Langsung ke konten utama

Jika Mbah Marijan Pimpin Mesir

Setelah mendengar kabar tentang demo besar-besaran di Mesir yang melibatkan sejuta masa demi untuk menjatuhkan rezim Husni Mubarak yang telah berkuasa 30 tahun, keinginan saya untuk melanjutkan studi saya ke universitas Al Azhar Kairo Mesir mulai agak surut. Apalagi, ditambah kabar semakin tidak terjaminnya masalah keamanan dan semakin mahalnya biaya kehidupan disana. Dievakuasinya warga Indonesia dari negeri piramida itu juga semakin membuat saya pesimis tentang ada tidaknya pendaftaran Al Azhar tahun ini. Padahal menurut orang yang akan membantu mengurusi proses pendaftaran saya, pendaftaran biasanya dibuka bulan mei setiap tahunnya. Menurut saya, kalau sampai bulan kelima itu keadaan Mesir belum juga reda, tidak akan ada pendaftaran ke universitas islam terbesar di dunia itu. “Lha wong yang disana aja dipulangkan, masak yang dari indonesia mau berangkat kesana, kan lucu….” itu kata hati saya. Walaupun keadaan disana saat ini sudah mulai reda, saya masih agak ragu tentang ada tidaknya pendaftaran tahun ini.
Menurut saya, apa yang dilakukan oleh presiden Mubarak itu “kurang” bahkan “tidak” memperhatikan kepentingan rakyat, atau hanya mementingkan diri sendiri. Berbeda dengan mbah Marijan, yang selalu mengutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi.
Apalagi, namanya semakin mencauat pasca letusan gunung merapi tahun 2006 lalu, yang akhirnya membuat dirinya menjadi artis iklan salah satu produk minuman berenergi. Menurut salah satu sumber yang pernah saya baca, hasilnya yang beliau dapatkan dari produk minuman yang dibintanginya itu tidak beliau makan sendiri, melainkan dibuat untuk mendirikan mushola (tempat sholat, masjid kecil) di daerahnya.
Kakek tua yang didaulat menjadi penjaga gunung teraktif sedunia itu, sampai akhir hayatnya masih dalam menjalankan tugas mulianya itu. Sebagai imbalannya, mbah Marijan wafat dalam keadaan sedang sujud menjalankan sholat maghrib, suatu keadaan wafat yang sangat dirindukan oleh semua umat islam. Mbah Marijan yang dengan sifat rendah harinya itu malah membuat dirinya semakin dikenal massa, walaupin beliau sendiri tak ingin terkenal.
Dari sini, dapat ditarik kesimpulan bahwa apabila pemimpin Mesir seperti mbah Marijan (yang tak tergiur dengan gemerlapnya dunia), saya yakin tak akan ada demonstrasi yang mengakibtakan kematian baik dari kalangan demonstran maupun militer itu yang pada ujung-ujungnya juga membuat keselamatan teman-teman kita disana terancam.
*Catatan kecil saya tentang apa yang terjadi di negeri yang rencananya akan saya tempati untuk menuntut ilmu kelak.
(Blokagung, kala lantunan Al Quran mulai menghiasai perpindahan sore ke malam hari ini. Kamis sore, 24 Pebruari 2011M, 18.10 WIS (Sekitar 17.22 WIB))
Semoga bermanfaat
Salam kompasiana
Abdurrahman Al Ahbary (nama pena)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mengenal Kitab Tafsir

Nazhm al-Durar al-Biqa'i KATA PENGANTAR Kepala sama berambut, kecerdasan beda. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan bahwa isi kepala setiap orang pasti berbeda, meski antar satu dengan yang lainnya memiliki ilmu yang sama atau belajar di tempat yang sama. Hal itu juga berlaku dalam dunia penafsiran. Dan karena juga didukung oleh kecenderungan yang berbeda pula, akhirnya, perbedaan dalam penafsiran adalah hal yang wajar. Dalam makalah ini, dibahas tentang bagaimana tafsir Nazhm al-Durar karya al-Biqa’i. Semoga bisa memberikan gambara—meski sangat singkat dan terbatas—kepada para pembaca. Semoga. Jakarta, 21 Desember 2017    Penulis PEMBAHASAN Biografi Penulis Nama lengkap al-Biqa’i adalah Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Ribath bin Ali bin Abi Bakar Abu Hasan Burhanuddin al-Biqa’I asy-Syafi’i. [1] Adil Nuwaihid menyebut nama lengkap al-Biqa’i hanya dengan Ibrahim bin Umar. [2] Lahir pada tahun 809 H. di desa al-Biqa’i, Syiria. Kemudian ia tinggal dan menetap di Damask...

Malam yang Sunyi

Malam ini tak seperti biasanya, gelap gulita karena ada gangguan aliran listrik. Keadaan begitu sepi dan sunyi, seperti sebuah gua yang tak berpenghuni. Terdengar suara teriakan teman teman karena memang ini merupakan malam discount . Bisa jadi suara sorak gembira, namun ada juga yang tak bersuara apapun, karena mungkin mereka telah keburu terlelap tidur. Namun saya yakin, bagi sebagian teman ada yang merasa kecewa, karena tak bisa melaksanakan kegiatan seperti biasa.  Tak terasa pada malam ini juga, seseorang yang telah sekitar satu setengah tahun saya kenal telah memasuki usianya yang ke delapanbelas, seseorang yang begitu berarti bagiku. Walaupun usia bertambah, tapi sebenarnya malah berkurang, karena kontrak seseorang di dunia semakin lama semakin berkurang. Sepertinya, tak bisa ku teruskan tulisan saya ini, karena baterai netbook yang saya pakai sudah hamper habis. Wassalam………. Blokagung, 21 juli 2010

Pendidikan: Banyak Jalan Menuju Faham

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju faham. Beberapa hari yang lalu. Saya ke Banyuwangi. Menjenguk ayah yang sedang sakit. Dalam kesempatan itu, saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pondok pesantren Darussalam Blokagung. Sekedar bertemu dengan teman2 yang masih disana. Melepas rindu. Tukar pengalaman. Di sana, saya bertemu sahabat saya, Tiar. Saat ini dia menjadi abdi dalem di salah satu pengasuh pesantren Darussalam. Dia bercerita bahwa tahun lalu dia menerapkan model pembelajaran nahwu yang unik. Kreatif. Inofatif. Dan tentunya praktis. Kebetulan tahun lalu, ia mengajar pelajaran nahwu. Nahwu adalah grammar-nya bahasa arab. Satu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa arab. Teman saya itu, di kelasnya, membuat metode pengajaran nahwu yang sedikit berbeda dengan konsep dan sistematika yang ada di kitab-kitab salaf (kutubut turots). ''Pembagian i'rab yang begitu banyaknya itu saya bagi menjadi 10 bagian'' katanya. Dalam pel...