Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2011

Jeritan Hati

saat semua terlelap dalam keindahan saat semua menikmati malam-malamnya dengan pebuh kenikmatan saat semua orang sedang asyik dengan pekerjaannya masing-masing saat….. saat………. saat…………. ku hanya seorang diri sebatang kara disini, tanpa ada yang menemani sedih dan duka, menderita dalam senang suka dalam luka jeritan hati kala fajar dikkomda, 25-2-2011 03.55 wis

Mana Pengabdian Kita?

Hari ini, seperti biasanya setiap hari jumat, pesantren libur. Mulai dari tadi malam sampai nanti menjelang petang nggak ada kegiatan yang bersifat resmi dan mengikat. Yang ada hanya kegiatan ekstrakulikuler, itupun hanya bagi mereka yang mau saja, yang tidak mau mau ngapapin aja ya terserah, asalkan tidak melanggar peraturan yang telah ditetapkan. Karena tak ada kegiatan, saya berencana untuk ke kantor redaksi. Kamar saya di asrama Al Hikmah yang biasanya ada kegiatan saja, jumat kali ini juga tidak ada kegiatan sama sekali, mungkin masih belum konsen pasca liburan maulid kemarin. Secara tidak sengaja, tiba-tiba terlintas dalam hati saya, “ini salah siapa ya….kok sampai tidak ada kegiatan, tapi yang jelas ini salah santri yang besar karena tak mengurusi teman-temannya yang masih baru dan yang kecil”. Dan ini yang akan menjadi bahan tulisan saya kali ini. Budaya yang telah berlaku di pesantren adalah bagi siapa yang sudah lama di pesantren, maka harus membantu tema...

Jika Mbah Marijan Pimpin Mesir

Setelah mendengar kabar tentang demo besar-besaran di Mesir yang melibatkan sejuta masa demi untuk menjatuhkan rezim Husni Mubarak yang telah berkuasa 30 tahun, keinginan saya untuk melanjutkan studi saya ke universitas Al Azhar Kairo Mesir mulai agak surut. Apalagi, ditambah kabar semakin tidak terjaminnya masalah keamanan dan semakin mahalnya biaya kehidupan disana. Dievakuasinya warga Indonesia dari negeri piramida itu juga semakin membuat saya pesimis tentang ada tidaknya pendaftaran Al Azhar tahun ini. Padahal menurut orang yang akan membantu mengurusi proses pendaftaran saya, pendaftaran biasanya dibuka bulan mei setiap tahunnya. Menurut saya, kalau sampai bulan kelima itu keadaan Mesir belum juga reda, tidak akan ada pendaftaran ke universitas islam terbesar di dunia itu. “Lha wong yang disana aja dipulangkan, masak yang dari indonesia mau berangkat kesana, kan lucu….” itu kata hati saya. Walaupun keadaan disana saat ini sudah mulai reda, saya masih agak ragu t...

Nomer Telepon untuk Al Azhar

Hari ini saya sibuk mencari nomer telepon seorang teman yang telah pulang dari mesir. Dia pulang karena ikut proses evakuasi pasca demo besar-besaran menuntut turunnya presiden husni mubarak setelah 30 tahun berkuasa di negeri piramid itu. Tujuan saya mencari nomer telepon temen saya itu karena saya ingin bersilaturrahmi ke rumahnya. Jadi, ingin saya membuat janji dulu, biar entar kalau saya jadi berkunjung ke rumah teman saya itu, dia benar-benar ada di rumah. Memang, sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) dulu, saya bercita-cita ingin melanjutkan studi saya di negeri nabi musa itu. Entah apa alasannya, sehingga saya menjatuhkan pilihan untuk menuntut ilmu di negeri yang baru saja terjadi demo besar-besaran itu. “Cak Bis gak nduwe hud…” kata salah seorang teman saya. Itu adalah pemberitahuan teman saya kepada saya karena memang saya sudah dari kemarin ingin mencari nomer teman saya itu. “Cak Bis” adalah teman saya juga yang juga pulang dari Mes...

Jangan Seperti Ayah Nak….!!!

Di pagi dini hari ini saya berniat untuk tidak tidur sampai matahari memperlihatkan cayahanya. Saat ini, jam dinding di kantor media kepenulisan Darussalam menunjukkan pukul 01.30 WIS. Saya sangat capek sekali karena dari mulai jam 20.30 WIS saya tidur dan baru bangun barusan ini. Setelah saya melihat komputer yang ada di kantor redaksi kok nggak di pakai, tiba-tiba ada keinginan untuk menulis tanpa tahu apa yang akan saya tulis pada catatan kecil saya kali ini. Tapi dari kemarin saya berkeinginan untuk menuliskan apa yang dikatakan ayah saya kepada saya beberapa waktu yang lalu. Begini ceritanya. Sekitar dua bulan yang lalu, waktu saya berbincang-bincang dengan ayah saya tentang rencana kuliah saya di mesir, tiba-tiba ayah saya mengatakan suatu hal yang menurut saya beliau tak pernah mengatakan sebelumnya kepada saya dan mungkin kepada semua anaknya. “kalau bisa kamu besok harus seperti paman kamu itu, jadi PNS yang gajinya tiap bulannya sudah ada yang jamin. Kalau bisa...

