Langsung ke konten utama

Bung Tomo Era Sekarang



Di bulan (nopember) ini dulu, bung Tomo meneriakkan kalimat Laa Ilaha Illallah untuk memperjuangkan nasib masyarakat suroboyo. Dengan ketegasan sikap yang dimilikinya, mampu membangkitkan semangat arek-arek suroboyo agar mau melawan dan mengusir kesewenang-wenanagan kolonial belanda dari bumi indonesia tercinta kita ini. Dan pada akhirnya-dengan izin Allah SWT-belanda dengan tunggang langgang  mau (dengan terpaksa) meninggalakan negara kesatuan republik indonesia (NKRI). Yang kemudian, untuk mengenang dan menghormati perjuangan arek-arek suroboyo yang dipelopori oleh bung Tomo, maka tanggal 10 nopember dijadikan sebagai hari pahlawan.
Dalam membela negara, yabg perlu kita catat, bung tomo tidak hanya mempertaruhkan harta dan tenaga, tapi juga nyawa yang menjadi jaminannya. Bahkan yang lebih mencengangkan kita ialah dalam berperang melawan penjajahan belanda, ia bersama arek-arek suroboyo hanya menggunakan bambu runcing, tombak, ketepil, dan senjata seadanya, padahal antek-atek belanda saat itu sudah bersenjata lengkap seperti layaknya zaman sekarang.
Kalau bung tomo dan arek-arek suroboyo saja mau membela negara dengan mempertaruhkan harta, tenaga bahkan nyawa, ditamabah lagi dengan fasilitas yang kurang memadai (seadanya), lalu bagaimana dengan kita? Apa yang dapat kita sumbangkan kepada negara? Padahal sudah jelas dalam sebuah maqolah disebutkan Hubbul Wathon Minal Iman” (cinta tanah air itu sebagian dari iman). Mafhum mukholafahnya, “belum sempurna iman seseorang  selama ia tidak mencintai tanah airnya”. Jadi membela negara hukumnya wajib.
Namun yang harus kita garis bawahi, musuh kita saat ini bukan lagi tembak, pistol, brem atau sejenisnya yang di pakai dalam genjatan senjata (baca: perang secara fisik) seperti zaman bung tomo dulu, melaikan virus yang selalu disebarkan oleh kalangan barat dalam bingkai budaya (nonfisik). Dimana secara terang-terangan budaya kita  telah tergerus oleh budaya luar yang jelas-jelas bertentangan dengan adat dan etika kesopanan di indonesia sendiri, semisal remaja-remaja indonesia-khususnya wanita-sudah enggan lagi memakai jilbab dan baju yang menutup aurat, mereka malah menyukai pakaian yang jika di pakai, aurat kita bisa dengan mudah di lihat orang alain, atau dalam bahasa kerennya “you can see”. Kalau dikaji lebih dalam lagi, malah sebenarnya musuh model inilah yang sangat sulit untuk di berantas, karena kita sebagai korbannya tidak merasa terusik dan terganggu, dan yang lebih parah lagi, kita malah merasa enjoy dan nikmat. Na’udzubillah min dzalik.......
Terus apa yang seharuisnya kita lakukan? Tentunya, dengan menguatkan iman, lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, perbanyak pengetahuan tentang ilmu agama (islam), perbanyak informasi, dan selalu hati-hati, agar kita menjadi bung tomo era sekarang.
Mungkin, hanya ini yang bisa kami tuliskan, semoga bermanfaat.
Salam Darussalam!





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...