Langsung ke konten utama

Alangkah Berharganya Waktu

Pagi ini sebenarnya tujuan saya ke perpustakaan hanya ingin meng upload tulisan di kompasiana. Karena memang di perpus (singkatan dari “perpustakaan”) terpasang jaringan internet. Saya sangat bersyukur sekali karena petugas yang menjaga perpus semua adalah teman saya, jadi saya bisa menggunakan jasa internet yang berada di sana secara leluasa.
Pagi sekali setelah sholat shubuh, saya memabaca al qur’an. Setelah itu, sambil ditemani satu sachet kopi dan sepotong roti tawar, saya membaca sebuah buku karangan mantan presiden RI, bapak Bacharuddin Jusuf Habibie yang berjudul “Habibie & Ainun”. Sesekali say berbincang dengan seorang teman yang sejak kemarin kurang enak badan.
Matahari mulai bersinar menampakkan cahaya terangnya, pertanda waktu sudah memasuki sekitar jam 06.30 WIS (waktu istiwak). Waktu istiwak adalah waktu yang biasa digunakan oleh orang islam untuk menandai masuknya waktu beribadah (sholat). Saya pun langsung bergegas menuju asrama mujahidin yang saat ini masih dalam tahap pembangunan. Tujuan saya ingin bantu-bantu, walaupun, saya yakin apa yang saya lakukan itu tak sebanding dengan apa yang teman-teman saya kerjakan untuk asrama yang berada di samping kolam itu. Karena mereka bekerja dari pagi hingga siang membenahi asrama. Dan saya, hanya mencuci piring dan perabot dapur lainnya yang nantinya akan dipakai memasak. Suatu tindakan yang tak sebanding.
Setelah semua perabot selesai saya cuci, saya bergegas mempersiapkan diri. Dengan berpakaian pakaian jas yang kantongnya telah berisi sebuah flashdis, sekitar jam 08.30 WIS saya berangkat ke perpus.
Ketika saya tiba di perpus, ternyata pintu perpus tertutup. Namun setelah saya mendekat, ternyata hanya di tutup saja dan tidak terkunci. Saya masuk, dan di dalam perpus ada semua petugas perpus tengah mengadakan rapat. Tanpa basa-basi, setelah saya bersalaman dengan mereka semua, saya langsung mendekati sebuah komputer yang mengahadap utara. Flashdisk saya masukkan, dan mulailah saya melakukan peng-upload-an. Rencana awal saya pergi ke perpus adalah hanya ingin meng-upload sebuah tulisan, ternyata saya tergoda oleh rayuan internet. Waktu yang sebenarnya bisa saya gunakan untuk kegiatan yang lain, malah habis buat browsing dan chatting. Saya bertanya ke seorang teman saya, “jam berapa kang…?”. “seteangah dua belas” jawabnya. Tat terasa, kurang lebih 3 jam saya berada di perpus, saya langsung bergegas untuk kembali ke asrama.
*Sebuah catatan kecil untuk mengingatkan diri akan pentingnya waktu.
(Blokagung, kala adzan ashar berkumandang. Selasa sore, 22 Pebruari 2011)
Salam kompasiana
Abdurrahaman Al Ahabary (nama pena)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...