan model yang berbeda-beda, ada yang lemah lembut, sedang, dah bahkan ada berkepala batu (keras kepala).
Al Insanu Nau’ Nau’ (manusia itu bermacam-macam). Itulah satu rangkaian kalimat yang mungkin biasa kita dengar. Memang benar sih, kalau kita mau menelaah lebih jauh, yang mungkin ini di sebabkan oeh faktor gen.
Berdasarkan keberagaman manusia inilah, ia (manusia) di tuntut untuk lebih bisa memahami karakter orang lain.
“Sahabat”, mungkin itulah satu kata untuk seseorang  yang lebih bisa memahami karakter kita. Sahabat sejati adalah oarang yang selalu ada di manapun kita berada dan di seluruh keadaan kita, bukan saat kita dalam keadaan senang saja. Ia (sahabat sejati) akan selalu mengingatkan kita di saat kita lupa, selalu membantu kita di saat kita membutuhkan bantuan, dan selalu menasehati kita di saat kita salah. Sahabat sejati adalah seseorang yang selalu mendekatkan kita kepada Allah SWT.
Namun sebaliknya, sahabat yang buruk ialah ia yang hanya berada di saat dunia mendekati kita. Di saat, dunia menjauh, ia juga akan menjauh dari kita. Na’udzubillah...
Sahabat yang seperti itu ibarat sebuah bayangan, yang akan selalu muncul di saat siang hari saja (dunia terang), dan akan sirna jika malam telah tiba.
Malah, sikap seseorang bisa diketahui, jangan bertanya langsung kepada orang itu, tapi kita lihat saja dengan siapa ia bergaul, karena perilaku teman (sahabat) akan sangat mudah mempengaruhi keperibadian seseorang.
Semisal si Fulan berteman dengan seorang teman yang sangat rajin pergi ke maqom, dapat kita pastikan bahwa fulan juga senang pergi ke maqom.
Kalau kita, berteman dengan orang yang berkepribadian baik, secara perlahan dan tanpa kita sadari pasti kebiasan teman kita itu akan kita tirukan. Untung kalau kebisaan teman kita itu baik, lha kalau buruk, kita sendiri juga yang akan menaggung resikonya.
Jadi, kita harus berhati-hati dalam memilih teman.
Be carefull bro....!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...