Alangkah Berharganya Waktu

Pagi ini sebenarnya tujuan saya ke perpustakaan hanya ingin meng upload tulisan di kompasiana. Karena memang di perpus (singkatan dari “perpustakaan”) terpasang jaringan internet. Saya sangat bersyukur sekali karena petugas yang menjaga perpus semua adalah teman saya, jadi saya bisa menggunakan jasa internet yang berada di sana secara leluasa. Pagi sekali setelah sholat shubuh, saya memabaca al qur’an. Setelah itu, sambil ditemani satu sachet kopi dan sepotong roti tawar, saya membaca sebuah buku karangan mantan presiden RI, bapak Bacharuddin Jusuf Habibie yang berjudul “Habibie & Ainun”. Sesekali say berbincang dengan seorang teman yang sejak kemarin kurang enak badan. Matahari mulai bersinar menampakkan cahaya terangnya, pertanda waktu sudah memasuki sekitar jam 06.30 WIS (waktu istiwak). Waktu istiwak adalah waktu yang biasa digunakan oleh orang islam untuk menandai masuknya waktu beribadah (sholat). Saya pun langsung bergegas menuju asrama mujahidin yang saat ini...

Karya Mantan Presiden RI

Walaupun saya baru membaca buku “Habibie & Ainun” karangan mantan presiden RI, bapak bacharuddin jusuf habibie sampai pada halaman 11, saya bias menympulkan bahwa buku itu sangan “INSPIRATIF” sekali. Buku yang di tulis untuk dipersembahkan buat sang istri itu sarat dengan hikmah. Lembar demi lembar, bab demi bab yang saya baca selalu mampu membangkitkan semangat saya. Apalagi pada bab yang menceritakan keberhasilan bapak Habibie, semangat saya sedikit demi sedikit langsung melecut tinggi. Awalnya, saya mengetahui tentang buku itu dari koran yang saya baca di kantor pesantren pada malam jum’at beberapa hari yang lalu. Malam itu saya sengaja berkunjung ke kantor pesantren karena kegiatan rutin yang biasanya digelar di pesantren libur. Ini karena mungkin salah informasi yang saya dan teman-teman terima. Juga karena kesibukan teman-teman. Biasanya, kalau pas malam jum’at, saya dan teman-teman yang terkumpul dalam “Maziyyatul Fata” mengadakan latihan pidato di depan masji...

Hidup Memang Harus Memilih

Intropeksi diri sangatlah penting untuk dilakukan. Saya sendiri baru-baru ini merasakan sendiri. Setelah saya melakukan pengoreksian dalam diri saya, saya mempunyai satu pertanyakan untuk diri saya sendiri, “mau kemana aku besok (cita-cita)?” kalau pertanyaan ini bisa saya jawab dengan seingkat, “saya ingin jadi pelajar yang bisa keliling dunia”, itu kata hati saya. Lantas muncul lagi pertanyaan kedua yang masih ada kaitanyya dengan yang awal, “apa bekal yang akan saya bawa untuk masa depan saya”. Ya…. yang ini sepertinya membutuhkan satu pemikiran khusus bagi saya. Saya pikir satu demi satu apa bakat saya, ini agak bisa, itu agak lumayan gambang bagi saya, la yang itu sepertinya mudah juga, “yang mana ya… yang akan saya andalkan demi untuk meraih cita-cita saya itu??”. Karena saya hidup di dunia pesantren, jadi saya bisa memilih ilmu apapun ingin saya pelajari. Bahasa inggris, bahasa arab, musik, komputer, al qur’an, kitab, pidato, dan menulis semuanya pernah saya pelaja...

Negara, Hutan atau Pasar?

Alangkah lucunya negeri ini, yang kuat semakin kuat dan yang lemah makin nggak karuan sengsaranya. Yang lemah jika ketahuan nyolong ayam aja di keroyok orang sekampung, tapi bayangkan, jika yang ngutil uangnya negara bisa ngantongi bertriliun rupiah, apa hukuman mereka? Mungkin hanya di jerat pasal sekian degan hukuman minimal sekian tahun penjara dan denda sekian juta. Sungguh nggak sebanding. Kalau begitu, jangan salahkan rakyat kecil-kalau saya boleh mengibaratkan-mereka jadi seperti seekor ayam yang semakin manggila bak seekor harimau atau gajah yang sedang terusik oleh keberadaan induknya yang semakin tak tau posisi mereka masing. Induk yang seharunya mengajari anaknya untuk mengaong dengan sekera-kerasnya, malah mereka ajarkan mengembek atau bahkan diam. Induk yang seharusnya mengajarkan tentang kebenaran malah mengajarkan kebodohan. Astaghfirullahal 'adzim.... "Buah tak jatuh jauh dari pohonnya". Kalau yang ditiru saja kurang benar, jangan salahkan rakyat jika mere...