Intropeksi diri sangatlah penting untuk dilakukan. Saya sendiri baru-baru ini merasakan sendiri. Setelah saya melakukan pengoreksian dalam diri saya, saya mempunyai satu pertanyakan untuk diri saya sendiri, “mau kemana aku besok (cita-cita)?” kalau pertanyaan ini bisa saya jawab dengan seingkat, “saya ingin jadi pelajar yang bisa keliling dunia”, itu kata hati saya. Lantas muncul lagi pertanyaan kedua yang masih ada kaitanyya dengan yang awal, “apa bekal yang akan saya bawa untuk masa depan saya”. Ya…. yang ini sepertinya membutuhkan satu pemikiran khusus bagi saya. Saya pikir satu demi satu apa bakat saya, ini agak bisa, itu agak lumayan gambang bagi saya, la yang itu sepertinya mudah juga, “yang mana ya… yang akan saya andalkan demi untuk meraih cita-cita saya itu??”. Karena saya hidup di dunia pesantren, jadi saya bisa memilih ilmu apapun ingin saya pelajari. Bahasa inggris, bahasa arab, musik, komputer, al qur’an, kitab, pidato, dan menulis semuanya pernah saya pelajari.
Saya ingat apa yang dikatakan oleh guru saya kepada saya, apalagi beliau menasehati saya tidak hanya satu kali, “kamu itu semua bisa, tapi pesan saya harus ada satu ilmu yang harus kamu unggulkan” pesan guru saya.
Setelah saya pikir-pikir, benar juga ya. Hidup memang harus memilih. Berangkat dari sesuatu yang saya alami itu, saya bisa berpendapat, “hanya seribu satu orang yang bisa menggabungkan apa yang ia bisai”
Tapi masalahnya sekarang, “apa ya yang akan saya unggulkan?” pertanyaan itu yang selalu menghatui saya setiap saat. Saya yakin, ini unjia sekaligus tantangan buat saya. Jadi orang itu harus totalitas.
Saya ingat, beberapa waktu lalu ketika saya melihat televisi, diberitakan bahwa Cristian Musthofa Habibi Gonzales, salah satu pemain sepak bola timnas indonesia, ditawari main film di acara “Islam KTP”, dalam infotainment yang saya lihat itu, gonzales awalnya menolak twaran itu, namun karena atas anjuran sang istri, akhirnya ia mau menerimanya. “Apa alasan gonzales menolaknya”, karena ia ingin TOTALITAS dalam sepak bola.
Kemarin waktu saya berbincang dengan salah seorang teman, ia memberi saya satu solusi. “gini kang….ada seorang ibu yang memeberi nasehatr kepada saya, kata ibu itu, “kita itu saat ini harus memilih apa yang akan kita prioritaskan dulu (baca:totalitas), kemudian kalau itu berhasil, setelah itu kita mulai lagi untuk men-TOTALITAS-kan bakat kita yang lain””.
Setelah saya pikir-pikir, benar juga apa yang dikatakan teman saya itu.
Cacatan kecil untuk mengingatkan diri bahwa hidup itu harus memilihdan totalitas.
(Blokagung, kala matahari mulai hampir di tengah-tengah atas kepala (baca:dhuhur). Senin, 21 Pebruari 2011)
Komentar
Posting Komentar