Manusia dilahirkan sebagai Zoon Political, yakni sebagai makhluk sosial yang keberadaannya tidak bisa hidup sendiri, selalu membutuhkan orang lain. Bukan dalam satu aktifitas saja, tapi pada seluruh aktifitas kesehariaannya.
Oleh sebab itu, manusia dituntut untuk bisa berinteraksi dengan orang lain, berbuat baik, dan selalu menghormatinya. Tapi yang perlu diingat, kadang perbuatan baik kita tidak selamnya (selalu) di sambut hangat oleh lawan interaksi kita, ya itulah manusia dengan segala keberagamannya. Jadi kita harus senantiasa menerima perlakuan dari mereka, apapun itu bentuknya.
Manusia diciptakan dengan model yang berbeda-beda, ada yang lemah lembut, sedang, dah bahkan ada berkepala batu (keras kepala).
Al Insanu Nau’ Nau’ (manusia itu bermacam-macam). Itulah satu rangkaian kalimat yang mungkin biasa kita dengar. Memang benar sih, kalau kita mau menelaah lebih jauh, yang mungkin ini di sebabkan oeh faktor gen.
Berdasarkan keberagaman manusia inilah, ia (manusia) di tuntut untuk lebih bisa memahami karakter orang lain.
“Sahabat”, mungkin itulah satu kata untuk seseorang yang lebih bisa memahami karakter kita. Sahabat sejati adalah oarang yang selalu ada di manapun kita berada dan di seluruh keadaan kita, bukan saat kita dalam keadaan senang saja. Ia (sahabat sejati) akan selalu mengingatkan kita di saat kita lupa, selalu membantu kita di saat kita membutuhkan bantuan, dan selalu menasehati kita di saat kita salah. Sahabat sejati adalah seseorang yang selalu mendekatkan kita kepada Allah SWT.
Namun sebaliknya, sahabat yang buruk ialah ia yang hanya berada di saat dunia mendekati kita. Di saat, dunia menjauh, ia juga akan menjauh dari kita. Na’udzubillah...
Sahabat yang seperti itu ibarat sebuah bayangan, yang akan selalu muncul di saat siang hari saja (dunia terang), dan akan sirna jika malam telah tiba.
Malah, sikap seseorang bisa diketahui, jangan bertanya langsung kepada orang itu, tapi kita lihat saja dengan siapa ia bergaul, karena perilaku teman (sahabat) akan sangat mudah mempengaruhi keperibadian seseorang.
Semisal si Fulan berteman dengan seorang teman yang sangat rajin pergi ke maqom, dapat kita pastikan bahwa fulan juga senang pergi ke maqom.
Kalau kita, berteman dengan orang yang berkepribadian baik, secara perlahan dan tanpa kita sadari pasti kebiasan teman kita itu akan kita tirukan. Untung kalau kebisaan teman kita itu baik, lha kalau buruk, kita sendiri juga yang akan menaggung resikonya.
Jadi, kita harus berhati-hati dalam memilih teman.
Be carefull bro....!!!

Komentar
Posting Komentar